Bersinergi dengan KDM, Farhan Perluas Sasapu Bandung ke 181 Titik: Camat dan Lurah Turun Subuh
Muhamad Syarif Abdussalam April 27, 2026 07:45 AM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Upaya merapikan wajah Kota Bandung terus digenjot melalui penguatan program “Sasapu Bandung” yang kini hadir dengan cakupan jauh lebih luas dari sebelumnya.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar kegiatan simbolik, melainkan langkah nyata yang dirancang agar persoalan kebersihan ditangani langsung dengan pendekatan yang terukur.

Program Sasapu sendiri lahir dari kerja sama antara Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dukungan dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut memperkuat pelaksanaan program ini di lapangan.

Sinergi lintas pemerintahan tersebut menjadi bagian dari strategi percepatan untuk mengatasi persoalan kebersihan yang selama ini masih menghadapi hambatan struktural di berbagai titik kota.

“Ini bukan sekadar kegiatan bersih-bersih. Ini adalah gerakan perubahan pola kerja dan pola pikir. Aparat kewilayahan harus turun langsung, melihat kondisi nyata di lapangan,” ujar Farhan di Teras Sunda Cibiru, Kota Bandung, Sabtu, 25 April 2026.

Setelah melalui evaluasi tahap awal, cakupan program yang sebelumnya hanya menyentuh 46 lokasi kini diperluas drastis menjadi 181 titik yang tersebar di seluruh wilayah Kota Bandung.

Perluasan ini dilakukan karena masih banyak area yang membutuhkan penanganan lebih intensif, terutama titik-titik dengan persoalan kebersihan yang belum tertangani optimal.

Farhan mengakui bahwa hasil pelaksanaan pada fase awal belum sepenuhnya memenuhi harapan. Karena itu, penguatan program dilakukan agar dampaknya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Keterlibatan langsung aparat kewilayahan menjadi salah satu ciri utama dari program ini. Camat dan lurah diwajibkan hadir di lapangan setiap hari Minggu, sejak pukul 04.00 hingga 07.00 WIB.

Kebijakan tersebut ditujukan agar para pemimpin wilayah tidak hanya mengandalkan laporan administratif, tetapi juga memahami kondisi riil, mulai dari titik rawan sampah, saluran air yang tersumbat, hingga area yang membutuhkan penanganan cepat.

“Tidak bisa hanya duduk di kantor. Harus lihat langsung. Dengan begitu, solusi yang diambil juga lebih tepat,” ucap Farhan.

Selain itu, kegiatan ini juga difungsikan sebagai instrumen evaluasi langsung terhadap kinerja aparat kewilayahan dalam menjaga kebersihan lingkungan masing-masing.

Untuk mendukung pelaksanaan di lapangan, program Sasapu diperkuat dengan tambahan sekitar 130 tenaga kebersihan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Kehadiran personel tambahan ini diharapkan mampu mempercepat penanganan di lokasi prioritas sekaligus meningkatkan efektivitas kerja di lapangan.

Pendekatan kolaboratif antarlevel pemerintahan dinilai menjadi langkah penting, mengingat persoalan kebersihan tidak bisa diselesaikan secara parsial dan membutuhkan kerja sama yang solid.

Farhan menilai keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh tingkat kedisiplinan aparat kewilayahan. Karena itu, Pemkot Bandung menerapkan mekanisme pengawasan dan evaluasi yang ketat.

Sanksi pun disiapkan bagi aparatur yang tidak menjalankan tugas sesuai ketentuan, termasuk bagi mereka yang tidak hadir atau tidak bekerja secara optimal.

“Kedisiplinan itu wajib. Kalau tidak turun, akan ada evaluasi dan sanksi. Ini bukan kegiatan seremonial,” tutur Farhan.

Lebih dari sekadar aksi bersih-bersih, Sasapu juga menjadi sarana untuk memetakan berbagai persoalan lingkungan secara langsung. Mulai dari penumpukan sampah, kondisi drainase, hingga potensi masalah kebersihan lainnya.

Temuan di lapangan kemudian dijadikan dasar untuk menentukan langkah lanjutan, baik berupa penanganan cepat maupun perencanaan kebijakan dalam jangka menengah.

Melalui pendekatan ini, Pemkot Bandung ingin menggeser pola penanganan kebersihan dari yang sebelumnya reaktif menjadi lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Dengan cakupan yang semakin luas, program Sasapu diharapkan mampu menghadirkan perubahan nyata, tidak hanya pada kondisi lingkungan, tetapi juga pada kinerja aparat kewilayahan di tingkat paling dekat dengan masyarakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.