Universitas Ciputra Surabaya Kukuhkan 3 Guru Besar, Bahas Risiko AI dan Pariwisata
Cak Sur April 28, 2026 02:32 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengukuhkan tiga Guru Besar dari bidang Sains Data, Business Intelligence, serta Desain dan Perilaku pada Kamis (30/4/2026).

Momentum ini, menjadi ruang refleksi atas berbagai tantangan besar yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari lemahnya identitas ruang wisata hingga risiko penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang belum terkendali.

Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Ir. Wirawan E.D. Radianto, M.S., menyampaikan bahwa pengukuhan Guru Besar bukan sekadar pencapaian akademik.

“Pengukuhan tiga Guru Besar hari ini, menjadi langkah penting dalam memperkuat peran universitas agar tetap relevan dengan tantangan zaman. Kami ingin memastikan teknologi, data, dan pemahaman manusia berjalan sebagai satu kesatuan untuk menghasilkan solusi nyata,” ujar Prof Wirawan, Selasa (28/4/2026).

Peran Strategis Guru Besar untuk Masa Depan

Pihak kampus mendorong para Guru Besar untuk tidak hanya menghasilkan riset unggul, tetapi juga mengimplementasikan gagasan tersebut secara konkret di masyarakat.

“Saya berharap para Guru Besar tidak hanya melahirkan gagasan, tetapi juga mampu membentuk generasi pemimpin masa depan serta menjadi motor penggerak perubahan yang berdampak luas,” lanjut Prof Wirawan.

  • Penguatan peran universitas
  • Riset berdampak langsung ke masyarakat
  • Pembentukan pemimpin masa depan

Identitas Wisata Indonesia Masih Lemah

Guru Besar Bidang Ilmu Desain dan Perilaku, Prof. Dr. Astrid, S.T., M.M., menyoroti persoalan mendasar dalam sektor pariwisata Indonesia.

Menurutnya, banyak destinasi wisata belum memiliki identitas kuat sehingga sulit bersaing.

“Banyak ruang komersial tradisional kita berkembang, tetapi belum memiliki identitas yang jelas. Akibatnya terlihat serupa dan sulit bersaing sebagai destinasi wisata,” ujarnya.

Padahal, Indonesia memiliki lebih dari 16.000 pasar tradisional dan ribuan desa wisata, namun hanya sebagian kecil yang berkembang optimal.

  • Destinasi belum punya identitas kuat
  • Banyak ruang wisata terlihat serupa
  • Potensi besar belum tergarap maksimal

“Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat, tapi pengalaman. Dan pengalaman itu lahir dari interaksi manusia, bukan sekadar desain fisik,” jelasnya.

Paradoks AI: Digunakan Tapi Belum Siap

Guru Besar Bidang Ilmu Sains Data, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, S.T., M.Eng.Sc., mengungkap adanya paradoks dalam adopsi AI di Indonesia.

“Sebanyak 92 persen individu sudah menggunakan AI, tetapi adopsi di tingkat organisasi baru sekitar 47 persen. Kita cepat mencoba, tetapi belum sepenuhnya siap mengelola,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan risiko cognitive offloading, yakni kecenderungan manusia menyerahkan proses berpikir kepada teknologi.

  • Adopsi AI individu tinggi
  • Organisasi belum siap
  • Risiko menurunnya kemampuan berpikir

“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak,” tegasnya.

Bahaya AI dalam Pengambilan Keputusan

Guru Besar Bidang Business Intelligence, Prof. Dr. Adi Suryaputra P., S.Kom., M.Kom., menyoroti risiko lebih dalam terkait penggunaan AI.

“Bahaya AI bukan salah hitung, tetapi saat manusia berhenti berpikir dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sistem,” ujarnya.

Menurutnya, sistem AI kini mulai memengaruhi bahkan mengambil alih keputusan, padahal tidak memiliki pemahaman konteks maupun tanggung jawab.

  • AI mulai ambil peran keputusan
  • Tidak punya tanggung jawab moral
  • Perlu kontrol manusia

“AI dapat menghitung dan memprediksi, tetapi tidak memahami dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban,” jelas Prof Adi.

Ia mendorong pendekatan Human-Centered Decision Intelligence agar manusia tetap menjadi pusat dalam setiap keputusan.

Teknologi dan Manusia Harus Seimbang

Secara keseluruhan, ketiga Guru Besar menegaskan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi.

Kemampuan manusia dalam memahami, mengelola, dan memberi makna terhadap teknologi menjadi kunci utama.

  • Teknologi harus dikendalikan manusia
  • Keseimbangan antara data dan nilai
  • Manusia tetap pusat peradaban

Pengukuhan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.