SURYA.CO.ID SURABAYA – Detik-detik mencekam kecelakaan yang melibatkan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di kawasan Bekasi Timur masih membekas di ingatan para penumpang yang selamat.
Salah satunya adalah Satria Katana (33), warga Mulyorejo, Surabaya, yang berada di dalam rangkaian kereta saat insiden terjadi pada Senin malam.
Satria menceritakan, saat itu dirinya tengah dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Surabaya menggunakan KA Argo Bromo Anggrek.
Ia berangkat dari Stasiun Gambir sekitar pukul 20.30 WIB dan duduk di gerbong eksekutif nomor 7.
Baca juga: Detik Detik Penumpang KA Argo Bromo Asal Gresik Selamat Laka Maut di Stasiun Bekasi Timur
Namun sekitar 10 hingga 20 menit setelah keberangkatan, situasi berubah drastis. Ia mendengar kereta mulai melambat, sebelum akhirnya terjadi benturan keras.
“Tiba-tiba saja ada tabrakan. Saya refleks teriak dan tubuh terdorong ke depan. Barang-barang di bagasi juga ikut terlempar,” ungkapnya.
Beruntung, posisi duduk Satria yang berada di bagian depan kursi dengan koper di depannya membuat ia tidak mengalami cedera serius.
Ia hanya mengalami benturan ringan dan langsung memastikan kondisi tubuhnya.
Baca juga: Gelagat Nur Ainia Eka, Karyawati Kompas TV yang Hilang Kontak Usai KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL
Di dalam gerbong, suasana sempat panik. Para penumpang kebingungan karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Meski demikian, kondisi listrik, lampu, dan AC di sebagian besar gerbong masih berfungsi normal.
“Kita sempat menunggu sekitar 15 sampai 20 menit di dalam gerbong tanpa kepastian.
Penumpang mulai inisiatif membuka pintu dan mencoba mencari tahu kondisi di luar,” katanya.
Saat proses evakuasi berlangsung, Satria melihat kondisi di beberapa gerbong cukup berantakan. Barang-barang penumpang berserakan akibat benturan.
Ia juga menyebut, terdapat perbedaan kondisi di tiap gerbong. Jika di gerbongnya listrik tetap menyala, di gerbong lain sempat mengalami pemadaman.
Dalam proses evakuasi, petugas kemudian mengarahkan penumpang untuk berpindah ke gerbong yang lebih aman sebelum akhirnya diturunkan di Stasiun Bekasi Timur.
“Petugas datang dan mengarahkan kami pindah ke gerbong lain lalu keluar ke area yang lebih aman di luar stasiun,” jelasnya.
Terkait korban, Satria menyebut mayoritas penumpang KA Argo Bromo Anggrek relatif selamat, meski banyak yang mengalami syok, terutama penumpang perempuan.
Namun ia sempat melihat beberapa petugas di kereta makan mengalami luka, diduga akibat terkena air panas saat benturan terjadi.
“Ada yang tangannya merah dan seperti melepuh, kemungkinan kena air panas,” ujarnya.
Setelah berhasil dievakuasi, Satria mengaku langsung menghubungi keluarga untuk memastikan kondisinya aman. Meski tidak mengalami luka serius, ia mengaku masih syok dengan kejadian tersebut.
Ia juga menilai kereta api selama ini merupakan moda transportasi yang aman, namun kejadian ini menjadi pengingat bahwa risiko tetap bisa terjadi.
“Harapannya ada evaluasi menyeluruh supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” katanya.
Satria juga berpesan kepada sesama penumpang untuk selalu memperhatikan keselamatan selama perjalanan, termasuk duduk sesuai tempat dan tidak berpindah-pindah di dalam kereta tanpa keperluan mendesak.
“Yang penting tetap waspada dan berdoa sebelum perjalanan,” pungkasnya.