Kisah Pilu Penumpang KRL di Bekasi Timur, Sempat Berusaha Tolong Korban Luka Meski Tubuh Gemetar
Kharisma Tri Saputra April 28, 2026 01:45 PM

TRIBUNSUMSEL.COM - Kesaksian memilukan datang dari Desi Budianti (50), salah satu penumpang selamat dalam kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.

Dengan mata masih berkaca-kaca, Desi mengingat jelas momen saat benturan keras mengguncang gerbong yang ditumpanginya.

Desi Budianti (50) terlihat masih shock.

Duduk bersandar di kursi stasiun, Desi sesekali mengecek layar ponselnya.

Matanya masih berkaca-kaca saat seseorang di dekatnya mengajak mengobrol.

KECELAKAAN KERETA API - Penampakan lokomotif Argo Bromo Anggrek menembus gerbong khusus wanita KRL Commuter Line usai menabrak di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin malam (27/4/2026). Petugas dan warga mengevakuasi penumpang yang terjepit di antara pelat gerbong pascatabrakan keras.
KECELAKAAN KERETA API - Penampakan lokomotif Argo Bromo Anggrek menembus gerbong khusus wanita KRL Commuter Line usai menabrak di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin malam (27/4/2026). Petugas dan warga mengevakuasi penumpang yang terjepit di antara pelat gerbong pascatabrakan keras. (Istimewa/Instagram)

Baca juga: Tampang Sopir Taksi Green SM Picu Kecelakaan Maut KA Argo Bromo Vs KRL, Ngaku Mesin Mati Mendadak

Desi adalah penumpang Kereta Rel Listrik (KRL)  yang selamat dari kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi pada Senin (27/4/2026) malam. 

Tabrakan KRL  dengan KA Argo Bromo Anggrek menewaskan 14 penumpangnya sejauh ini dan 85 orang luka.

Ada yang tak beres

Malam itu, Desi hendak pulang ke rumahnya di Cikarang setelah dari Jakarta.

KRL merupakan transportasi andalannya untuk beraktivitas di Ibu Kota Jakarta. 

"Ibu biasanya di gerbong lima kalau naik kereta, dari Jakarta mau pulang ke Cikarang," kata Desi kepada TribunJakarta.com. 

Sebelum tabrakan maut, suasana di dalam rangkaian kereta yang dia tumpangi memang sudah mulai tak beres. 

Desi merasa ada yang tak beres karena rangkaian keretanya tertahan di Stasiun Bekasi Timur cukup lama. 

Alasan tertahan karena ada insiden kecelakaan mobil taksi tertemper rangkaian KRL dari arah Cikarang ke Jakarta di perlintasan Jalan Ampera. 

"Ternyata kan kereta itu ada yang kesrempet kereta apa ditabrak kereta, tapi di jalur lain, jalur sebelah sana," ucap Desi. 

Penumpang di gerbong Desi duduk cukup ramai tetapi tidak padat.

Keresahan mulai menyelimuti lantaran KRL tertahan sudah cukup lama. 

Di tengah keresahan lelah menunggu KRL tertahan, suasana tiba-tiba riuh setelah suara benturan keras terdengar dari gerbong belakang dari arah datangnya kereta. 

"Kereta (KRL) kan berhenti lama, tiba-tiba 'brak' aja suaranya keras," ucap Desi. 

Suara bentuan keras itu bahkan sampai membuat sejumlah penumpang KRL terpental, suasana langsung berubah seketika. 

"Ya keras lah (suara benturan), orang pada mental semua! Itu bapak-bapak di depan Ibu juga semua mental," jelas dia. 

Selamatkan diri

Lampu KRL padam, Desi dan penumpang lain mulai mencari jalan keluar. 

Hanya satu pintu yang terbuka di gerbong lima. 

Desi duduk di kursi prioritas, agak jauh dari pintu yang terbuka.

Dia langsung lari menyelamatkan diri bersama penumpang lainnya.

"Kita orang langsung pada nyari keluar. Kan ada sebagian kan gerbong itu pintunya tertutup, di gerbong lima cuma satu doang yang terbuka" ucap dia. 

Setelah berhasil keluar dari kereta, Desi dan penumpang lain baru mengetahui kondisi mengerikan terjadi di gerbong paling belakang. 

KA Argo Bromo Anggrek menabrak gerbong khusus wanita KRL Jakarta-Cikarang, bagian lokomotif kereta jarak jauh itu bahkan meringsek masuk ke dalam gerbong. 

Puing dan pecahan kaca berserakan, Desi saat itu belum langsung beranjak pergi.

Dia melihat ada sejumlah penumpang kesakitan. 

Desi berusaha menolong seorang wanita yang mengalami luka parah di bagian paha. 

"Ibu nolongin dua doang, orang Ibu juga gemeteran gimana melihat cewek itu pahanya semua dagingnya kelupas semua," kata Desi. 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.