TRIBUNBANYUMAS.COM, Studi panas bumi di Indonesia selama ini lebih banyak berkutat pada pengembangan energi.
Padahal wilayah vulkanik aktif seperti Dieng perlu dipahami lebih dalam, yakni sebagai bentang alam paparan lingkungan (environmental exposure landscape).
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Riostantieka Mayandari Soedarto, yang memaparkan hasil kajian bertajuk “Bumi, Air, Manusia: Perspektif Geotermal-Geodermis dari Dieng” mengatakan, unsur-unsur geogenik dari sistem panas bumi dapat bergerak melalui media air, tanah, debu, hingga tanaman.
Ujungnya sampai ke manusia.
Kawasan Kawah Sileri dijadikan laboratorium hidup karena lokasinya sangat dekat dengan aktivitas harian masyarakat.
“Dieng bukan hanya lapangan panas bumi, tetapi bentang alam hidup tempat interaksi antara manifestasi geotermal, sumber air, pertanian, permukiman, dan aktivitas harian,” ujarnya dikutip dari laman BRIN.
Hasil penelitian pada Agustus-September 2025—sekitar delapan bulan pasca-erupsi Sileri terakhir—tim BRIN mengidentifikasi sejumlah unsur toksik prioritas seperti arsenik (As), antimoni (Sb), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan timbal (Pb).
Hasil analisis di wilayah Sileri Barat mengejutkan.
Baca juga: Saat Rupiah Melemah tapi Pemerintah Tetap Bilang Ekonomi Baik-baik Saja
Hasil tersebut bahkan menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.
Konsentrasi arsenik di wilayah tersebut bahkan mencapai 94 kali lipat dari pedoman air minum WHO.
Bukan hanya di air, kandungan logam berat di media tanah juga jauh di atas ambang batas.
Konsentrasi arsenik mencapai 562 kali pembanding US EPA, antimoni 6,5 kali Dutch Soil Standards, kadmium 4,2 kali Dutch Soil Standards, serta timbal yang melebihi standar Australia
Sumber: https://www.kompas.com/sains/read/2026/04/25/122300123/di-balik-indahnya-dieng-ada-ancaman-unsur-geogenik-yang-mengintai-pangan?source=headline.