TRIBUNKALTIM.CO,TARAKAN – Sosok Azizah Nur Dewanti Yancong atau akrab disapa Azizah mencuri perhatian di antara ratusan jemaah haji asal Kota Tarakan tahun 2026.
Apalagi saat ini wanita muda itu usianya baru menginjak 22 tahun.
Dengan umur 22 tahun menjadi jamaah haji termuda yang akan berangkat ke Tanah Suci.
Azizah tampak datang terlambat saat pelepasan siang tadi. Saat tiba langsung oleh panitia mengarahkan duduk di bangku paling depan kiri ujung.
Usai simbolis menerima syal segitiga atau slayer yang dikalungkan di leher, ia berbagu cerita persiapan sebelun keberangkatan.
Baca juga: Menu Makan Jamaah Haji Embarkasi Balikpapan Disiapkan Dua Pilihan, Buah Diusulkan Diganti Puding
“Ya, pastinya deg-degan, senang, bahagia. Terus ya campur aduk,” ujar Azizah mengawal ceritanya kepada media.
Perjalanan haji yang akan ia jalani bukan sekadar ibadah biasa.
Ada amanah besar yang ia emban menggantikan almarhumah ibunya, Siti Nur Hidayah, yang wafat pada tahun 2020 lalu.
Azizah bercerita, keberangkatannya merupakan hasil pelimpahan porsi haji dari sang ibu yang telah mendaftar sejak 2012.
Setelah melalui penantian panjang, namanya akhirnya muncul sebagai calon jemaah haji tahun ini.
“Kebetulan saya pelimpahan dari almarhumah ibu. Saya juga awalnya tahu dari keluarga kalau ternyata nama saya masuk calon jemaah tahun ini,” ungkapnya.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Azizah dipercaya langsung oleh sang ayah, H. Yancong, tokoh masyarakat dan anggota DPRD Kaltara, untuk menggantikan posisi ibunya.
“Bapak yang menunjuk saya, karena saya anak pertama. Adik-adik juga masih kecil, jadi saya yang disuruh gantikan almarhumah ibu,” tuturnya.
Keputusan itu bukan hal ringan. Azizah menyadari, ia bukan hanya berangkat untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa harapan dan doa keluarga, terutama untuk ibunya.
“Pastinya saya ingin mendoakan almarhumah ibu saya, keluarga, sahabat, kerabat, semuanya,” ucapnya lirih.
Tak hanya keluarga, banyak teman dan kerabat yang menitipkan doa kepadanya. Permintaan sederhana hingga harapan besar disampaikan kepadanya sebelum keberangkatan.
“Banyak yang nitip doa, teman-teman juga,” katanya.
Meski menjadi jemaah termuda, Azizah menunjukkan keseriusannya dalam mempersiapkan diri. Ia mengaku telah menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari perlengkapan pribadi hingga kesiapan fisik dan mental.
“Persiapan fisik, mental, terus perlengkapan-perlengkapan di sana. Alhamdulillah sudah selesai semua,” ujarnya.
Untuk menjaga kondisi tubuh, Azizah rutin berolahraga ringan seperti berjalan santai beberapa kali dalam seminggu.
“Paling jalan-jalan santai, putar-putar di Islamic Center dan di tempat lainnya. Seminggu tiga sampai empat kali,” jelasnya.
Ia juga telah mengikuti manasik haji, meski tidak sepenuhnya karena kesibukan. Namun, pengalaman umrah yang pernah ia jalani pada 2023 dan 2024 menjadi bekal penting baginya.
“Alhamdulillah saya sudah pernah umrah, jadi sudah ada gambaran sedikit-sedikit. Ditambah cerita dari keluarga yang sudah pernah ke sana,” katanya.
Azizah diketahui baru saja menyelesaikan pendidikan S1 Sarjana Hukum di Universitas Borneo Tarakan tahun ini. Di tengah masa transisi dari dunia kampus ke kehidupan berikutnya, ia justru mendapat panggilan istimewa untuk berhaji.
“Kegiatan sekarang ya persiapan ini (haji),” ucapnya singkat.
Di usianya yang masih sangat muda, ia memilih untuk fokus menjalani ibadah, sebelum melangkah ke fase kehidupan berikutnya.
“Alhamdulillah, persiapan mental, fisik, kesehatan insya Allah sudah matang semua. Tinggal berangkat saja. Mohon doanya,” katanya.
Baca juga: Penantian 13 Tahun di Ambang Pintu, Jamaah Haji Lansia Tarakan Pasrah Hadapi Konflik Timur Tengah
Bagi Azizah, perjalanan ini bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang menunaikan amanah dan menjaga kenangan.
Nama sang ibu, Siti Nur Hidayah, terus ia sebut dalam setiap rencana doa yang akan ia panjatkan di Tanah Suci nanti.
“Mohon doanya ya semoga perjalanan kami dilancarkan,” ucapnya penuh harap. (*)