Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Nano Prawoto, SE., M.Si., mengungkapkan ada faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pelemahan rupiah.
Faktor eskternal dipengaruhi tingginya suku bunga the Fed yang masih di kisaran 5,25 persen hingga 5,5 persen, sedangkan suku bunga BI rate sekitar 6 persen.
Selisih suku bunga tersebut tidak cukup kuat mendorong dollar masuk Indonesia, walaupun suku bunga BI rate lebih tinggi dari the Fed. Hal ini karena faktor risiko negara berkembang lebih tinggi.
Dari faktor internal, pemintaan dollar untuk kepentingan impor dalam negeri cenderung meningkat. Apalagi harga minyak dunia turut meningkat dan perang AS-Iran masih berlangsung.
"Meningkatnya harga dollar tersebut tentu membawa konsekuensi menurunnya sektor produksi yang menggunakan bahan baku impor, sehingga cenderung target pertumbuhan ekonomi tertunda dan melambat," katanya, Jumat (24/4/2026).
"Perlambatan tersebut akan berdampak pada sektor produksi yang banyak menggunakan bahan baku impor seperti konstruksi, otomotif, farmasi, energi dan sebaginya," sambungnya.
Dalam jangka pendek, pelemahan nilai rupiah bisa meningkatkan inflasi, biaya produksi meningkat, dan menurunkan permintaan barang. Pelemahan rupiah juga meingkatka beban utang luar negeri.
"Kemudian dampat jangka panjang ya memperlambat pertumbuhan ekonomi, minimal susah mencapai target pertumbuhan ekonomi yang diinginkan pemerintah, serta memicu inflasi berkepanjangan," lanjutnya.
Untuk menguatkan rupiah, pemerintah perlu memperkuat ekspor. Tak hanya itu, pemerintah juga harus mempertahankan perdagangan tetap surplus.
"Juga mendorong suku bunga BI rate sedikit agak dinaikan agar supaya selisih suku bunga BI rate dengan suku bunga the Fed memiliki selisih yang signifikan sehingga mendorong arus modal masuk ke dalam negeri," pungkasnya. (maw)