Kepala Kadin Akui Krisis Global Justru Untungkan Indonesia, Banyak Perusahaan Besar Antri Masuk RI
Candra Isriadhi April 24, 2026 07:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Anindya Bakrie melihat adanya peluang besar bagi Indonesia di tengah dinamika global saat ini.

Ia menilai, konflik yang terjadi di kawasan Asia Barat justru membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menarik investasi, khususnya dalam sektor industri manufaktur.

Menurut Anindya Bakrie, ketegangan geopolitik yang terus berlangsung mendorong banyak perusahaan global mulai mempertimbangkan relokasi pabrik ke negara yang dinilai lebih stabil.

KABAR BERITA - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie, saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
KABAR BERITA - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie, saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)

Ia menambahkan bahwa kondisi ini bisa dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai tujuan investasi baru di kawasan.

Perusahaan-perusahaan internasional disebut akan mencari lokasi produksi yang lebih aman dan minim risiko dari gejolak geopolitik.

Dengan situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang strategis untuk menarik arus relokasi industri, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

Baca juga: Sosok Hendrikus Atlet MMA Tusuk Nus Kei hingga Tewas di Bandara, Sempat Bahas Soal Pembunuh: Brutal

“Karena juga harus dilihat dari geopolitik, tentu dengan adanya perang ini terjadi juga banyak sekali peluang di mana yang selalu kita bilang adanya relokasi,” kata Anindya saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Anindya menyinggung pengalaman saat tensi dagang Amerika Serikat dan China meningkat.

Sejumlah perusahaan saat itu memindahkan basis produksi ke Indonesia untuk menghindari dampak konflik.

Pola serupa dinilai kembali muncul. Perusahaan mencari alternatif rantai pasok di luar kawasan yang terdampak konflik.

PERANG IRAN AS - Kapal perang Iran terlihat saat latihan angkatan laut gabungan dengan angkatan laut Rusia di Samudera Hindia, Iran 16 Februari 2021.
PERANG IRAN AS - Kapal perang Iran terlihat saat latihan angkatan laut gabungan dengan angkatan laut Rusia di Samudera Hindia, Iran 16 Februari 2021. (Dok./IRANIAN ARMY/WANA)

“Nah relokasi ini sekarang sudah tambah lagi karena tadi ingin mencari supply chain lain dari opsi yang Timur Tengah,” ujar dia.

Relokasi dinilai berpotensi membawa masuk devisa.

Arus dana tersebut diharapkan ikut menopang nilai tukar rupiah.

Anindya juga menyoroti peran perjanjian dagang yang dimiliki Indonesia.

Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Pengacara, Nadiem Dipaksa Hadiri Sidang Meski Sakit, Jaksa Tegas Membantah

Sejumlah kesepakatan dinilai memberi kemudahan bagi perusahaan untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor.

Perjanjian itu mencakup Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA), Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), serta kerja sama dagang lain seperti Reciprocal Trade Agreement (RTA) dengan Amerika Serikat dan Free Trade Agreement (FTA) dengan Uni Ekonomi Eurasia.

Menurut dia, kombinasi stabilitas domestik dan akses pasar menjadi faktor penarik utama bagi investor.

LEDAKAN DI IRAN - Tangkap layar YouTube AlJazeera Arabic 7 April 2026 menampilkan ledakan di ibu kota Teheran, Iran. IRGC mengklaim menyerang fasilitas petrokimia milik perusahaan AS di Arab Saudi sebagai balasan atas serangan Israel di Shiraz.
LEDAKAN DI IRAN - Tangkap layar YouTube AlJazeera Arabic 7 April 2026 menampilkan ledakan di ibu kota Teheran, Iran. IRGC mengklaim menyerang fasilitas petrokimia milik perusahaan AS di Arab Saudi sebagai balasan atas serangan Israel di Shiraz. ((Ist)/Tangkapan Layar YouTube Al Jazeera)

“Itu pasti dengan adanya ketegangan antara Amerika-Cina dan Timur Tengah itu mencari tempat. Nah tempat yang istilahnya apa ready to use gitu jadi hit the ground running,” kata Anindya.

Situasi global saat ini dipicu konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Serangan yang terjadi sejak akhir Februari memicu eskalasi di kawasan.

Penutupan Selat Hormuz ikut memperburuk kondisi. Jalur tersebut merupakan rute utama distribusi minyak dan produk petrokimia dari kawasan Teluk.

Dampaknya langsung terasa pada harga energi global yang meningkat. Gangguan rantai pasok juga menekan industri di berbagai negara.

(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.