TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri panas bumi di Indonesia dinilai memiliki daya tarik investasi yang semakin kuat seiring gencarnya upaya transisi energi nasional.
Pengamat energi, Elrika Hamdi, menyoroti bahwa aktivitas eksplorasi dan eksploitasi lapangan panas bumi yang tengah berjalan saat ini menjadi pendorong minat investor global.
Menurut Elrika, potensi pertumbuhan sektor ini tercermin nyata dari kinerja keuangan dan operasional PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) yang mencatatkan rapor hijau sepanjang tahun 2025.
Elrika, yang juga merupakan Anggota Dewan Pengawas Rumah Energi, menilai bisnis PGEO memiliki ruang gerak yang sangat luas untuk berkembang. Hal ini didorong oleh ketersediaan sejumlah lapangan panas bumi yang saat ini dalam tahap pengembangan intensif.
"Kinerja keuangan PGEO yang baik menandakan kemampuan manajemen dalam mengatur performa perusahaan secara keuangan maupun risiko teknis. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor karena adanya potensi eksploitasi lebih lanjut," ujar Elrika.
Baca juga: Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Analis Nilai Prospek PGEO Masih Menarik
Sepanjang tahun buku 2025, PGEO berhasil membukukan pendapatan sebesar 432,73 juta dolar AS dengan laba bersih mencapai 137,67 juta dolar AS.
Perusahaan juga mencatatkan rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah dengan total listrik yang dihasilkan mencapai 5.095,48 GWh, meningkat 5,55 persen dibanding tahun sebelumnya.
Elrika menuturkan bahwa di antara berbagai sumber energi terbarukan, energi panas bumi sering disebut sebagai energi yang stabil dan paling efisien karena memiliki capacity factor mencapai 90 persen dan berjalan sepanjang hari.
Namun, menurut dia, sebelum sampai tahap eksploitasi, pengembangannya memerlukan waktu panjang, terutama tahap awal, yakni pendekatan kepada masyarakat sekitar wilayah yang kerap tidak mudah menerima lingkungannya dikembangkan menjadi proyek panas bumi.
“Kalau sudah beroperasi, pembangkit listrik panas bumi umumnya kinerjanya baik dan menguntungkan. Namun, tantangan utama justru berada pada proses awal identifikasi hingga ke eksplorasi, yang memerlukan waktu cukup panjang dan penuh risiko,” ujar mantan Deputy Head Just Energy Transition Partnership (JETP) ini.
Kinerja solid di sektor panas bumi ini dinilai sejalan dengan cita-cita pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034.
Pemerintah menargetkan kapasitas pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) mencapai 76 persen, di mana panas bumi diproyeksikan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 GW.
Keberhasilan PGEO dalam mengoperasikan PLTP Lumut Balai Unit 2 menjadi salah satu bukti penambahan kapasitas terpasang nasional.
Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam peta transisi energi global, tapi juga berkontribusi langsung pada target penurunan emisi karbon sebesar 31,89 persen secara mandiri pada tahun 2030, sesuai komitmen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC).
"Kinerja yang stabil menjadi sinyal positif bagi pasar. Ini penting untuk mendorong investasi baru mengingat industri geothermal membutuhkan komitmen jangka panjang serta kepastian kebijakan," pungkas Elrika.