Tersangka Kasus Phishing Tools di Kupang Dikenal Tertutup, Warga Sempat Curiga
Oby Lewanmeru April 24, 2026 06:45 PM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eugenius Suba Boro

POS-KUPANG.COM, KUPANG — Kasus pengungkapan jaringan penjualan phishing tools di Kota Kupang Provinsai NTT terus menjadi perhatian publik. 

Di balik kasus tersebut, terungkap keseharian tersangka perempuan berinisial FYT yang selama ini tinggal di lingkungan RT 13 RW 05, Kelurahan Bakunase, Kecamatan Kota Raja.

Ketua RT setempat, Edi Fallo, saat diwawancarai pada Jumat (24/4/2026), mengungkapkan bahwa tersangka sudah cukup lama dikenal di lingkungan tersebut.

“Mereka sudah lama tinggal disini, Dia anak keempat dari empat bersaudara, perempuan bungsu,” ungkap Edi.

Baca juga: Pasangan Muda di NTT Bisnis Phising Tools Ilegal, Kerugian Global Capai Rp 350 Miliar

Menurutnya, FYT merupakan warga asli yang lahir dan besar di wilayah tersebut. Namun, dalam kesehariannya, interaksi sosial tersangka dengan warga terbilang terbatas.

“Dia tidak terlalu aktif di lingkungan. Lebih banyak berinteraksi dengan keluarga saja, kurang bergaul dengan tetangga, berbeda dengan saudara lainnya,” jelasnya.

Edi juga menyebut, tersangka tidak pernah terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan RT. Meski demikian, tidak pernah ada laporan resmi dari warga terkait perilaku yang meresahkan.

Dari sisi latar belakang pendidikan, FYT diketahui hanya menamatkan pendidikan hingga tingkat SMA.

Sementara pasangannya, yang juga terlibat dalam kasus ini, merupakan lulusan SMK. Keduanya diketahui belum menikah, namun tinggal bersama di sebuah rumah di kawasan Wali Kota Kota Kupang.

Lebih lanjut, kondisi rumah tersangka sebelum penangkapan juga dinilai tidak biasa. Edi mengungkapkan bahwa rumah tersebut cenderung tertutup dan dilengkapi kamera pengawas.

“Dia menutup diri. Rumahnya dipasang CCTV di berbagai sudut, jadi semakin menambah kecurigaan warga,” jelasnya.

Pantauan Reporter POS-KUPANG.COM di lokasi, rumah tempat tinggal tersangka FYT tampak sepi dan tidak terlihat adanya aktivitas di area sekitar. Pintu rumah tertutup rapat, sementara lingkungan sekitar terlihat lengang.

Terkait kronologi awal terungkapnya kasus ini di lingkungan RT, Edi mengaku sempat didatangi aparat kepolisian beberapa minggu sebelum penangkapan dilakukan.

“Sekitar dua sampai tiga minggu lalu, ada anggota dari Mabes Polri datang tanya-tanya soal keluarga dan minta ditunjukkan rumah. Kami hanya bantu menunjukkan lokasi,” ungkapnya.

Saat itu, aparat juga meminta agar informasi tersebut tidak disebarluaskan karena masih dalam tahap penyelidikan.

“Polisi bilang jangan kasih tahu siapa-siapa karena masih proses,” katanya.

“Setelah viral baru kami tahu kalau sudah ditangkap,” ujarnya.

Reaksi warga pun beragam, namun sebagian besar mengaku terkejut meski sebelumnya sudah memiliki kecurigaan.

“Warga kaget, tapi sebenarnya sudah curiga dari sebelumnya,” tambahnya.

Meski demikian, situasi di lingkungan RT 13 RW 05 saat ini tetap kondusif dan aman.

Sebagai Ketua RT, Edi mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama jika ada aktivitas yang mencurigakan.

“Kalau ada warga yang terlalu menutup diri, sebaiknya kita bisa saling bertanya dengan baik. Tujuannya supaya lingkungan tetap aman dan kondusif,” pungkasnya. (uge)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.