TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Perpaduan desiran air sungai yang halus, perbukitan, dan terasering sawah membuat suasana hati menjadi tenang. Bagi siapa pun yang datang dengan kepala yang bising, panorama ini dapat menjadi obat penawar yang mujarab.
Sejauh mata memandang, siluet perbukitan hijau kebiruan dari kejauhan berdiri tegak tampak sebagai pelindung lembah. Tidak ada klakson yang memekik, yang ada hanyalah harmoni antara tanah, air, udara, hingga keramahan orang saat menyapa.
Inilah Desa Wisata Srikeminut yang berlokasi di Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Desa wisata itu ternyata muncul dari pemikiran anak-anak muda setempat.
Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah, menceritakan, potensi Desa Wisata Srikeminut sudah ditemukan sejak 2003 - 2004 silam. Penataan desa wisata itu mucul dari ide anak muda setempat.
"Kala itu, mereka berpikir untuk mengangkat potensi keindahan alam Srikeminut. Awalnya, sempat kami buat event berupa seni tradisional," katanya, Minggu (25/4/2026).
Namun, beberapa waktu kemudian, gempa bumi melanda kawasan tersebut dan terdapat pergantian rezim pemerintah kalurahan, sehingga upaya mengangkat potensi desa wisata sempat tidak berlanjut.
Sekitar tahun 2012, dari Kementerian Desa berencana memberikan dukungan untuk peningkatan potensi Desa Wisata Srikeminut. Dari situ, mulai terbentuk Desa Wisata Srikeminut. Hanya saja sempat terdapat kendala.
Akhirnya, warga setempat berjalan meningkatkan potensi desa dengan apa adanya. Pada akhir tahun 2018, Titik resmi dilantik menjadi perempuan pertama yang memimpin Kalurahan Sriharjo. Dari situ, potensi desa setempat mulai kembali dikembangkan.
"Jadi kami bersama anak-anak muda dan para relawan mencoba meningkatkan potensi desa itu. Alhamdulillah itu berjalan dan mendapatkan dukungan dari warga setempat," jelas dia.
Seiring waktu, ternyata sempat terjadi pandemi Covid-19 yang mengharuskan tidak ada aktivitas fisik di luar rumah atau masyarakat diimbau untuk stay at home.
Setelah momen stay at home berlalu, terdapat masyarakat yang jalan-jalan menggunakan sepeda dan bertemu Desa Srikeminut, sehingga viral dan mulai dikenal masyarakat luas.
"Terus kami coba kembangkan dan Bumdes kami masukkan ke sana. Di sana juga kami buat pendopo dengan dana desa. Terus food court mulai kami tata," kata dia.
Kini, masyarakat setempat telah merasakan dampak peningkatan ekonomi dari kehadiran Desa Wisata Srikeminut. Apalagi, lokasi tersebut kerap digunakan menjadi tempat syuting film, iklan, maupun sejenisnya.
"Kami berharap, masyarakat tetap mau bergerak untuk mengembangkan kawasan Desa Wisata Srikeminut. Kami juga akan mendorong anak-anak muda untuk mengembangkan Srikeminut lebih baik lagi," tutup dia.(nei)