Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta (Daop 1 Jakarta) mencatat kinerja layanan angkutan barang mencapai total volume mencapai 808.662 ton selama periode Januari-Maret atau triwulan I tahun 2026.

Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, mengatakan capaian ini menunjukkan peran strategis kereta api dalam mendukung distribusi logistik nasional yang efisien dan berkelanjutan.

“Kereta api menjadi salah satu solusi utama dalam distribusi logistik karena mampu mengangkut barang dalam jumlah besar secara tepat waktu dan lebih efisien. Selain itu, angkutan barang dengan kereta api juga lebih ramah lingkungan,” ujar dia di Jakarta, Senin.

Franoto merinci, komoditas peti kemas menjadi kontributor terbesar dalam kinerja angkutan barang Daop 1 Jakarta pada triwulan I tahun 2026 yakni sebanyak 761.073 ton, diikuti semen (20.240 ton), parcel (18.881 ton), angkutan barang pendukung prasarana perkeretaapian seperti rel, batu ballast, dan material lainnya (5.943 ton), serta barang hantaran potongan (2.525 ton).

“Kinerja ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelanggan terhadap layanan angkutan barang KAI yang dinilai aman, tepat waktu, dan kompetitif," kata Franoto.

Franoto mengajak para pelaku usaha dan masyarakat untuk memanfaatkan angkutan barang berbasis kereta api sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem logistik yang lebih berkelanjutan.

Penggunaan kereta api dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap angkutan jalan raya, sehingga dapat meminimalisir potensi pelanggaran Over Dimension Over Loading (ODOL) yang berisiko terhadap keselamatan serta kerusakan infrastruktur jalan.

Selain itu, moda transportasi kereta api juga berkontribusi dalam menekan emisi karbon dibandingkan angkutan berbasis kendaraan darat, sehingga mendukung penerapan konsep transportasi hijau (green transportation).

“Melalui layanan angkutan barang kereta api, kami mengajak masyarakat dan pelaku usaha untuk bersama-sama beralih ke moda transportasi yang lebih ramah lingkungan, aman, dan berkelanjutan. Ini menjadi langkah nyata dalam mendukung pengurangan emisi karbon serta menciptakan sistem logistik yang lebih hijau,” demikian kata Franoto.