TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Para legenda sepak bola Indonesia, termasuk Persebaya Surabaya dan Arema, di Kabupaten Banyuwangi berbicara tentang cara mengembalikan kejayaan sepak bola di Bumi Blambangan. Menurut mereka, bibit-bibit pesepak bola berbakat harus mendapat tempat di klub agar punya wadah untuk berkompetisi.
Bagong Iswahyudi, legenda Persebaya Surabaya asal Banyuwangi mengatakan, potensi pesepak bola andal asal Banyuwangi terlihat dalam kompetisi liga 4 yang diikuti oleh Persewangi Banyuwangi.
"Kalau berbicara soal potensi anak lokal Banyuwangi, saya yakin potensinya ada. Bahkan ada beberapa pemain lokal yang kualitasnya sangat bagus," kata Bagong, dalam diskusi bertajuk 'Meracik Tim Ideal Banyuwangi', Sabtu (25/4/2026) malam.
Pemain bola andal juga lahir dari kompetisi-kompetisi lain. Seperti saat ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jatim yang digelar beberapa tahun lalu.
Baca juga: Kalah dari Madura United, Persebaya Dapat Sorotan Tajam dari Bonek, 2 Hal Kejutan Turut Disinggung
Baca juga: Arema FC Juru Selamat Persija dan Borneo FC, Persaingan Menuju Gelar Super League 2025/2026 Terbuka
"Saat Popda di Bangkalan (2024), saya melihat ada beberapa pemain yang sangat potensial. Abhkan mereka sempat membawa tim meraih juara dua. Itu adalah bibit-bibit yang bagus," ujar Bagong.
Namun, menurut Bagong, penampilan para pesepak bola muda tersebut terhenti. Mereka tak memiliki tempat kejadian itu berkreasi dan melatih bakat.
"Setelah (tampil), pemain-pemain seperti hilang. Saya kurang paham apakah karena pembinaan yang kurang atau karena kompetisi usia muda yang tidak berjalan maksimal," ungkap pelatih berlisensi B AFC itu.
Menurut Bagong, Persewangi sebagai tim utama kebanggan warga Banyuwangi harusnya menjadi tempat para talenta muda lokal untuk unjuk gigi. Sayangnya dalam dua tahun terakhir kompetisi Liga 4, komposisi pemain lokal di klub tersebut tidak mendominasi.
Hal senada disampaikan bintang Arema era Galatama yang juga mantan pemain Timnas tahun 1990-an asal Banyuwangi, Imam Hambali. Menurut Hambali, tim Persewangi harus menjadi wadah bagi para pesepak bola lokal.
"Ada satu hal penting yang belakangan ini hilang dari Persewangi, yaitu karakter. Karakter tim, karakter pemain, rasa memiliki terhadap Persewangi, terhadap masyarakat Banyuwangi, dan terhadap supporternya," kata Hambali.
Karenanya, klub harus dibangun dengan semangat memajukan sepak bola lokal. Bukan sekadar memburu prestasi.
Ia menyebut, potensi pemain-pemain lokal harus dicari secara telaten.
"Dicari dari Pesanggaran sampai Glenmore, dari Gumitir sampai Baluran, pasti ada satu atau dua pemain potensial. Jangan seluruh pemain justru diambil dari luar daerah," ujarnya.
Hambali menekankan, dirinya tak anti pemain luar. Namun, persyaratannya harus lebih ketat. Pemain luar Banyuwangi yang direkrut oleh tim Banyuwangi harus berkualitas minimal setingkat di atas pemain lokal.
"Karena kalau kualitasnya sama dengan pemain lokal, lalu untuk apa mengambil pemain luar. Selain lebih mahal, pemain lokal biasanya punya rasa memiliki, militansi, dan karakter yang berbeda dibanding pemain luar," ujar dia.
Para pencinta sepak bola Banyuwangi berharap, penerus pesepak bola pemain-pemain beken seperti Hendro Kartiko, Imam Hambali, dan lain-lain akan kembali lahir dalam beberapa tahun mendatang.
(Aflahul Abidin/TribunJatimTimur.com)