Tekun dan Konsisten Jadi Kunci Isti Raih Predikat Lulusan Dokter Spesialis Termuda UGM
Yoseph Hary W April 26, 2026 03:14 PM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ketekunan dan konsistensi Istiqomah Katin mengantarnya menjadi lulusan dokter spesialis termuda UGM pada Wisuda Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026.

Sosok yang akrab disapa Isti itu lulus di usia 28 tahun 6 bulan, jauh di bawah rerata usia lulusan spesialis periode ini yang mencapai 34 tahun 5 bulan.

Tidak menyangka

Ia sendiri tak menyangka berhasil meraih predikat sebagai lulusan termuda. Sebab selama ini ia hanya menjalani tahapan pendidikan sesuai alur yang ditetapkan. 

“Saya tidak menyangka bisa menjadi lulusan termuda di periode ini, dan dari awal juga tidak pernah menargetkan ke arah sana. Berusaha konsisten saja di tiap prosesnya. Jadi ketika akhirnya mendapat predikat tersebut tentu sangat bersyukur,” katanya melalui keterangan tertulis.

Sejak muda, sosok yang akrab disapa Isti itu memang gemar belajar. Ia pun konsisten dalam program belajarnya. Warga asal Bengkulu itu mengikuti kelas percepatan sejak SMP. Program akselerasi yang ia ikuti hingga SMA membuatnya lulus lebih cepat, dan pendidikan dokter hingga lulus pada tahun 2019. 

"Setelah itu bekerja sebagai dokter umum sekaligus dosen di salah satu tahun 2022 saya melanjutkan studi pendidikan dokter spesialis Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM,” ujarnya. 

Ilmu Kesehatan Anak menjadi pilihan karena ia menyukai bidang ilmu tersebut. Di sisi lain, kebutuhan dokter spesialis anak di daerah asalnya, Bengkulu juga menjadi motivasi kuat dalam menentukan pilihan studi. 

Program double degree 

Selama menjalani pendidikan, Isti mengikuti program double degree yang mengharuskannya menyusun dua tesis dengan fokus serupa, yakni di bidang neonatologi, khususnya terkait hiperbilirubinemia pada neonatus.

Tentu ada tantangan dalam perjalanan pendidikan spesialisnya. Adaptasi dengan tuntutan akademik dan tanggung jawab klinis yang jauh lebih intensif dibandingkan jenjang sebelumnya menjadi salah satunya. 

Selain itu, perbedaan lingkungan dan budaya antara Bengkulu dan Yogyakarta juga menjadi tantangan tersendiri di awal masa studi. Namun, dukungan dari keluarga, teman sejawat, serta para supervisor menjadi faktor penting yang membantunya melewati berbagai tantangan tersebut.

Kendati penuh tantangan, Isti menekankan pentingnya menjaga konsistensi dan niat sejak awal. Menurutnya, pendidikan spesialis merupakan proses panjang yang membutuhkan ketahanan dan tujuan yang jelas. 

Isti berpesan agar setiap mahasiswa dapat menikmati proses yang dijalani. Ia meyakini setiap tahapan pendidikan selalu memberikan pelajaran berharga, baik secara akademik maupun personal. 

“Semoga ilmu yang didapat bisa benar-benar bermanfaat dan memberikan dampak positif, dimanapun kita berada dan berkarya,” imbuhnya. (maw) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.