AS akan Gunakan Lumba-Lumba untuk Bersihkan Ranjau Iran, Bagaimana Caranya?
Eddy Fitriadi April 28, 2026 12:38 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan di Selat Hormuz kian meningkat seiring terganggunya lalu lintas maritim di salah satu jalur energi terpenting dunia. Di tengah situasi tersebut, muncul berbagai skenario tidak konvensional yang disebut-sebut tengah dipertimbangkan Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur pelayaran.

Salah satu opsi yang mencuat adalah penggunaan lumba-lumba terlatih untuk mendeteksi dan membersihkan ranjau laut—teknologi militer yang terbilang tidak lazim, namun pernah digunakan dalam operasi sebelumnya.

Sejumlah analis menilai, pembersihan ranjau laut menjadi tantangan terbesar dalam upaya membuka kembali selat tersebut. Proses pengamanan satu jalur pelayaran saja diperkirakan memakan waktu hingga satu setengah bulan, sementara pembersihan seluruh wilayah bisa berlangsung sampai empat bulan.

Kompleksitas ini semakin diperparah oleh karakter ranjau yang dapat menyamar sebagai batu atau terkubur di dasar laut, sehingga sulit dideteksi dengan teknologi konvensional.

Dalam kondisi normal, negara-negara Eropa memiliki keunggulan dalam operasi penyapuan ranjau dengan lebih dari 100 kapal khusus. Namun tanpa dukungan tersebut, Amerika Serikat dinilai perlu mencari alternatif, termasuk memanfaatkan kemampuan biologis hewan laut seperti lumba-lumba.

Secara historis, militer AS pernah menggunakan lumba-lumba dalam operasi di kawasan Teluk pada 1991 dan 2003. Hewan ini dikenal memiliki kemampuan ekolokasi yang memungkinkan mereka mendeteksi objek di bawah air dengan tingkat akurasi tinggi, bahkan melampaui beberapa sistem buatan manusia.

Di sisi lain, dinamika konflik di kawasan ini disebut semakin kompleks dan tidak konvensional. Pakar militer asal Lebanon, Hassan Jouni, menyebut konfrontasi di Selat Hormuz saat ini bertumpu pada dua strategi berlawanan: blokade laut oleh Amerika Serikat dan ancaman penutupan selat oleh Iran.

Menurutnya, kedua pihak memanfaatkan posisi masing-masing sebagai alat tekanan dalam negosiasi. Embargo AS memang berdampak pada ekonomi Iran, namun belum sepenuhnya efektif karena masih adanya jalur distribusi alternatif.

Baca juga: Zelenskyy Marah ke Amerika Serikat soal Izin Rusia Jual Minyak

Sebaliknya, Iran memegang kartu strategis dengan potensi menutup Selat Hormuz, yang dampaknya tidak hanya dirasakan Amerika Serikat, tetapi juga ekonomi global secara keseluruhan.

Jouni menilai, konflik ini berada dalam kondisi “keseimbangan rapuh”. Amerika Serikat belum mampu mengamankan jalur pelayaran sepenuhnya, sementara Iran terus mengandalkan taktik asimetris seperti ranjau laut, kapal cepat, dan rudal pesisir.

Sinyal eskalasi juga terlihat dari pernyataan pejabat Iran. Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, menegaskan negaranya tidak akan mengembalikan kondisi Selat Hormuz seperti semula.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa krisis di kawasan ini berpotensi berlangsung lebih lama, sekaligus mempersempit ruang bagi penyelesaian dalam waktu dekat. (oln/khbrn/*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.