Laporan Muhammad Azzam
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI- Aktivitas pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi alami kelumpuhan imbas krisis bahan bakar.
Puluhan alat berat yang bertugas menata gunungan sampah tidak dapat berfungsi sama sekali. Mandeknya alat berat ini berdampak langsung pada distribusi sampah. Puluhan truk pengangkut terpantau mengantre panjang di sepanjang akses jalan masuk hingga area parkir TPA.
Berbeda dengan situasi normal, truk tersebut tertahan dengan muatan penuh lantaran sampah pada bak truk belum bisa dipindahkan ke titik pembuangan.
Kepala UPTD TPA Burangkeng Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Samsuro, mengungkapkan pihak operator kesulitan mendapatkan pasokan BBM industri.
“Kalau kemarinnya memang normal enggak ada masalah. Karena kan biasanya pesen, langsung dikirim. Nah sekarang ini mulai sulit," kata Samsuro saat dikonfirmasi, Jumat (24/4/2026).
Adapun penyebabnya, pertama karena BBM industri lagi naik harganya. Kedua karena dari penyedianya terbatas dan sulit mendapatkan.
"Jadi pesennya kemarin ya dikirimnya bisa satu dua hari. Sekarang enggak nyampe-nyampe. Sulit dapatnya,” ungkap
Ia menjelaskan, sebanyak 22 unit alat berat yang masing-masing mengonsumsi sekitar 150 liter per hari, kebutuhan total TPA mencapai 3.000 liter setiap harinya.
Dan kini berhenti total untuk menata sampah. Seluruh alat berat di TPA Burangkeng, lanjut Samsuro, merupakan unit sewa dari pihak ketiga, dimana penyediaan BBM sudah termasuk dalam paket kerja sama. Namun, lonjakan harga energi akibat konflik Iran-Israel disinyalir menjadi pemicu kelangkaan.
"Udah gitu barangnya gak ada lagi iya barangnya gak ada lagi. Katanya ini dampak dari perang itu yang di Iran-Israel," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pihak ketiga pengelola alat berat telah meminta adanya perubahan kontrak kerja. Selain itu kini terjadi kenaikan harga yang tidak wajar.
Harga BBM industri yang biasanya berada di angka Rp15.000 hingga Rp16.000 per liter, kini tembus Rp30.000 per liter.
"Emang udah ada sih dari kemarin semenjak minggu kemarin udah ada permohonan dari pihaknya dia untuk penyesuaian harganya lagi gitu. Harga sewanya disesuaikan lagi gitu karena dengan kondisi harga BBM yang melambung tinggi,” sambung Samsuro.
Meski dampak langsung ke lingkungan masyarakat belum terlihat secara signifikan. Namun, ancaman gangguan pelayanan pengangkutan sampah mengintai dalam beberapa hari ke depan jika pasokan BBM tidak segera normal. Hal ini dikarenakan armada truk sampah masih terjebak di dalam TPA dan tidak bisa kembali ke wilayah tugas masing-masing.
"Memang yang kami khawatirkan pelayanan itu. Berharap bisa segera ada," kata dia. (MAZ)