Kasus kekerasan pada anak diduga terjadi di sebuah penitipan anak atau daycare Little Aresya di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja. Dalam keterangan pihak berwajib, anak-anak yang dititipkan di sana diikat dan dibiarkan tidur di lantai tanpa baju.
Kejadian tersebut tentunya membuat banyak orang tua yang khawatir saat memilih daycare. Menanggapi itu, psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan para orang tua lebih teliti dan memastikan keamanan tempat penitipan anak.
"Jangan hanya melihat tempat yang estetik atau viral di media sosial. Yang paling penting adalah keamanan emosional anak," tegasnya saat dihubungi detikcom, Minggu (26/4/2026).
Terkait hal ini, orang tua harus lebih teliti lagi dalam memilih daycare yang aman untuk anak. Mulai dari perbandingan jumlah pengasuh dan anak yang dititipkan harus masuk akal.
"Rasio pengasuh dan anak harus masuk akal. Kalau terlalu banyak anak dan terlalu sedikit pengasuh, risiko neglect atau pengabaian akan meningkat," sambung dr Lahargo.
Selain itu, pihak daycare juga harus transparansi kepada orang tua yang menitipkan anaknya. Mereka berhak melihat sistem pengasuhan, alur kerja pengasuh, akses melihat CCTV, laporan harian, hingga komunikasi pihak daycare yang terbuka tentang apa saja yang terjadi di sana.
Orang tua juga harus teliti dalam memperhatikan interaksi antara pengasuh dan anak. Umumnya, para pengasuh harus sabar, responsif, hangat, dan tetap menghormati anak yang dititipkan.
"Orang tua juga harus lebih teliti lagi dalam memastikan daycare yang dipilih terbukti memiliki izin yang jelas, terbuka, dan memiliki sistem evaluasi yang baik," kata dr Lahargo.
"Ingat selalu, pilih daycare bukan hanya tempat untuk menitipkan anak, tetapi tempat menitipkan rasa percaya. Anak tidak butuh tempat yang paling mewah, mereka butuh tempat yang membuat jiwanya merasa aman," lanjutnya.
Jika orang tua merasa ada yang tidak beres, lanjut dr Lahargo, jangan mengabaikan intuisi tersebut. Bisa saja itu merupakan alarm pertama yang memang datang dari rasa tidak nyaman seorang ibu atau ayah terhadap anaknya.
"Karena ketika tempat yang seharusnya melindungi justru melukai, yang rusak bukan hanya hari itu, tetapi cara anak memandang dunia di kemudian hari. Melindungi anak bukan hanya menjaga tubuhnya tetap utuh, tetapi menjaga hatinya tetap percaya bahwa dunia masih aman," tutupnya.





