- Dua mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, resmi mengumumkan pembentukan koalisi baru bernama partai "Beyahad" demi menggulingkan petahana Benjamin Netanyahu dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Oktober mendatang.
"Malam ini, bersama teman saya Yair Lapid, saya mengambil langkah paling patriotik untuk negara kami," ujar Bennett dalam pernyataan bersama yang disiarkan televisi, Minggu (26/4/2026). Langkah politik ini menjadi ancaman serius bagi dominasi Netanyahu yang telah berkuasa selama 18 tahun.
Di bawah kepemimpinan Bennett, koalisi Beyahad mengusung misi utama membentuk komisi penyelidikan nasional untuk mengusut kegagalan intelijen dan militer pada serangan Hamas 7 Oktober 2023. Langkah ini merupakan hal sensitif yang selama ini konsisten ditolak oleh pemerintahan Netanyahu.
Selain isu keamanan, koalisi ini lahir dari kritik tajam terhadap cara Netanyahu menangani perang dan kebijakan luar negeri. Yair Lapid menyebut gencatan senjata dua minggu dengan Iran baru-baru ini sebagai "bencana politik." Meskipun berbeda ideologi, Bennett dari sayap kanan dan Lapid dari faksi sentris sepakat bersatu demi era baru bagi Israel.
Naftali Bennett (54) yang merupakan mantan penasihat dekat Netanyahu, kini menjadi rival sengit yang populer di kalangan generasi muda. Sementara Yair Lapid (62) membawa kekuatan partai Yesh Atid ke dalam koalisi Beyahad. Di sisi lain, Benjamin Netanyahu (76) dipastikan tetap memimpin partai Likud menghadapi tantangan terbesar dari mantan orang kepercayaannya sendiri.