SPPG Tempurejo Langgar SOP Hingga Sebabkan Puluhan Siswa di Kediri Mual dan Muntah, Dilidik Polisi
Rendy Nicko April 24, 2026 09:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Dugaan gangguan kesehatan yang menimpa puluhan siswa di wilayah Ketami, Kota Kediri, menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Sebanyak 69 siswa dari SDN Ketami 1, SDN Ketami 2, dan SDN Tempurejo 1 dilaporkan mengalami keluhan seperti mual, muntah, pusing, hingga demam pada Rabu (22/4/2026). Insiden ini terjadi usai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Satuan Tugas (Satgas) MBG Kota Kediri pun bergerak cepat menindaklanjuti laporan tersebut. Penanganan dilakukan secara terpadu melibatkan lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan hingga pihak sekolah, guna memastikan kondisi siswa tetap terpantau sekaligus menjaga keberlangsungan program.

Kepala Bappeda Kota Kediri yang juga Sekretaris Satgas Percepatan Penyelenggaraan MBG, Ferry Djatmiko, menyatakan bahwa laporan dari sekolah langsung direspons cepat oleh tim medis. Dinas Kesehatan segera melakukan pengambilan sampel makanan untuk diteliti lebih lanjut.

"Dari hasil pemeriksaan, ditemukan adanya bakteri Escherichia coli (E. coli) yang mengindikasikan makanan tidak layak konsumsi. Satgas kemudian langsung melakukan observasi ke SPPG Tempurejo," jelas Ferry, Jumat (24/4/2026).

Baca juga: Disparbud Kediri Evakuasi Benda Yoni Diduga Peninggalan Pra Majapahit, Disimpan di Rumah Warga Duwet

Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, Ferry memastikan kondisi para siswa kini telah terkendali. Tidak ada siswa yang harus menjalani perawatan inap, dan sebagian besar sudah menunjukkan kondisi yang membaik setelah mendapatkan penanganan.

"Kondisi anak-anak sudah membaik, tidak ada yang dirawat inap, dan puskesmas juga proaktif melakukan pemeriksaan lanjutan," terangnya.

Sebagai langkah evaluasi, Pemerintah Kota Kediri bersama Satgas MBG juga berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Evaluasi menyeluruh dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

"Kami akan memperketat SOP monitoring dan evaluasi karena ditemukan indikasi pelanggaran. Namun program ini tetap baik dan akan terus kami kawal bersama," tegas Ferry.

Sementara itu, Koordinator SPPG Wilayah Kota Kediri, Armeityansyah Wahyudi Putra, mengungkapkan bahwa hasil investigasi menemukan adanya ketidaksesuaian prosedur dalam proses pengolahan makanan.

"Ditemukan pelanggaran SOP, terutama pada waktu pengolahan makanan yang tidak sesuai ketentuan," katanya.

Ia juga menyoroti belum optimalnya uji organoleptik dalam proses distribusi makanan. Menurutnya, pengujian tersebut seharusnya dilakukan di setiap tahapan, mulai dari setelah makanan dimasak, sebelum distribusi, hingga saat diterima oleh siswa.

"Namun dari hasil investigasi, ada tahapan yang terlewat sehingga menjadi celah terjadinya masalah," imbuhnya.

Sebagai tindak lanjut, operasional SPPG Tempurejo dihentikan sementara. Distribusi makanan dialihkan ke dapur penyedia lain agar program MBG tetap berjalan tanpa mengganggu pelayanan kepada siswa.

"SPPG Tempurejo ditutup sementara, dan distribusi dialihkan ke SPPG lain agar layanan tetap berjalan," jelasnya.

Polres Lakukan Penyelidikan

Di sisi lain, aparat kepolisian juga turut melakukan penyelidikan atas kejadian ini. Kasatreskrim Polres Kediri Kota, AKP Achmad Elyasarif Martadinata, menyampaikan bahwa pihaknya saat ini masih mengumpulkan berbagai keterangan dari pihak terkait.

"Kami mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak. Saat ini fokus utama adalah memantau kondisi kesehatan para korban," ujarnya.

Ia menegaskan, apabila dalam proses penyelidikan ditemukan adanya unsur pelanggaran hukum, maka pihaknya akan menindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.

"Jika ada indikasi pelanggaran, akan kami tindaklanjuti sesuai ketentuan," tegasnya.

(Luthfi Husnika/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.