Klarifikasi Kepala BGN Soal Kebutuhan Sapi untuk MBG Capai 19 Ribu Ekor, Sebut Hanya Simulasi Saja
Candra Isriadhi April 24, 2026 07:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana akhirnya memberikan klarifikasi terkait pernyataannya yang sempat ramai diperbincangkan publik.

Sebelumnya, Dadan menyebut kebutuhan hingga 19.000 ekor sapi untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, ia menegaskan bahwa angka tersebut bukanlah kondisi riil di lapangan.

KABAR MBG - Kepala BGN Dadan Hindayana saat menghadiri pelantikan pengurus gapembi sumbar di Kota Padang,Sunatera Barat, Rabu (22/4/2026).
KABAR MBG - Kepala BGN Dadan Hindayana saat menghadiri pelantikan pengurus gapembi sumbar di Kota Padang,Sunatera Barat, Rabu (22/4/2026). (KOMPAS.com/Rahmat Panji)

Melainkan hanya berupa simulasi atau pengandaian dalam perhitungan kebutuhan program.

Hal ini disampaikan Dadan untuk meluruskan pemahaman masyarakat yang sempat mengira angka tersebut merupakan kebutuhan aktual.

Ia menjelaskan bahwa perhitungan tersebut dibuat dengan asumsi tertentu.

Baca juga: Sosok Hendrikus Atlet MMA Tusuk Nus Kei hingga Tewas di Bandara, Sempat Bahas Soal Pembunuh: Brutal

Lebih lanjut, Dadan menambahkan bahwa kebutuhan belasan ribu sapi itu dihitung berdasarkan skenario khusus.

Dalam hal ini, diasumsikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak memasak menu berbahan dasar daging sapi.

Dengan penjelasan ini, diharapkan tidak ada lagi kesalahpahaman terkait kebutuhan bahan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis tersebut.

"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor."

"Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," kata Dadan, dalam keterangan pers, Kamis (23/4/2026).

PROSES MASAK MBG -  Ilustrasi proses pemasakan MBG. Suasana petugas kesehatan Puskesmas Ngawen saat sidak di SPPG Ngawen 1, Blora, Jawa Tengah, Senin (22/9/2025).
PROSES MASAK MBG - Ilustrasi proses pemasakan MBG. Suasana petugas kesehatan Puskesmas Ngawen saat sidak di SPPG Ngawen 1, Blora, Jawa Tengah, Senin (22/9/2025). (Tribunjateng/Iqbal)

Dia mengatakan, dalam satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu SPPG bisa mencapai sekitar 350 hingga 382 kilogram.

"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi," tutur dia.

Menurut Dadan, hal ini yang menjadi makan bergizi gratis itu penting agar tangkapan rasionya bagus.

Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Pengacara, Nadiem Dipaksa Hadiri Sidang Meski Sakit, Jaksa Tegas Membantah

"Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja," kata dia.

Namun, kata Dadan sampai sekarang BGN belum pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional untuk menghindari lonjakan kebutuhan bahan pangan yang dapat berdampak pada harga di pasar.

Dadan lalu mengungkapkan pengalaman saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu.

Saat itu, menu yang disajikan berupa nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat.

KERACUNAN MBG - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang. Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap penyebab 72 siswa di Duren Sawit, Jakarta Timur, mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), pada Kamis (2/4/2026).
KERACUNAN MBG - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang. Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap penyebab 72 siswa di Duren Sawit, Jakarta Timur, mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), pada Kamis (2/4/2026). (KOMPAS.com/Rahel)

"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp 3.000," ungkap dia.

Dari pengalaman tersebut, BGN memilih pendekatan fleksibel dalam penyusunan menu MBG dengan menyesuaikan potensi sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah.

"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal supaya tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi, kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik," pungkas dia.

(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.