Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria ikut menanggapi kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek yang menabrak kereta rel listrik (KRL) di Bekasi Timur. Ia menyebut, kejadian nahas ini perlu jadi tema kajian ilmiah.
"Kejadian (kecelakaan kereta) yang ada ini bisa menjadi salah satu tema yang harus dikaji oleh BRIN," tuturnya dalam acara BRIN 5.0: Inovasi untuk Negeri, di Ruang Jirap, Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026).
Arif menyebut kecelakaan kereta bisa terjadi karena banyak aspek, dari teknologi, sosial, hingga perilaku manusia. Selain itu, kereta api punya sebuah ekosistem tersendiri yang harus diperhatikan secara menyeluruh.
"Nanti akan menjadi bahan buat teman-teman yang (fokus penelitian kereta api) karena kita punya pusat riset yang khusus pelajari kereta api, itu moga-moga akan bisa kita kaji kembali,"urai Arif.
Teknologi BRIN tentang Kereta Api
Saat ini, Arif menyebut ada minimal 20 kajian tentang kereta api. Seluruh alat uji ada di Indonesia, tepatnya di pusat riset uji kereta api, Serpong.
Salah satu riset yang tengah dikembangkan adalah /alat pintar pendeteksi jembatan-jembatan yang dilalui kereta api. Kini, terdapat 6 ribu jembatan yang usianya sudah 100 tahun.
"Jembatan kereta api jumlahnya banyak sekali yang umurnya sudah lebih dari 100 tahun, itu zaman Belanda. Kita punya tools yang bisa mendeteksi kekurangannya (jembatan) apa dan sebagainya melalui cara yang smart," ungkap Arif lagi.
Alat pintar atau itu dikenal dengan Structural Health Monitoring System (SHMS). SHMS akan mengaudit jembatan yang dilalui kereta api dan melaporkannya secara realtime atau langsung.
"Ini saya kira sangat bagus bagi KAI," ucapnya.
Tak hanya teknologi, BRIN juga melakukan riset soal bantalan rel kereta api berbasis karet komposit. BRIN menekankan aspek keselamatan adalah hal yang sangat penting dan material punya andil dalam sisi itu.
Untuk riset lebih lanjut, BRIN tengah merevitalisasi kerja sama dengan PT INKA di Madiun. Sebelumnya memang kerja sama sudah sempat terjalin, namun belum maksimal.
Dalam waktu dekat, Arif mengaku akan segera bertemu dengan pihak PT INKA untuk mempercepat kolaborasi riset kereta api.
Sebagai informasi, kecelakaan kereta terjadi di Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line lintas Cikarang pada Senin, (27/4/2026) malam.
Kecelakaan diduga diawali oleh mobil taksi listrik yang tertabak KRL karena melintang di atas rel. Tabrakan ini kemudian mengganggu perjalanan KRL selanjutnya yang menuju Cikarang.
KRL itu berhenti di jalur yang sama dengan KA Argo Bromo Anggrek. Lantaran erornya sinyal yang diberikan, KA Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KRL arah Cikarang tersebut hingga menembus gerbong wanita KRL.
Dikutip dari detikNews, data terbaru menunjukkan jumlah korban meninggal dunia mencapai 15 orang. Seluruh korban yang meninggal dunia dilaporkan berjenis kelamin perempuan yang berada di gerbong wanita KRL.





