TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keselamatan menjadi fondasi mutlak yang tidak dapat ditawar dalam setiap aktivitas di alam bebas.
Bagi organisasi pencinta alam, menempatkan aspek keamanan sebagai prioritas utama bukan sekadar pemenuhan standar operasional, melainkan sebuah komitmen mendalam untuk melahirkan sumber daya manusia yang bertanggung jawab terhadap nyawa dan kelestarian lingkungan.
Pembina Organisasi pencinta alam SMA Negeri 68 Jakarta, Elpala, Rahman Rudyansyah, menegaskan bahwa keselamatan harus bertransformasi dari sekadar materi pendidikan menjadi sebuah budaya yang mendarah daging bagi setiap anggota.
SMA Negeri 68 Jakarta merupakan salah satu sekolah menengah atas negeri unggulan di Jakarta yang terletak di Jl. Salemba Raya, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat,
"Kesadaran akan batas kemampuan diri, disiplin terhadap prosedur teknis, serta semangat untuk saling menjaga merupakan prinsip dasar yang terus diperkuat dalam sistem kaderisasi organisasi," katanya, dikutip Senin (27/4/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, pendiri Elpala, Dar Edi Yoga, melihat bahwa orientasi keselamatan sangat berkaitan erat dengan pembentukan karakter.
Pendidikan di alam terbuka sejatinya bukan sekadar bertujuan untuk menguatkan fisik, melainkan untuk mengasah pola pikir dan ketajaman dalam mengambil keputusan di bawah tekanan.
Baca juga: Mahasiswa Pecinta Alam UI Jelajahi Gunung Patah Selama 13 Hari
Kesadaran kolektif seluruh anggota dinilai jauh lebih efektif dibandingkan sekadar kepatuhan pada aturan tertulis.
Langkah penguatan karakter ini juga dibarengi dengan reformasi sistem pendidikan yang telah dilakukan Elpala sejak tahun 2004.
Organisasi pecinta alam ini secara konsisten meninggalkan pola pendidikan semi-militer dan menghapus segala bentuk praktik perpeloncoan maupun perundungan (bullying).
Pendekatan humanis namun disiplin ini diterapkan guna memastikan proses regenerasi berjalan secara sehat dan edukatif.
Komitmen tersebut tercermin dalam agenda pelantikan anggota angkatan ke-41 yang digelar di Hopeland Camp, Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, akhir pekan lalu.
Selain dihadiri oleh Ketua Elpala Dafa Maheswara dan jajaran pengurus, prosesi khidmat ini juga disaksikan oleh para pendiri, yakni Dar Edi Yoga dan Eka Bama Putra, serta anggota senior lintas generasi dan pemilik Hopeland Camp, Hendrata Yudha.
Dalam rangkaian pendidikan tersebut, para peserta dibekali kemampuan teknis yang komprehensif, mulai dari navigasi darat, manajemen perjalanan, hingga teknik bertahan hidup (survival).
Standar pendidikan yang ketat namun aman ini diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi organisasi pencinta alam tingkat sekolah menengah atas lainnya, khususnya di wilayah Jakarta, dalam mengelola kegiatan luar ruang yang berisiko tinggi.