Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Ramadhan L Q
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Peristiwa tragis yang menimpa dua asisten rumah tangga (ART) di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026) malam, mendapat sorotan dari kriminolog Adrianus Meliala.
Ia menilai terdapat dua kemungkinan yang dapat menjelaskan insiden tersebut.
Menurut Adrianus, kemungkinan pertama adalah adanya kekerasan yang dialami korban dari majikan.
Bentuk kekerasan tersebut dapat berupa pembatasan kebebasan, seperti tidak diperbolehkan keluar rumah, mengalami pemukulan, tidak menerima gaji, hingga terputus dari komunikasi dengan pihak luar.
Dalam kondisi demikian, korban diduga nekat mencari jalan keluar dengan cara melompat.
"Kemungkinan pertama, mereka memperoleh kekerasan dari majikan seperti tidak diperbolehkan keluar rumah, dipukuli, tidak memperoleh gaji, tidak bisa berkomunikasi dan sebagainya. Maka kemungkinan mereka nekad mencari jalan keluar dengan cara meloncat," ujarnya, kepada Warta Kota, Jumat (24/4/2026).
Kemungkinan kedua, lanjutnya, berkaitan dengan relasi personal antara kedua korban.
Ia menyebut hubungan tersebut bisa berupa hubungan layaknya saudara, percintaan, hingga persoalan utang-piutang yang berkembang secara negatif dan memicu keputusasaan.
“Kematian dengan cara melompat kemungkinan dianggap sebagai solusi. Bisa juga salah satu memaksa yang lain,” kata dia.
Adrianus juga tidak menutup kemungkinan adanya tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dalam kasus ini.
Baca juga: Baru Kerja 3 Bulan, ART Usia 18 Tahun Tewas setelah Terjun dari Lantai 4 Rumah Kos di Benhil Jakpus
Jika hal tersebut terbukti, maka kematian korban dinilai berkaitan dengan kemungkinan pertama yang telah dijelaskannya.
"Bisa saja. Kalau itu yang terjadi, maka kematiannya terkait yang 1," tutur dia.
Terkait perlindungan pekerja ART ke depan, Adrianus berharap adanya penguatan regulasi melalui Undang-Undang Pekerja Rumah Tangga (UU PRT).
Terlebih, Undang-Undang PRT sudah disahkan pada Selasa (21/4/2026) lalu oleh DPR RI dan pemerintah.
Menurutnya, regulasi tersebut penting untuk memastikan pekerja ART mendapatkan perlindungan yang lebih baik serta memiliki akses jelas untuk melapor apabila mengalami masalah.
"Kita berharap dari UU ART akan ada perlindungan yang lebih baik dari negara," pungkasnya.
Diketahui, ART yang dirawat di RS Mintohardjo berinisial R (30) usai mengalami patah tangan akibat terjun dari lantai 4 rumah kos tersebut.
Sementara itu, D (18) tewas setelah kejadian setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan di RS Mintohardjo, Kamis (23/4/2026).
Kronologi
Seperti diketahui, seorang asisten rumah tangga (ART) berinisial D (18) meninggal dunia usai terjatuh dari lantai empat rumah kos di Jalan Walahar Buntu, Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/4/2026) malam.
Korban mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan di RS Mintohardjo pada Kamis (23/4/2026).
Sementara itu, satu korban lainnya berinisial R (30) masih menjalani perawatan akibat mengalami patah pada bagian lengan.
Salah satu saksi mata, Rahma (55), warga setempat, mengatakan kejadian itu bermula saat dirinya hendak beristirahat. Namun, ia dikejutkan oleh suara ketukan pintu dari tetangganya.
"Pas lagi mau istirahat itu ada bunyi ketokan lah gitu, 'Bu, Bu, Bu' gitu. Terus pas bunyi ketokan itu saya bangun, 'siapa ya?', lalu saya bukain, kenapa mas? 'ini, Bu, ada orang jatuh,' katanya gitu," ucap Rahma saat ditemui Wartakotalive.com di kediamannya, Jumat (24/4/2026).
Rahma kemudian bergegas keluar rumah dan mendapati dua perempuan sudah tergeletak di dekat lokasi kejadian.
"Nah itu juga posisinya sudah tergeletak juga dengan ada barang-barang jatuh lah gitu, barang-barangnya dia, dari lantai 4," ujarnya.
Saat ditemukan, kedua korban masih dalam kondisi hidup. R terlihat masih merintih kesakitan, sementara D sudah tidak sadarkan diri.
"Aduh Neng, kamu ngapain sih neng lompat? Itu kan tinggi banget," tanya Rahma kepada R.
"Bu, sakit...," jawab R.
Baca juga: Aksi Nekat di Tengah Sunyi: Dua ART Terjun dari Lantai Empat Rumah Kos, Polisi Selidiki Motif
Dalam kondisi panik, Rahma sempat mencoba menggali informasi dari korban yang masih bisa merespons.
"Saya bertanya, terus katanya dia (R) yang satu itu memang mengaku ART karena dia bilang, 'Aku yang kerja di sini, bu'," tambahnya.
Warga sekitar sempat memeriksa barang milik korban untuk mencari identitas, namun tidak menemukan dokumen apapun.
"Ada di dekat gotnya itu ada tas. Iya barang-barangnya dia, terus diperiksa sama polisi, kami memang diperiksa juga, HP enggak punya, KTP enggak ada," jelas Rahma.
Diketahui, R berasal dari Brebes dan baru bekerja sekitar satu minggu. Sementara D berasal dari Batang, Jawa Tengah, dan telah bekerja selama tiga bulan.
Rahma mengaku tidak mengenal dekat kedua korban. Ia hanya sesekali melihat salah satu korban di sekitar lingkungan tersebut.
“Iya, tapi kalau yang satunya yang meninggal ini, suami saya sering lihat gitu. Dia nganter anak ininya yang punya. Yang punya mungkin ya, sekolah mungkin. Kalau saya belum pernah lihat kalau ada pembantu,” ujarnya.
Ia juga menyebut tidak pernah mendengar adanya keributan dari dalam rumah kos tersebut sebelumnya.
“Saya tidak pernah dengar apa-apa, karena memang tidak tahu ada pembantu di sana juga,” katanya.
Usai kejadian, penjaga kos segera menghubungi ambulans dan warga melaporkan peristiwa tersebut ke pihak setempat. Petugas kesehatan datang untuk memberikan pertolongan kepada kedua korban.
“Ada petugas kesehatan datang. Saya sempat bantu mendampingi. Saya juga takut kalau salah pegang karena mungkin ada yang patah. Dia sempat bilang, ‘Dekat saya saja, Bu’. Jadi saya dampingi sambil diajak ngobrol,” tuturnya.
Peristiwa ini meninggalkan trauma bagi Rahma. Ia mengaku masih terbayang kejadian tersebut hingga malam berikutnya.
“Hingga Kamis malam saya masih kepikiran, jadi susah tidur,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua RW02 Kelurahan Benhil, Syahruddin bersama warga lainnya mengaku tidak berani mengambil tindakan apapun terhadap keduanya.
"Karena khawatir salah angkat," ucap Syahruddin.
Setelah ambulans datang, kedua korban langsung dievakuasi ke RSAL dr. Mintohardjo untuk pertolongan medis. Syahrudin mendengar jika salah satu dari korban berinisial D tutup usia di rumah sakit.
"Di RSAL yang satu, setelah ditindak enggak berhasil diselamatkan," terangnya.
Di sisi lain, Syahrudin mengaku, sebelumnya tidak pernah sekalipun bertemu dengan kedua korban. Menurut dia rumah kos tempat korban bekerja sangat tertutup.
Bahkan ketua RT setempat kata Syahrudin, belum pernah mendapat laporan apapun terkait aktivitas di rumah kos tersebut.
"Pokoknya saya nggak tahu dah. Saya cek RT juga. Cerita RT nggak ada laporan ada pembantu di sana," ujarnya.
Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra mengatakan, kedua korban berinsial D (18) dan R (30).
Kata Roby, korban nekat melompat dari lantai 4 rumah kos, diduga hendak kabur dari tempatnya bekerja. "Betul (hendak kabur). Informasi awalnya begitu," kata Roby kepada wartawan.
Roby menuturkan, korban berinsial D tewas setelah kejadian. Sementara itu, R menderita patah tangan dan masih menjalani perawatan di RSAL dr. Mintohardjo.
Meski masih menjalani perawatan, R sudah bisa memberikan keterangan kepada pihak kepolisian. Namun karena kondisi R yang masih syok, ia belum banyak berbicara.
Berdasarkan keterangan awal dari R, dirinya bersama D saat itu hendak kabur dari tempatnya bekerja karena sudah jengah dengan tabiat sang majikan.
"(Majikan) galak. Nah itu kan bisa saja dengan omongan, bisa saja dengan tindakan," pungkas Roby.
Berdasarkan pantauan Wartakotalive.com pada Jumat (24/4/2026), lokasi kejadian berada di sebuah gang buntu yang relatif sempit dan cenderung sepi dari aktivitas warga.
Rumah kos yang menjadi pusat perhatian berdiri setinggi empat lantai dengan cat berwarna putih, tampak tertutup dan sunyi. Di halaman depannya, hanya terlihat satu unit mobil terparkir.
Di titik kejadian, pihak kepolisian telah memasang tanda berupa bulatan bernomor 1 dan 2 sebagai penanda lokasi jatuhnya kedua korban.
Meski garis penyelidikan masih berlangsung, suasana di sekitar lokasi tampak nyaris tanpa aktivitas. Hanya sesekali terlihat kurir paket yang datang silih berganti, serta beberapa warga yang melintas untuk membeli sayur dari gerobak.