BANJARMASINPOST.CO.ID RANTAU - Pemerintah Kabupaten Tapin melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Tahun 2026 di Bumi Ruhui Rahayu, Minggu (26/4/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tapin, Muhammad Nor, mengatakan peringatan HKB tahun ini dilaksanakan sesuai arahan BNPB dan surat edaran Bupati Tapin.
Dalam kegiatan tersebut, seluruh stakeholder baik pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat diajak membunyikan sirine, lonceng, atau kentongan secara serentak pada pukul 10.00 WITA selama 30 hingga 60 detik.
“Tujuannya untuk melatih kesiapsiagaan masyarakat menghadapi situasi darurat bencana,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, dari pelaksanaan HKB 2026, pihaknya menerima sebanyak 31 video dokumentasi dari berbagai wilayah di Tapin yang dikirim ke Pusdalops-PB BPBD.
Menurutnya, pembunyian sirine bukan sekadar simbolik, tetapi memiliki sejumlah tujuan penting, di antaranya mensimulasikan kondisi bencana seperti gempa, tsunami, maupun kebakaran, melatih respons cepat masyarakat, serta meningkatkan kesadaran bahwa bencana bisa terjadi kapan saja.
“Ini juga bagian dari uji sistem peringatan dini, memastikan alat berfungsi dan masyarakat mengenali tanda bahaya,” tambahnya.
Secara umum, kesiapan BPBD Tapin tahun 2026 dinilai cukup baik dan terus mengalami peningkatan.
Baca juga: Sosialisasi di Tapin, Waket DPRD Kalsel Soroti Fenomena Fatherless dalam Keluarga
Hal ini terlihat dari berbagai program dan koordinasi lintas sektor yang terus digalakkan. BPBD Tapin juga telah mengembangkan inovasi berupa aplikasi SITABA (Sistem Tanggap Bencana) yang memungkinkan pelaporan bencana secara real-time serta mempercepat respons darurat.
Selain itu, daerah ini telah memiliki dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) hingga 2028 serta enam dokumen rencana kontinjensi sebagai dasar perencanaan berbasis data.
Meski demikian, Muhammad Nor mengakui masih ada sejumlah tantangan dalam pelaksanaan HKB. Salah satunya, kegiatan di beberapa tempat masih bersifat seremonial tanpa diikuti simulasi evakuasi yang realistis.
“Kita terus mendorong agar kegiatan ini tidak hanya simbolik, tetapi benar-benar melatih tindakan nyata saat bencana,” ujarnya.
Evaluasi lainnya, sistem peringatan dini belum merata di seluruh wilayah, serta masih ada daerah yang belum memiliki jalur evakuasi yang jelas.
Ke depan, BPBD Tapin akan memperkuat edukasi sejak dini melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan memperluas simulasi berbasis praktik langsung.
Sementara itu, terkait potensi bencana, saat ini Tapin berada dalam masa peralihan dari musim hujan ke kemarau.
Beberapa wilayah sempat mengalami genangan, namun kondisi air mulai surut.
Berdasarkan prakiraan cuaca, musim kemarau diperkirakan mulai pada Mei dan mencapai puncaknya pada Agustus 2026.
Untuk risiko bencana, hampir seluruh kecamatan di Tapin memiliki potensi banjir dengan tingkat sedang, kecuali Kecamatan Piani yang tergolong rendah.
Sedangkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tergolong tinggi di semua wilayah.
Sebagai upaya mitigasi, BPBD Tapin terus melakukan sosialisasi ke sekolah dan masyarakat, serta akan menggelar apel siaga karhutla pada minggu ketiga Mei mendatang.
Selain itu, posko siaga bencana karhutla juga akan diaktifkan guna mempercepat respons dan memperkuat koordinasi di lapangan. (Banjarmasinpost.co.id/Mukhtar Wahid)