TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Program pasar murah gas LPG 3 kilogram masif dilakukan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Namun, meski demikian masyarakat masih kesulitan mendapatkan tabung gas subsidi tersebut, padahal stok aman.
Seperti Selasa (28/4/2026), pasar murah LPG digelar di tiga kecamatan, yakni Kaliwates, Patrang, dan Sumbersari.
Program yang diinisiasi Pertamina Patra Niaga wilayah Jatimbalinus bersama Pemkab Jember ini telah berlangsung sejak 20 April 2026 dan menyasar seluruh 31 kecamatan di Jember hingga 4 Mei 2026.
Di Kecamatan Kaliwates, pasar murah dipusatkan di Kantor Kecamatan di Jalan Hayam Wuruk. Berbeda dengan pelaksanaan di wilayah pinggiran sebelumnya, antrean panjang tidak terlihat di lokasi ini. Warga datang, membeli, dan langsung pulang tanpa penumpukan.
Baca juga: Setelah LPG, MinyaKita juga Naik Tembus Rp 22.000 per Liter di Jember, Stok Langka di Pasaran
Sebanyak 300 tabung LPG subsidi ukuran 3 kilogram disediakan di setiap titik pasar murah. Harga jual ditetapkan sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp 18.000 per tabung.
Pembelian dibatasi satu tabung per orang dengan syarat menunjukkan identitas diri berupa KTP atau Kartu Keluarga (KK). Kebijakan ini diterapkan untuk memastikan distribusi tepat sasaran.
Baca juga: Operasi Pasar LPG Jember April–Mei 2026: Stok Dipastikan Aman, Ini Jadwal dan Harganya
Sejumlah warga mengaku terbantu dengan adanya pasar murah, meski distribusi LPG masih dirasakan belum merata.
“Meski hanya dapat satu tabung. Sekarang ini nyari cukup sulit. Saya sampai beli di toko jarak 2 kilometer dari rumah,” ujar Yuliana, warga Kelurahan Sempusari.
Ia menyebut harga LPG di tingkat pengecer bisa mencapai Rp 20.000 per tabung. Kondisi ini menyulitkan, terutama karena ia membutuhkan gas setiap hari untuk memasak makanan khusus bagi ibunya yang sakit.
“Kalau gas habis pasti kebingungan,” tambahnya.
Baca juga: Kelangkaan LPG Non Subsidi di Lumajang, Pengusaha Kuliner Berburu hingga Probolinggo
Di sisi lain, pihak agen memastikan pasokan LPG di Jember dalam kondisi normal. Pemilik agen, Maya Sofa, menyebut peningkatan permintaan memang terjadi, terutama sejak Ramadan, namun telah diimbangi dengan penambahan pasokan dari Pertamina.
“Pasokan normal-normal saja. Memang ada kenaikan permintaan saat Ramadan, hanya saja pasokan juga ditambah,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak panik dan membeli sesuai kebutuhan.
Baca juga: Habiskan 10 Tabung LPG 3 Kg Sehari, Warung Mak Rumpit di Lumajang "Dipaksa" Beralih ke Non-Subsidi
Meski pasokan disebut aman, kondisi di lapangan yang menunjukkan kesulitan akses membuat DPRD Jember mempertanyakan situasi tersebut.
Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, mengaku heran karena kelangkaan masih terjadi meski Ramadan dan Lebaran telah berlalu.
“Ini yang juga membuat kami bertanya-tanya. Ramadan sudah lewat, begitu juga Lebaran, kenapa masih sulit,” ujarnya.
Candra menduga ada potensi permainan oleh pihak tertentu, termasuk kemungkinan penimbunan atau spekulasi di tengah isu geopolitik global terkait energi.
Ia juga meminta aparat kepolisian meningkatkan pengawasan untuk mencegah penimbunan dan praktik oplosan LPG subsidi yang dijual sebagai nonsubsidi.
Baca juga: LPG Nonsubsidi Naik Bisnis Laundry Tertekan, Lebih Parah dari Masa Covid-19
Saat ini, harga LPG nonsubsidi di Jember terpantau cukup tinggi, yakni sekitar Rp 110.000 - Rp 112.000 untuk tabung 5,5 kilogram dan Rp 230.000 - Rp 237.000 untuk ukuran 12 kilogram.
Kondisi ini dinilai berpotensi memicu penyalahgunaan LPG subsidi jika tidak diawasi dengan ketat.
Pertamina Patra Niaga kembali mengingatkan masyarakat untuk membeli LPG di pangkalan resmi agar mendapatkan harga sesuai ketentuan.
“Kepada masyarakat, kami mengimbau agar membeli di pangkalan resmi, agar mendapatkan harga sesuai HET yakni Rp 18.000 untuk tabung 3 kilogram,” ujar Area Manager Communication Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi dalam keterangan tertulis.