TRIBUNJOGJA.COM - TECNO memperkenalkan ponsel seri flagship terbaru mereka bertajuk TECNO CAMON 50 Series pada Rabu (4/3/2026).
Ponsel CAMON (seri) 50 dipromosikan sebagai ponsel yang unggul dalam kreasi seni fotografi, berdasarkan informasinya.
TECNO juga memaparkan fitur Practical AI terbaru mereka yang multifungsi, mulai dari produktivitas hingga editing fotografi.
Sony LYTIA (sebelumnya dikenal sebagai Sony IMX) merupakan sensor gambar yang diproduksi oleh Sony Semiconductor Solutions Corporation.
LYTIA membawa kinerja fotografi yang fokus pada penangkapan cahaya dan akurasi warna, tidak sekadar mengandalkan pemrosesan software.
Teknologi yang digandeng melalui sensor gambar LYTIA bermacam tergantung seri produk ponsel.
Pada kelas atas, teknologi yang dibekali contohnya seperti stacked sensor dan Hybrid Frame-HDR.
Baca juga: Poco F7 Ultra vs Poco F8 Ultra: Peningkatan Flagship Monster Performa
Namun secara umum, Sony LYTIA mampu menghasilkan dynamic range warna yang lebih luas serta detail yang tetap terjaga.
Hasilnya, foto cenderung lebih natural dengan reproduksi warna yang mendekati kondisi asli.
Keunggulan lainnya yang dimiliki Sony LYTIA adalah pixel size yang lebih besar dibanding kompetitornya.
Karena karakter tersebut, sensor Sony LYTIA banyak digunakan pada perangkat yang menargetkan kualitas fotografi lebih akurat.
Melansir dari TECNO, seri CAMON 50 ditenagai oleh sensor Sony LYTIA 700C.
Sony LYTIA 700C tergolong sebagai sensor gambar kelas menengah-ke atas dalam lini seri tersebut, dengan paling terbaru yaitu LYTIA 901.
LYTIA 700C hadir dengan spesifikasi sensor kamera 50 MP dengan ukuran 1/1.56" (inci) dan piksel 1.0μm (mikrometer).
Sensor ini dibekali teknologi Dual Analog Gain HDR (DAG-HDR), yang memungkinkan pengambilan gambar dengan rentang dinamis lebih luas.
Detail pada area terang dan gelap dapat ditangkap dalam satu frame, sehingga hasil foto terakhir terlihat lebih seimbang.
Baca juga: Samsung Galaxy Z Fold 7 vs Vivo X Fold 3 Pro: Duel HP Lipat 2026
Fitur Less Blanking Multi Frame (LBMF) juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas gambar melalui pemrosesan multi-frame.
Teknologi ini membantu menghasilkan foto yang lebih bersih dan stabil, terutama dalam kondisi pencahayaan rendah.
Dari sisi fokus, LYTIA 700C mengandalkan All-pixel Autofocus, di mana seluruh piksel pada sensor berproses pada penguncian fokus gambar.
Pendekatan ini memungkinkan kinerja autofocus yang lebih cepat hingga instan dan akurat, bahkan saat menangkap objek bergerak.
Untuk kebutuhan video, sensor ini mendukung perekaman hingga kualitas 4K pada 30 frame per detik.
Dukungan tersebut menjadikannya cukup mumpuni untuk penggunaan konten harian, baik foto maupun video.
Secara keseluruhan, Sony LYTIA 700C menawarkan kombinasi teknolog dengan pengolahan yang natural dan unggul dalam pencahayaan rendah.
Bahkan TECNO melabeli nya sebagai "...Ultra Night Camera" berkat kemampuan penangkapan gambar saat malam hari.
TECNO tidak hanya mengandalkan kekuatan hardware kamera pada CAMON 50, tetapi juga mendorong optimalisasi hasil foto melalui AI.
Bedanya, AI yang bertajuk TECNO AI ini terintegrasi langsung dalam pemrosesan gambar saat penjepretan foto dan editing foto.
Melalui teknologi AI RAW Imaging, kamera mampu menyesuaikan berbagai skenario pemotretan.
Mulai dari potret, lanskap, hingga kondisi malam hari, sensor LYTIA 700C akan dibantu dengan fitur AI RAW Imaging.
Pada spesifikasi TECNO CAMON 50 Ultra 5G, AI yang dibanderol sudah ditingkatkan menjadi AI RAW 2.0 Imaging engine,
Baca juga: POCO X8 Pro Rilis di Indonesia, Penerus HP Raja Gaming 4 Jutaan di 2026
Lebih dari itu, TECNO menghadirkan "Everday AI" yang memfokuskan AI pada hasil editing foto seperti filter warna dan perbaikan ketajaman.
AI Art Gallery milik TECNO ditenagai oleh Dream Scape model, AI yang memiliki referensi kreasi seni global dan budaya lokal melimpah.
Fitur AI LightMaster 2.0 turut berperan dalam meningkatkan kualitas foto di lingkungan minim cahaya.
Teknologi ini bekerja dengan mengoptimalkan distribusi cahaya dan mengurangi noise pada hasil gambar.
Hasilnya, gambar akan terlihat terang tanpa mengurangi detail ketajaman pada gambarnya.
Dalam praktiknya, pengguna dapat menangkap momen malam hari dengan hasil yang lebih jelas dan minim gangguan visual.
Selain itu, TECNO juga menyematkan AI Auto Zoom yang mampu mendeteksi subjek secara otomatis dan menyesuaikan framing.
Fitur ini membantu pengguna mendapatkan komposisi yang lebih fokus tanpa harus mengatur zoom secara manual.
Teruntuk CAMON 50 Ultra 5G sendiri, ponsel ini telah mendukung mode AI 60X SuperZoom pada aplikasi kamera-nya.
Di sisi lain, pemrosesan multi-frame berbasis AI memungkinkan kamera menggabungkan beberapa tangkapan untuk menghasilan satu foto optimal.
Teknik ini membantu meningkatkan dynamic range serta menjaga detail di area terang dan gelap secara bersamaan.
Dengan integrasi berbagai fitur tersebut, TECNO AI berperan sebagai elemen kunci dalam menjaga konsistensi hasil foto.
AI juga bekerja secara tandem dengan sensor LYTIA yang sudah bagus, untuk memastikan pengguna dapat memperoleh hasil gambar terbaik.
Di segmen ponsel dengan harga Rp3 jutaan, kualitas pada kamera ponsel sering jadi titik kompromi.
Ada ponsel yang unggul dalam performa chipset, dan ada juga yang memilih unggul dalam kapasitas baterai dengan kisaran harga tersebut.
Baca juga: HP Rp 1 Jutaan Xiaomi Redmi A7 Pro Dirilis April 2026: Ada UFS, Layar 120Hz, Baterai 6.000mAh
Namun pada TECNO CAMON 50, pendekatan yang diambil justru menggandeng kamera kelas mengengah-ke atas di harga Rp3,5 juta.
Perangkat ini membawa sensor Sony LYTIA 700C beresolusi 50 MP dengan ukuran 1/1.56 inci dan dukungan OIS, kombinasi yang jarang ditemui di kelas harga serupa.
Dari sisi hardware, ukuran sensor yang relatif besar memungkinkan penangkapan cahaya lebih optimal, sehingga hasil foto tetap terjaga baik di kondisi terang maupun minim cahaya.
Jika dibandingkan dengan kompetitor di rentang harga serupa, banyak yang masih mengandalkan sensor lebih kecil atau minim stabilisasi.
Sebagai referensi, ponsel Xiaomi Redmi Note 14 pada varian terbitan Cina dan India masih menggunakan Sony LYTIA 600.
Sedangkan ponsel tersebut berkisar di rentang harga Rp2,3 jutaan hingga Rp4 jutaan, dengan sensor gambar di bawah TECNO CAMON 50.
Baca juga: Redmi Note 14 Pro Series: Gadget Andalan untuk Content Creator, Siap Bikin Karya Lebih AICONIC
Detail yang dihasilkan juga lebih konsisten, tidak mudah hilang saat menghadapi kontras tinggi seperti langit terang dan bayangan gelap dalam satu frame.
Di kondisi malam hari, kombinasi sensor Sony dan fitur pemrosesan berbasis AI masih mampu menjaga detail tetap terlihat.
Noise yang dihasilkan dari pemtoretan gambar malam hari juga memiliki noise yang relatif terkontrol.
Dukungan OIS (Optical Image Stabilization) yang menstabilkan getaran saat merekam video juga hadir di ponsel dengan kelas harga ini.
CAMON 50 memiliki keunggulan yang jelas, terutama bagi pengguna yang mencari kualitas foto dibanding angka spesifikasi ponsel kencang.
Dengan kamera solid dan AI yang matang, CAMON 50 layak disebut juara pada fotografi di kelas harganya.
(MG Fadhlullah Ramadhan)