Laporan Wartawa TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU - Aktivitas di sebuah peternakan sederhana di Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, mendadak menjadi perhatian menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Pantauan TribunPalu.com, Senin (27/4/2026), dilokasi itu, seekor sapi berukuran jumbo tampak mencolok.
Tubuhnya besar, berwarna cokelat, dengan bobot tercatat mencapai 922 kilogram.
Sapi jenis Simental tersebut dikenal dengan nama “Si Kentung”, yang kini ditetapkan sebagai hewan kurban bantuan kemasyarakatan (Banmas) Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk Provinsi Sulawesi Tengah.
Di balik terpilihnya sapi tersebut, ada peran Sutran Indah Haryono, peternak lokal yang telah menekuni usaha ternak sapi selama lebih dari satu dekade.
Sutran menceritakan, proses seleksi “Si Kentung” bermula dari kedatangan mantri hewan yang menanyakan bobot sapi di kandangnya.
Baca juga: Wujud “Si Kentung” Sapi Kurban Presiden Untuk Provinsi Sulteng, Bobot Tembus 922kg
Pengukuran awal dilakukan menggunakan lingkar dada dan metode estimasi lainnya.
Selanjutnya, tim dari dinas terkait datang membawa timbangan untuk memastikan berat sapi secara akurat.
“Setelah ditimbang, beratnya mencapai 922 kilogram dan langsung masuk kandidat, sambil tetap dicari pembanding,” ujar Sutran.
Proses pencarian sapi pembanding tidak hanya dilakukan di sekitar Kota Palu, tetapi juga menjangkau sejumlah daerah lain di Sulawesi Tengah.
Namun, bobot sapi yang ditemukan di wilayah tersebut rata-rata hanya berkisar 800 kilogram, sehingga “Si Kentung” tetap menjadi yang paling unggul.
“Karena tidak ada yang melebihi, akhirnya sapi ini yang dipilih,” katanya.
Sapi yang kini berusia sekitar tiga tahun itu merupakan jenis Simental yang dikenal memiliki potensi pertumbuhan bobot yang baik.
Sutran sendiri merupakan pemilik kedua yang telah merawatnya lebih dari dua tahun.
Baca juga: Sering Diadukan Warga ke DPRD Banggai, Nasdem Soroti Masalah Tambang
Meski menghasilkan sapi dengan ukuran luar biasa, Sutran mengaku tidak menggunakan metode khusus dalam penggemukan. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam pemberian pakan.
Karena Sutran juga memiliki pabrik tahu, setiap paginya sapi diberi ampas tahu yang dicampur dedak.
Sementara pada sore hingga malam hari, pakan berupa rumput hijau diberikan secara rutin, bahkan hingga menjelang tengah malam.
Selain pakan, perawatan kesehatan juga menjadi perhatian utama.
Sutran secara rutin memanggil mantri hewan jika sapi menunjukkan tanda-tanda kurang sehat.
Pemberian vitamin, obat cacing, hingga penggunaan ramuan tradisional seperti gula merah dan jahe menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi sapi tetap prima.
“Kalau terlihat lesu, biasanya kami bantu dengan ramuan tradisional juga,” ujarnya.
Perjalanan Sutran di dunia peternakan dimulai sejak kecil, sebelum akhirnya ia menekuni usaha tersebut secara serius sejak sekitar tahun 2012.
Kini, ia memelihara sekitar lima ekor sapi.
Baca Juga: Bupati Poso Apresiasi Sinergi Kejaksaan Tinggi dan Pemerintah Daerah Sulteng
Masih di Kandang yang sama, tampak ada dua ekor sapi lagi yang berukuran besar.
“Kalau yang dua ini sekarang belum dijual, mau disiapkan untuk tahun tahun selanjutnya,” tuturnya.
Namun, “Si Kentung” menjadi yang paling istimewa karena berhasil menembus seleksi ketat tingkat provinsi.
Pemerintah melalui Dinas Peternakan dan Perkebunan Sulawesi Tengah diketahui telah membeli sapi tersebut dengan harga Rp135 juta.
Saat ini, Sutran tinggal menunggu proses lanjutan dari pemerintah pusat terkait jadwal penyerahan dan pengiriman sapi ke lokasi penyembelihan.
Di tengah kesibukannya sebagai peternak, ia mengaku bangga atas pencapaian tersebut.
“Tentu bangga, karena pesaingnya dari seluruh Sulawesi Tengah. Ada kepuasan tersendiri bisa sampai di titik ini,” ucapnya.
Sebagai informasi, “Si Kentung” dijadwalkan akan disembelih di Masjid Raya Baitul Khairaat, Kota Palu, pada puncak pelaksanaan Idul Adha 2026, bersama sapi kurban lainnya yang disalurkan pemerintah. (*)