Kreativitas Mahasiswi di Unisa Palu, Daun Kelor Dimanfaatkan untuk Hasilkan Bawang Merah
Fadhila Amalia April 28, 2026 11:08 AM

TRIBUNPALU.COM - Dunia pendidikan di Sulawesi Tengah kembali menorehkan kabar membanggakan.

Mahasiswi Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat Palu, Nur Afifa, berhasil menyelesaikan ujian akhir skripsi dan yudisium dengan menghadirkan penelitian dinilai memiliki manfaat langsung bagi sektor pertanian, khususnya bagi petani bawang merah di wilayah Lembah Palu.

Melalui riset berjudul Pengaruh Ekstrak Daun Kelor Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah Lembah Palu, Nur Afifa mengangkat potensi bahan alami yang selama ini mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, yakni daun kelor.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Sulteng, Selasa 28 April 2026: Hujan Ringan Dominasi 9 Daerah

Penelitian tersebut bertujuan untuk mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis dalam meningkatkan produktivitas tanaman bawang merah, di tengah tantangan tingginya harga pupuk kimia.

Dalam penelitiannya, Nur Afifa melakukan serangkaian percobaan dengan berbagai tingkat konsentrasi ekstrak daun kelor.

Hasil diperoleh menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun kelor dengan konsentrasi 40 mililiter per liter air memberikan hasil paling optimal.

Tanaman bawang merah yang diberi perlakuan tersebut menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik, mulai dari tinggi tanaman, jumlah daun, hingga peningkatan hasil panen dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

Baca juga: Warga Tanam Pohon di Jalan Rusak, Pemkab Sigi Pastikan Perbaikan Poros Palu–Kulawi Berjalan

Menurutnya, daun kelor memiliki kandungan nutrisi dan zat pengatur tumbuh alami dapat membantu mempercepat pertumbuhan tanaman.

Selain itu, pemanfaatan bahan organik seperti daun kelor juga dinilai lebih aman bagi lingkungan dan berkontribusi dalam menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Penelitian ini tidak hanya berfokus pada aspek ilmiah semata, tetapi juga mempertimbangkan kondisi riil yang dihadapi petani.

Selama ini, banyak petani mengeluhkan mahalnya harga pupuk dan ketergantungan terhadap bahan kimia yang berpotensi merusak struktur tanah.

Oleh karena itu, inovasi berbasis bahan alami menjadi salah satu solusi yang dinilai tepat guna dan mudah diterapkan.

Dosen pembimbing utama, Sayani bersama pembimbing pendamping Kasman memberikan pendampingan selama proses penelitian berlangsung.

Keduanya menilai bahwa penelitian ini memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan lebih lanjut, terutama dalam mendukung pertanian berkelanjutan di daerah.

Keberhasilan Nur Afifa ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghadirkan inovasi yang tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi juga dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Riset sederhana berbasis potensi lokal seperti ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terus berkontribusi melalui ilmu pengetahuan.

Baca juga: Rapat Warga Desa Oyom dan ESDM Sulteng Bahas IPR, Berikut Hasil Kesepakatan Dua Pihak

Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat disosialisasikan kepada para petani, khususnya di wilayah Lembah Palu, agar dapat diterapkan secara luas.

Dengan demikian, bawang merah khas daerah tersebut tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga memiliki kualitas yang lebih baik dan daya saing yang kuat di pasar.

Selain itu, pemanfaatan daun kelor sebagai bahan organik juga membuka peluang baru dalam pengembangan pertanian berbasis kearifan lokal.

Jika diterapkan secara konsisten, inovasi ini berpotensi membantu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di Sulawesi Tengah.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.