SURYA.CO.ID - Manajemen Green SM Indonesia (Taksi Hijau) memberikan pernyataan resmi terkait insiden kecelakaan tragis yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026).
Armada taksi tersebut diduga menjadi pemicu awal gangguan sistem yang berujung pada tabrakan maut antar-kereta.
Pihak perusahaan mengonfirmasi bahwa salah satu unit kendaraannya memang terlibat dalam insiden di perlintasan sebidang tersebut.
Baca juga: Kronologi Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur: 7 Tewas, Ada yang Masih Terjepit dan 13 Jadwal KA Batal
Melalui keterangan tertulis di media sosial resminya, Green SM Indonesia menyatakan keprihatinan mendalam atas musibah yang terjadi di area Stasiun Bekasi Timur.
Perusahaan menegaskan bahwa kendaraan tersebut dalam keadaan tanpa penumpang saat insiden terjadi.
"Green SM Indonesia menaruh perhatian penuh pada terjadinya insiden di area perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026, yang melibatkan satu kendaraan Green SM dan kereta yang melintas. Pada saat kejadian, tidak terdapat penumpang di dalam kendaraan dan mitra pengemudi dapat keluar dengan selamat sebelum terjadinya tabrakan," tulis pihak manajemen.
Saat ini, Green SM menyatakan komitmennya untuk bersikap kooperatif terhadap proses hukum yang berlaku.
"Kami tengah berkoordinasi secara aktif dengan pihak berwenang dan mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami," lanjut pernyataan tersebut
Baca juga: Update Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek: Korban Meninggal 14 Orang, 10 Masih Diidentifikasi Polisi
Sesaat setelah kejadian, pengemudi taksi hijau yang tampak syok sempat memberikan penjelasan singkat kepada warga di lokasi.
Ia mengaku kendaraannya mengalami kendala teknis yang fatal tepat di tengah perlintasan kereta api.
Sopir menjelaskan bahwa mesin mobil tiba-tiba mati dan sistem kendaraan terkunci sehingga tidak bisa dievakuasi sebelum kereta datang.
"Ini ngonci langsung (posisi mobilnya) Jadi kita mau jalanin gak bisa. Pas posisi kereta lewat, mobil mati," ungkap sang sopir dalam rekaman video yang beredar di media sosial.
Baca juga: Pesan Terakhir Guru SD Korban Kecelakaan Maut KA Argo Bromo Anggrek, 36 Menit Sebelum Kejadian
Keterlibatan taksi ini diperkuat oleh pernyataan Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin.
Bobby menyebut bahwa gangguan di perlintasan (JPL 85) yang melibatkan taksi hijau tersebut memicu kekacauan pada sistem persinyalan dan operasional di area Stasiun Bekasi Timur.
"Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplacement Bekasi Timur ini agak terganggu," jelas Bobby.
Akibat gangguan tersebut, sebuah rangkaian KRL terpaksa berhenti darurat.
Namun, di saat situasi belum sepenuhnya pulih, KA Argo Bromo Anggrek melaju kencang dari arah belakang dan menghantam rangkaian KRL tersebut.
Kesaksian mengerikan datang dari Munir, salah satu penumpang KRL yang selamat.
Dia menceritakan bagaimana dahsyatnya benturan ketika lokomotif kereta jarak jauh tersebut menghantam gerbong KRL.
"Tiba-tiba dihantam keras dari belakang. Lokomotif kereta jarak jauh itu sampai menembus masuk ke gerbong. Gerbong khusus perempuan hancur lebur," ujar Munir.
Tragedi ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari penumpang KRL serta puluhan orang mengalami luka-luka.
Hingga kini, investigasi mendalam masih terus dilakukan untuk memastikan kronologi lengkap serta tanggung jawab hukum dari pihak-pihak terkait.