TRIBUNNEWSMAKER.COM - Suasana di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), mendadak menjadi sorotan publik setelah munculnya spanduk bertuliskan “Shut Up KDM (Diam KDM)” yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam laga sepak bola antara Persib vs Arema pada Jumat (24/4/2026).
Aksi tersebut langsung viral di media sosial dan memicu beragam reaksi dari warganet, mulai dari kritik hingga dukungan terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Di tengah panasnya perbincangan publik, Dedi Mulyadi justru memberikan respons yang tak terduga dan berbeda dari ekspektasi banyak orang.
Alih-alih tersulut emosi, ia memilih merespons dengan tenang dan menyampaikan ucapan terima kasih atas ekspresi yang muncul di ruang publik tersebut.
Pernyataan itu sontak mengejutkan banyak pihak, terutama karena konteks spanduk tersebut bernada provokatif dan bernuansa sindiran politik.
Dedi Mulyadi juga menyinggung soal dinamika politik yang menurutnya memang kerap diwarnai perbedaan pandangan dan ekspresi terbuka di masyarakat.
Ia menilai bahwa kritik, sindiran, hingga penolakan adalah bagian dari proses demokrasi yang harus disikapi dengan kepala dingin.
Respons santainya itu kemudian menjadi bahan perbincangan luas, karena dianggap tidak biasa di tengah situasi yang berpotensi memanas.
Sebagian publik menilai sikap tersebut sebagai bentuk kedewasaan politik, sementara lainnya tetap mempertanyakan makna di balik spanduk tersebut.
Peristiwa ini pun menambah panjang daftar momen kontroversial yang melibatkan figur publik dalam ruang politik dan ekspresi massa di Bandung.
Baca juga: Kisah Enuh Nugraha, Lulusan ITB Bandung Jadi ODGJ, Masih Jenius: Lancar Kalkulus & Matematika Rumit
Seperpti diketahui, Dedi Mulyadi menanggapi, santai spanduk bertuliskan "Shut Up KDM" yang dibentangkan bobotoh Persib Bandung saat laga melawan Arema FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Jumat (24/4/2026).
Dedi Mulyadi justru mengucapkan terima kasih karena diingatkan untuk tidak banyak bicara soal Persib Bandung.
"Teman-teman Bobotoh yang berada di Tribun Utara GBLA, saat pertandingan melawan Arema, saya mengucapkan terima kasih ya atas spanduk yang dibentangkannya," kata Dedi dikutip dari Instagram dan telah dikonfirmasi ulang Kompas.com, Minggu (26/4/2026).
Menurut Dedi, pesan dalam spanduk itu punya maksud baik.
Ia menilai bobotoh ingin menjaga agar sepak bola tetap profesional dan tidak tercampur dengan urusan lain, termasuk politik.
"Saya yakin didasarkan pada sebuah keinginan agar profesionalisme sepak bola tetap terjaga tanpa tercederai oleh politik," katanya.
Mantan Bupati Purwakarta itu mengatakan, kritik seperti itu penting dan perlu diterima dengan terbuka.
Ia menganggap hal tersebut sebagai pengingat agar semua pihak tetap menjaga batas dalam berbicara tentang sepak bola.
"Saya ucapkan terima kasih saya sudah diingatkan," ucap Dedi.
Ia juga mengajak bobotoh untuk fokus mendukung Persib Bandung menghadapi lima laga terakhir, bukan berdebat di media sosial.
Menurutnya, semangat suporter harus diarahkan untuk memberi dukungan penuh kepada para punggawa Maung Bandung.
"Untuk itu saya ucapkan terima kasih atas saran dan kritiknya. Semangat bertanding habis-habisan. Bukan berdebat habis-habisan di media sosial. Haturnuhun," kata Dedi.
Diketahui, spanduk latar putih bertuliskan "Shut Up KDM" viral di media sosial dan menarik perhatian warganet.
Banyak warganet menilai aksi tersebut sebagai bentuk kritik langsung dari suporter kepada tokoh publik, agar olahraga sepak bola bebas dari urusan politik.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi buka suara, terkait polemik bonus Rp 1 miliar untuk pemain Persib Bandung dari Maruarar Sirait yang ramai dibahas di media sosial.
Ia menegaskan, penyampaian informasi itu dilakukan sebagai bentuk keterbukaan kepada publik.
"Bonus Rp 1 miliar berasal dari Asep Ara Sirait, saya menyebutnya kepada Bang Ara Sirait dengan kalimat Asep Ara Sirait karena dia sudah lama sekali tinggal di Jawa Barat saat kuliah di Universitas Parahyangan Bandung," kata Dedi dikutip dari Instagram dan telah dikonfirmasi ulang Kompas.com, Minggu (26/4/2026).
Dedi menjelaskan, bonus tersebut berawal dari pertemuan dirinya dengan Maruarar Sirait dan manajemen Persib.
Dalam pertemuan itu, membahas target Persib Bandung untuk meraih tiga gelar juara secara berturut-turut.
"Dan top management tersebut menyampaikan bahwa tantangannya sangat berat," kata Dedi.
Menurut ia, target tersebut membutuhkan dukungan besar. Dalam diskusi itu, Maruarar Sirait kemudian menyampaikan komitmennya untuk membantu.
"Sehingga secara spontan saat itu Bang Ara menyampaikan bahwa akan membantu memberikan bonus pada setiap pertandingan di kandang lawan," ucap Dedi
Ia menyebutkan, dari tujuh laga tandang, ada lima pertandingan yang akan mendapat bonus masing-masing Rp 1 miliar. Total bonus yang disiapkan mencapai Rp 5 miliar.
"Dan jumlah uang yang diberikan sebesar Rp5 miliar untuk lima pertandingan. Dan pada saat itu, saya menanyakan, bolehkah itu menurut peraturan ketentuan melanggar atau tidak? Top Management mengatakan tidak ada pelanggaran," tuturnya.
Dedi menegaskan, keputusan menyampaikan informasi ini ke publik didasari prinsip transparansi, meski awalnya diminta untuk tidak dipublikasikan.
"Meskipun Bang Ara ke saya menyampaikan, tidak usah disampaikan kepada publik, saya sebagai orang yang selalu menjunjung tinggi transparansi, setiap pengelolaan keuangan saya sampaikan, ini harus disampaikan kepada publik," terang Dedi.
Ia juga mengaku sudah memastikan hal tersebut kepada manajemen Persib sebelum dipublikasikan.
"Saya menanyakan kepada top managementnya, dibolehkan menurut aturan kalau itu dipublis? Dia katakan boleh. Saya tiga kali menanyakan, boleh nggak kalau itu dipublis? Dia nyatakan boleh," katanya.
Dedi pun mengajak bobotoh untuk fokus memberikan dukungan kepada Persib Bandung dalam lima laga tersisa, bukan berdebat di media sosial.
"Untuk itu saya ucapkan terima kasih atas saran dan kritiknya. Semangat bertanding habis-habisan. Bukan berdebat habis-habisan di media sosial. Hatur nuhun," ucapnya.
(TribunNewsmaker.com/Eri Ariyanto)