Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pasar tumpah masih tetap beroperasi dan ramai di kawasan Gasibu hingga Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monju) Bandung, Minggu (26/4/2026) sejak pagi hingga siang.
Pasar tumpah yang selalu hadir tiap Minggu ini tetap ramai di tengah upaya penataan Monju dan Gasibu oleh Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung.
Puluhan lapak pedagang terlihat memadati kawasan tersebut. Parkir motor yang memakan bahu jalan dekat traffic light menyebabkan kemacetan. Kesemrawutan ini tak terhindarkan sejak pagi hingga siang hari.
Walaupun tampak semrawut, keberadaan pasar tumpah ini tetap diharapkan ada oleh masyarakat karena dinilai sangat membantu dan hanya ada seminggu sekali. Seperti yang diungkap Nining warga Padasuka.
"Ya maunya sih terus ada. Kita ke sini kan sekalian penyegaran, refreshing, seminggu sekali jalan-jalan. Jadi, manfaat banget adanya pasar tumpah ini asal jangan lama. Ya kalau macet sebentar enggak apa-apa seminggu sekali ini," katanya ditemui di lokasi.
Tak hanya berbelanja di pasar tumpah, warga pun menikmati fasilitas yang ada untuk berolah raga atau bersantai.
Terpantau, kawasan Monju di Jalan Dipatiukur tengah dibersihkan dari puing-puing bangunan yang terdampak penataan dan pembersihan.
Pedagang pasar tumpah hanya berjualan di bagian dalam Monju hingga ke sekitar Jalan Japati.
Sebelumnya, Koordinator Monumen Perjuangan dari Biro Umum Setda Jawa Barat, Fajar Destian Firdaus mengatakan pembersihan dan penataan tengah dilakukan di kawasan ini selama empat hari.
“Total sudah empat hari kita di sini. Hari ini saja ada sekitar 60 personel, dari Biro Umum, petugas kebersihan, DLH Kota Bandung, DLH Provinsi Jabar, hingga Satpol PP,” ujar Fajar.
Lanjut Fajar, pembersihan dilakukan secara menyeluruh di sejumlah titik, mulai dari Jalan Dipatiukur bagian atas, depan Kopma Unpad, Jalan Singaperbangsa, Jalan Japati, hingga area bawah dekat kantor Pertamina. Selama proses tersebut, volume sampah yang diangkut mencapai enam truk.
Fajar menegaskan, penataan kawasan Monju akan terus dilakukan hingga kondisi benar-benar bersih dan tertib sesuai arahan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Arahannya jelas, semua harus bersih secepat mungkin, tidak boleh ada yang tersisa,” katanya.
Sekda Jabar Pimpin Langsung Pembongkaran PKL dan Bangunan Liar di Monju
Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar, Herman Suryatman memimpin langsung pembongkaran bangunan liar dan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Monumen Perjuangan (Monju), Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Jumat (24/4/2026).
Pembongkaran bangunan liar dan PKL itu dilakukan bersama Pemerintah Kota Bandung, sebagai bagian dari penataan di kawasan Gedung Sate, Gasibu dan Monju.
Sekda Jabar Herman Suryatman mengatakan, upaya ini merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi untuk menghadirkan ruang kota yang bersih, indah, nyaman, dan aman bagi masyarakat.
Herman menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pemerintahan mengingat kawasan tersebut berada di wilayah administratif Kota Bandung, namun memiliki nilai strategis bagi provinsi.
“Karena ini masuk wilayah Kota Bandung, maka kami harus berkoordinasi, kulonowun. Ke depan, penataan kawasan Gedung Sate dan Monju akan dilakukan bersama, mulai dari kebersihan, taman, jalan hingga aspek keamanan,” ujar Herman.
Penataan, kata dia, mencakup penertiban kawasan, seperti spanduk dan baliho, pengaturan pedagang kaki lima (PKL), bangunan liar serta penguatan aspek keamanan lingkungan.
“Kita ingin kawasan ini menjadi contoh. Sebuah ruang kota yang bersih, indah, nyaman, dan aman, sehingga masyarakat bisa memanfaatkannya sebagai ruang terbuka hijau untuk beraktivitas dan bercengkrama,” katanya.
Proses penertiban PKL dilakukan secara bertahap dengan melibatkan para pedagang secara langsung. Sebagian PKL, kata dia, ada yang membongkar lapaknya secara mandiri, sementara sisanya dibantu oleh petugas di lapangan. Bahkan, untuk bangunan liar dilakukan pembongkaran menggunakan alat berat.
“Alhamdulillah teman-teman PKL bagus, kemarin ada yang bongkar sendiri, ada yang dibantu. Termasuk pembongkaran semi permanen di depan Unpad,” katanya.
Herman menambahkan, untuk mencegah PKL kembali berjualan di lokasi tersebut, pengawasan akan diperketat dengan melibatkan petugas keamanan, seperti yang telah diterapkan di kawasan Gasibu.
“Dijagain sama satpam supaya tidak bongkar pasang,” ucapnya.
Terkait akses jalan dan skema arus lalu lintas di kawasan Monju, termasuk kemungkinan penutupan atau pembukaan area jalan, Herman menyebutkan masih dalam tahap koordinasi dengan pemerintah kota dan aparat kepolisian.
“Nanti teknis detailnya diinformasikan kemudian, karena harus dikoordinasikan dengan kota dan jajaran kepolisian,” katanya.
Selain itu, aktivitas pasar mingguan yang biasa digelar di kawasan tersebut juga akan ditertibkan sebagai bagian dari upaya menjadikan area Monumen Perjuangan bebas dari PKL.
“Pokoknya harus bebas PKL, arahan Pak Gubernur,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Bandung Iskandar Zulkarnaen menegaskan komitmen yang sama.
Menurutnya kolaborasi akan mencakup berbagai sektor, mulai dari pengelolaan sampah, penataan infrastruktur, hingga pengaturan lalu lintas dan keamanan kota.
“Termasuk penanganan parkir liar, rekayasa lalu lintas, penataan PKL, serta ketertiban kawasan. Ujungnya tentu pada peningkatan pariwisata. Kalau kota sudah bersih, indah, nyaman, dan aman, maka kunjungan wisata akan meningkat dan berdampak pada pendapatan daerah,” ujar Iskandar.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah provinsi dan kota diharapkan mampu menjadikan kawasan Gedung Sate sebagai role model penataan kawasan perkotaan di Jawa Barat.
Sebelumnya, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menekankan bahwa wajah ibu kota provinsi harus mencerminkan standar tata kota yang baik.
Penataan kawasan Gedung Sate ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Jawa Barat membangun wajah kota Bandung sebagai pusat pemerintahan yang lebih tertib, bersih, dan memiliki kualitas ruang publik yang layak.
“Ini Ibu Kota, Ibu Kota jangan lebih jelek dari ibu tiri,” katanya.