Fakta Baru Pengeroyokan Siswa SMPN 5 Kota Jambi, Kesaksian saat Guru Disebut Membiarkan
asto s April 24, 2026 07:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Seorang guru SMP Negeri 5 Kota Jambi mendapat tudingan melakukan pembiaran dalam peristiwa pengeroyokan seorang siswa di sekolah tersebut, Jumat (24/4/2026).

Dalam video yang beredar di media sosial, terjadi pengeroyokan siswa SMPN 5 Kota Jambi di dalam kelas. 

Terlihat seorang perempuan mengenakan pakaian seperti seragam Pramuka berada di antara murid-murid yang memakai baju biru dan celana putih.

Netizen menuding perempuan tersebut adalah seorang guru dan melakukan pembiaran terhadap tindak kekerasan itu.

Tribun Jambi melakukan penelusuran ke SMPN 5 Kota Jambi dan menemui beberapa narasumber.

Dua siswi kelas 7C, tempat peristiwa terjadi, menyampaikan keterangan kepada apa yang terjadi di lokasi saat itu.

Dua siswi berhijab itu mengaku berada di lokasi saat kejadian berlangsung.

PENGEROYOKAN - SMP Negeri 5 Kota Jambi, Jalan Prof Dr Moh Yamin, Kelurahan Payo Lebar, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, pada Kamis (23/4/2026). Terjadi tindak kekerasan siswa di sekolah tersebut.
PENGEROYOKAN - SMP Negeri 5 Kota Jambi, Jalan Prof Dr Moh Yamin, Kelurahan Payo Lebar, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, pada Kamis (23/4/2026). Terjadi tindak kekerasan siswa di sekolah tersebut. (Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)

Mereka menuturkan, kejadian bermula saat siswa A (korban pengeroyokan) iseng memukul dan mencekik siswa berinisial R.

Menurut mereka, R dicekik layaknya adegan pertandingan olahraga bela diri di televisi.

Karena dikenal sebagai sosok yang sensitif, R merasa tersinggung, hingga akhirnya terjadi perkelahian.

"Awalnya kami kira hanya bercanda, tapi kok lama-lama makin serius," ungkap seorang  siswi yang enggan disebutkan namanya, Jumat (24/4/2026).

Lebih lanjut, mereka menceritakan bahwa R sempat terkena pukulan di bagian mata.

Kejadian tersebut sempat dilerai dan didamaikan oleh guru yang mengajar saat itu.

Di sisi lain, keisengan A (korban) juga tidak disukai oleh siswa lain. Akhirnya, beberapa siswa datang dan terjadi perkelahian.

Dua siswi tersebut membantah keterangan yang menyebutkan bahwa A dikeroyok.

Siswa itu menuturkan sebagian besar siswa yang terekam justru berusaha memisahkan dan melerai perkelahian. 

"Tapi, video yang beredar hanya memperlihatkan saat A sedang dipukuli," ujarnya.

Mereka juga menegaskan bahwa guru yang terlihat dalam video pun terus berusaha menghentikan perkelahian.

"Guru kami terus berteriak, tapi mereka tetap berkelahi," tutur siswi itu.

Kedua siswi itu mengatakan, guru PPKN yang mengajar saat itu memang memiliki karakter soft spoken dalam berbicara dan jarang melakukan kontak fisik.

"Ibu itu soft spoken sekali, Pak. Jadi, tidak didengar kawan-kawan," ungkapnya pada Tribun Jambi.

Lantas dari mana video yang kemudian viral tersebut bersumber?

Informasi yang dihimpun Tribun Jambi, video tersebut berasal dari rekaman seorang siswi lainnya.

Kepala Sekolah Membantah

Kepala SMP Negeri 5 Kota Jambi, Budi Suprianto, juga membantah kabar yang menyebut bahwa guru yang bertugas saat kejadian melakukan pembiaran perkelahian.

Menurutnya, karakter guru tersebut memang lemah lembut dan telah berupaya melerai secara verbal.

Pihak sekolah juga telah memanggil guru tersebut untuk dilakukan pembinaan.

"Tadi sudah kita panggil dan arahkan, jika tidak sanggup menangani sendiri bisa memanggil guru lain atau saya sebagai kepala sekolah," ujarnya.

Tertekan Komentar Netizen

Saat ini, kata Budi, kondisi guru tersebut cukup tertekan karena komentar netizen yang menganggap dirinya melakukan pembiaran.

"Kondisinya cukup tertekan saat ini," kata Budi.

Menurut seorang narasumber yang bekerja di SMPN 5 Kota Jambi, saat mediasi perkelahian itu pada Jumat (24/2/2026) pagi, ibu guru tersebut menangis.

"Tadi pagi mediasi, Pak. Guru yang mengajar kemarin menangis di hadapan wali murid," ujar pria tersebut.

Kilas Peristiwa

Untuk diketahui, viral video pengeroyokan di kelas 7C SMP Negeri 5 Kota Jambi, Jalan Prof M Yamin, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

Di kelas itu terdapat 32 siswa, yang terdiri dari 16 siswa dan 16 siswi.

Peristiwa terjadi pada Kamis, 23 April 2026, saat pelajaran PPKN di jam pelajaran terakhir.

Hingga saat ini, Tribun Jambi masih terus mencari informasi dan kontak orang tua korban. 

Akun Instagram @daraadilla_ yang mengaku sebagai kakak sepupu korban saat di-DM hanya membalas dengan kalimat "pagi".

Namun, saat ditanya apakah bisa membantu menghubungkan dengan orang tua korban, ia tidak merespons lagi.

Sementara itu, pihak sekolah juga mengaku tidak memiliki nomor telepon orang tua korban.(Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)

Baca juga: Polda Jambi Gelar Upacara PTDH, Empat Personel Diberhentikan Tidak Dengan Hormat

Baca juga: Daftar Polisi Jambi Dipecat Sepanjang 2025-2026, Terbaru Kasus Rudapaksa

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.