Perbaikan IPA Tirta Mayang Picu Krisis Air, Warga Kota Jambi Terpaksa Beli
Heri Prihartono April 28, 2026 06:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Perbaikan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang dilakukan Perumda Tirta Mayang Kota Jambi sejak 25 April 2026 menyebabkan sejumlah wilayah mengalami gangguan distribusi air bersih.

Beberapa kawasan bahkan mengalami penurunan debit distribusi, tekanan air kecil, hingga air tidak mengalir sama sekali.

Perbaikan tersebut diperkirakan berlangsung selama delapan hari, mulai 25 April hingga 2 Mei 2026.

Di Perumahan Pondok Indah Kenali, Kelurahan Kenali Asam Bawah, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi, tekanan air masih ada namun sangat kecil.

Warga setempat, Ali, mengatakan air tetap mengalir namun tidak seperti biasanya sehingga warga harus menampung air saat masih tersedia.

“Air tetap mengalir tapi kecil, tidak seperti biasa. Jadi warga terpaksa menampung air,” Ujarnya Selasa (28/4/2026).

Kondisi serupa juga terjadi di Perumahan Ridena Melati Kenali, Kelurahan Kenali Asam Atas, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi.

Warga setempat, Kodri, mengatakan sejak Sabtu  (25/4/2026), tekanan air sangat lemah dan hanya keran di dekat meteran yang masih mengalir.

“Masih mengalir tapi tidak ada tekanan. Hanya keran dekat meteran yang hidup, tapi tidak sampai ke kamar mandi,” ujarnya.

Untuk sementara, dirinya memanfaatkan sumur gali yang dimiliki di rumah.

Lebih lanjut Kodri mengatakan. Tetangga juga mengalami hal yang sama, namun karena mereka tidak memiliki sumur terpaksa membeli air dari penyedia air bersih.

Ia juga mengaku belum melihat adanya distribusi mobil tangki air gratis dari PDAM di wilayah tersebut.


"Kami malah tidak tau ada pemberian air bersih dari PDAM," katanya.

Kondisi paling parah dirasakan warga Perumahan Mutiara Selatan, yang mengaku air PDAM tidak hidup sama sekali sejak Sabtu (25/4/2026).

Warga setempat terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pantauan di lokasi, sejumlah ember dan tempat penampungan air terlihat berjejer di depan rumah warga.

Salah satu warga, Fadli, mengatakan dirinya harus membeli air bersih karena pasokan dari PDAM tidak tersedia sama sekali.

“Air tidak hidup sama sekali sejak 25 April lalu. Kami terpaksa beli air," katanya.

Ia menceritakan saat ini, pengusaha air bersih pun kerepotan karena banyak pesanan. 

Bahkan warga ada yang munggu dari pagi sampai sekarang belum juga dapat kiriman air.

Menurutnya, penyedia air bersih juga mengalami kendala karena bak penampungan mereka ikut kosong akibat tingginya permintaan.

“Mereka juga bilang harus menunggu bak penampungan terisi dulu, baru bisa diantar ke pembeli,” katanya.

Satu tengki air bersih ia dibeli seharga Rp80 ribu untuk 1.000 liter.

Lebih lanjut, Fadli menyebut, mobil tangki dari PDAM memang sempat datang ke kawasan tersebut, namun kapasitasnya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan sekitar 800 rumah yang terdampak.

“Mobil air PDAM ada, tapi kapasitasnya tidak cukup. Kalau bisa armada yang diturunkan lebih dari satu unit, karena banyak rumah yang terdampak,” ujarnya.

Ia mengaku aktivitas sehari-hari warga sangat terganggu akibat tidak adanya air, terutama bagi warga yang memiliki usaha kecil di rumah.

“Kami di sini sangat kesusahan. Malam kami sudah tunggu air, tapi tetap tidak menyala. Aktivitas sehari-hari jadi terganggu, terlebih orang-orang yang berjualan,” katanya.

Fadli berharap proses perbaikan dapat dipercepat dan distribusi bantuan air bersih ditambah.

“Kalau harapan kami, perbaikan bisa dipercepat, jangan sampai delapan hari. Dan jumlah unit mobil air bersihnya diperbanyak. Seribu liter untuk satu rumah itu tidak sampai dua hari habis,” pungkasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang terdampak, Wali Kota Jambi Maulana mengaku telah meminjam dua unit mobil tangki dari Provinsi.

"Saya instruksikan PDAM untuk menyumpai air bersih gratis kepada warga terdampak, namun sepertinya kurang, kita pinjam dua mobil lagi dari Provinsi," ujarnya.

Menurut, Maulana perbaikan pipa di beroni ini dapat meningkatkan produksi air bersih ningga  30 -40 liter perdetik.

Untuk itu, langkah ini perlu di ambil untuk meningkatkan produksi sehingga pelayanan menjadi lebih baik.

"Saya terus kordinasi, ini paling lama 8 hari sejak pertama kali di kerjaka,n hari ini sudah hari ke 4 ya," ungkapnya.

"Jika masih ada yang terdampak kami mohon maaf," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.