Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Di bawah langit cerah Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, suasana pembangunan sebuah rumah tampak berbeda dari biasanya.
Tidak hanya dipenuhi oleh pekerja yang bahu-membahu, tetapi juga hadir sosok aparat kepolisian yang turut larut dalam kerja fisik, mengangkat material, meratakan adukan semen, hingga membantu proses pengecoran.
Ia adalah Aipda I Nyoman Sujendre, Bhabinkamtibmas setempat, yang pada Selasa (28/4/2026) menunjukkan bahwa peran polisi tidak semata terbatas pada penegakan hukum, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan sosial masyarakat.
Rumah yang ia bantu masih berada pada tahap krusial, yakni pengecoran atap dan lantai, fase yang membutuhkan tenaga ekstra dan kekompakan banyak orang.
Menurut Nyoman, kehadirannya di tengah kebutuhan tersebut bukan sekadar simbolis. Ia terlibat langsung, bekerja bersama warga tanpa sekat.
Ia berharap kehadirannya dapat mencerminkan sosok kepolisian di tingkat desa yang hadir, membaur, dan menjadi bagian dari solusi.
“Selain menjaga keamanan dan ketertiban, kami juga memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat serta membantu kegiatan yang membawa manfaat,” ujar Nyoman.
Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut diwujudkan dalam kerja nyata, bukan sekadar formalitas. Dalam praktiknya, kehadiran Bhabinkamtibmas memang dirancang sebagai jembatan antara institusi kepolisian dan masyarakat.
Melalui pendekatan humanis, Nyoman berupaya menghimpun kepercayaan publik bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata.
Ia juga menyebut bahwa di Desa Braja Asri, nilai-nilai gotong royong telah lama menjadi budaya lokal. Kehadiran polisi dalam ruang sosial seperti ini, menurutnya, menjadi gambaran perubahan paradigma, dari figur yang kerap dipersepsikan berjarak menjadi sosok yang dekat dan bersahabat.
“Di tingkat akar rumput, pendekatan ini bertujuan membangun rasa aman yang lebih substansial, bukan hanya bebas dari gangguan, tetapi juga hadirnya solidaritas,” ujarnya.
Lebih jauh, Nyoman menjelaskan bahwa kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa keamanan dan kesejahteraan masyarakat sejatinya saling berkaitan.
“Ketika hubungan antara warga dan aparat terjalin erat, potensi konflik dapat ditekan, sementara rasa saling percaya terus tumbuh,” kata Nyoman.
Menutup pernyataannya, ia menekankan bahwa kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih luas dari sekadar pembangunan fisik.
“Di Desa Braja Asri, hari itu bukan hanya tentang membangun rumah. Ini menjadi simbol bagaimana kebersamaan, kepedulian, dan kehadiran negara dalam wujud paling sederhana dapat memberikan dampak nyata. Harapannya, semangat seperti ini tidak berhenti di satu kegiatan saja, melainkan terus hidup dan berkembang, menjadikan desa sebagai ruang yang tidak hanya aman, tetapi juga hangat oleh rasa kebersamaan,” tutup Nyoman.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)