TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU – Guna memastikan ketersediaan stok hingga akhir bulan, manajemen SPBU Semoga Jaya di Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, mulai menerapkan kebijakan pembatasan penjualan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
Langkah ini diambil agar seluruh kendaraan, terutama angkutan logistik, mendapatkan bagian secara merata dan menghindari kekosongan stok di tengah jalan.
Operator SPBU Semoga Jaya, Nini, menjelaskan bahwa kebijakan ini sebenarnya sudah diberlakukan sejak akhir tahun lalu.
Hal ini merupakan respons manajemen terhadap terbatasnya kuota solar yang diterima dari pihak penyedia.
Baca juga: Harga BBM Subsidi, Pertalite dan Solar Dipastikan Tidak Akan Naik, Bahlil: Insya Allah Selamanya
Dalam aturan ini, setiap kendaraan roda empat maupun truk hanya diperbolehkan melakukan pengisian solar maksimal senilai Rp200.000 per hari.
"Jatah solar yang kami terima hanya 60 ton per bulan. Agar operasional tetap berjalan penuh selama sebulan, penyaluran harian harus kami batasi di angka 2.500 hingga maksimal 2.700 liter," jelas Nini.
Manajemen memprediksi, jika tidak dilakukan pembatasan volume penjualan harian, stok solar di SPBU tersebut hanya akan mampu bertahan selama dua pekan operasional saja.
Menariknya, sistem pengawasan dan pencatatan kendaraan di SPBU ini masih dilakukan secara manual oleh petugas lapangan.
Hal ini dikarenakan belum tersedianya sistem pendaftaran digital atau barcode seperti yang sudah diterapkan di kota-kota besar lainnya.
"Kami masih mencatat pelat nomor secara manual karena sistemnya masih offline. Berbeda dengan di Tarakan atau Tanjung Selor yang sudah menggunakan sistem barcode," tambahnya.
Baca juga: Samarinda Perketat Aturan BBM Per 1 April, Beli Solar Wajib Lulus Uji Dishub
Kebijakan ini memberikan dampak langsung bagi para sopir truk logistik. Mereka kini harus lebih cermat dalam mengatur jadwal perjalanan dan jarak tempuh akibat kuota pengisian yang terbatas.
Aris, salah satu sopir truk yang mengantre, mengungkapkan bahwa pembatasan ini memaksa para pengendara untuk datang dan mengantre lebih awal agar tidak kehabisan jatah harian.
"Kami harus pintar-pintar membagi waktu. Jika kuota harian di SPBU sudah habis, kami terpaksa menunggu sampai besok pagi lagi untuk bisa mengisi," kata Aris.
Aris menyatakan, meski dirasa membatasi ruang gerak, kebijakan ini dinilai sebagai solusi terbaik saat ini.
"Daripada membiarkan stok solar habis total, yang justru berisiko melumpuhkan aktivitas transportasi logistik di Malinau," ujarnya. (*)