Awalnya Gonggongan Anjing, Anak SMA di Jambi dan 2 Paman Bunuh Ayah Okta
asto s April 28, 2026 10:11 AM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - "Diduga, mamanya pelaku mengira adik kami menyebut anaknya anjing, jadi langsung marah dan mengejar adik kami," ujar Okta saat diwawancara di lokasi kejadian.

Berawal dari anak-anak kecil yang sedang bermain, lalu ada gonggongan anjing, tragedi berdarah terjadi di Kota Jambi.

Peristiwa itu terjadi di RT 10, Pinang Merah, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi. 

Seorang anak SMA dan dua pamannya menghabisi nyawa bapak bernama Indra Kusuma (39), yang merupakan tetangganya sendiri.

Berikut ini penuturan Okta (18), anak Indra Kusuma korban penusukan dan pembunuhan.

Berawal saat adiknya bermain di depan rumah pelaku

Saat itu, seekor anjing menggonggong. 

Anak-anak yang berada di lokasi menyebut kata anjing.

"Diduga, mamanya pelaku mengira adik kami menyebut anaknya anjing, jadi langsung marah dan mengejar adik kami," ujar Okta saat diwawancara di lokasi kejadian.

Adik Okta berlari dan bersembunyi di semak-semak karena ketakutan. 

Peristiwa itu sempat disaksikan beberapa warga.

Bagaimana peristiwa itu terjadi? Berikut petikan wawancara Reporter Tribun jambi, Rifani Halim, bersama Okta, putri dari almarhum Indra Kusuma, dalam program Saksi Kata Reporter Tribun Jambi:

Reporter Tribun Jambi: Izin, Kak. Bisa diceritakan bagaimana awal kejadian itu terjadi?

Anak Korban: Awalnya itu masalah kecil. Adik kami sedang main sama anak-anak lain di depan rumah terduga pelaku. 

Lokasinya di jalan menuju rumah paman kami. Di bagian atas jalan itu ada anjing.

Reporter Tribun Jambi: Lalu apa yang terjadi?

Anak Korban: Anjing itu menggonggong. Terus ada kawan adik kami yang bilang, “Ih, ada anjing.” 

Tapi mamak (ibu) dari terduga pelaku mengira adik kami mengatai anaknya anjing. Dari situ mamaknya langsung marah.

Reporter Tribun Jambi: Apa reaksi mamak (ibu) terduga pelaku saat itu?

Anak Korban: Dia langsung mengejar adik kami dan kawan adik kami. 

Adik kami sampai lari ketakutan dan sembunyi di semak-semak.

Reporter Tribun Jambi: Apakah ada saksi yang melihat kejadian itu?

Anak Korban: Ada. Orang-orang di bagian atas jalan itu lihat. 

Salah satunya Dewa, yang kemudian datang ke rumah kami, ke tempat paman, dan cerita kalau mamak terduga pelaku nyari-nyari adik kami sambil marah-marah.

Reporter Tribun Jambi: Adik yang dikejar itu adik kandung Kakak?

Anak Korban: Iya, adik kandung kami.

Reporter Tribun Jambi: Setelah itu, apa yang dilakukan keluarga Kakak?

Anak Korban: Mamak (ibu) kami (saya) mendatangi mamak terduga pelaku untuk menanyakan kejadian itu. 

Tapi mamaknya bilang dia ngomong baik-baik. 

Padahal kalau baik-baik, adik kami nggak mungkin lari sampai sembunyi.

Reporter Tribun Jambi: Lalu bagaimana situasinya berkembang?

Anak Korban: Waktu itu ada sepupu kami yang jadi saksi. 

Terus anak dari mamak itu, yang kemudian membunuh bapak kami, menegur sepupu kami, katanya jangan ngomong macam-macam dan menyuruh duduk masing-masing. 

Nada bicaranya keras.

Reporter Tribun Jambi: Apa respons ayah Kakak saat itu?

Anak Korban: Bapak kami menegur balik, nanya kenapa dia nyegak-nyegak atau marah-marah ke sepupu kami. 

Tapi malah bapak kami yang disegak juga sama pelaku.

Reporter Tribun Jambi: Setelah itu pelaku pergi?

Anak Korban: Iya. Dia langsung pergi ambil motor. Setelah itu dia balik lagi ke lokasi bersama keluarganya.

Reporter Tribun Jambi: Saat kembali itu, apakah pelaku sudah membawa senjata?

Anak Korban: Iya. Dia datang sudah bawa mandau dan pisau.

Reporter Tribun Jambi: Apa yang terjadi selanjutnya?

Anak Korban: Begitu datang, bapak kami langsung ditusuk. Kena di bagian pinggang dan punggung.

Reporter Tribun Jambi: Apakah korban sempat melawan?

Anak Korban: Nggak. Bapak kami nggak melawan sama sekali. 

Beliau langsung lari ke dalam rumah untuk menyelamatkan diri.

Reporter Tribun Jambi: Namun tetap dikejar?

Anak Korban: Iya. Dikejar sampai ke dalam rumah, lalu dikeroyok. 

Kejadiannya cepat sekali.
 
Reporter Tribun Jambi: Jumlah pelaku ada berapa orang?

Anak Korban: Tiga orang. Semuanya masih keluarga, saudara dari mamak pelaku.

Reporter Tribun Jambi: Sebelumnya ada tanda-tanda rencana?

Anak Korban: Iya. Mamak pelaku sempat bilang, “Saudaraku marah, tunggu abang aku datang.” 

Dia juga telepon-telepon. Jadi menurut kami (saya) memang sudah ada niat.

Reporter Tribun Jambi: Usia pelaku bagaimana, Kak?

Anak Korban: Satu masih seumuran kami (saya), masih SMA. Dua lainnya sudah dewasa.

Reporter Tribun Jambi: Yang masih SMA itu sudah diamankan?

Anak Korban: Iya, katanya sudah ditangkap. Yang satu dewasa masih kabur. Umurnya, saya kurang tahu, tapi sudah tua.

Reporter Tribun Jambi: Kakak korban juga terluka ya?

Anak Korban: Iya. Abang kami terluka karena berusaha melindungi bapak. 

Lukanya di tangan kiri dan kanan, bagian dada atas dekat tulang, dan kaki kanan.

Demikian petikan wawancara jurnalis Rifani Halim dalam program Saksi Kata Tribun Jambi. (Tribun Jambi/Asto)

Baca juga: Tragedi 17 Luka di Pinang Merah Jambi: Ayah Tewas di Tangan Tetangga Sendiri

Baca juga: Viral Video Kayu Hanyut di Sungai Batang Hari, Belum Ada Penjelasan Resmi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.