Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur dipicu oleh insiden taksi listrik yang mogok di perlintasan rel kereta.
Insiden tersebut memunculkan kekhawatiran soal keselamatan di perlintasan kereta api, termasuk kendaraan listrik yang diduga mudah mati di atas rel.
“Tidak juga, tidak benar kalau ada mobil bisa mati di perlintasan akibat gelombang elektromagnetik, apalagi mobil listrik. Enggak juga selalu begitu. Tetapi kemungkinannya ada,” ujar Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, saat dihubungi Tribunjabar.id, Selasa (28/4/2026).
Menurut Jusri, baik mobil berbahan bakar konvensional maupun kendaraan listrik memiliki potensi mengalami gangguan, namun bukan karena gelombang elektromagnetik.
Baca juga: Siang Ini Dedi Mulyadi Temui Korban Tabrakan KRL di Bekasi, Siapkan Santunan Rp50 Juta
“Tipikal mobil-mobil berbahan bakar, Internal Combustion Engine (ICE), dengan Electric Vehicle (EV) sama saja. Mereka punya potensi, tetapi tidak mudah gelombang elektromagnetik itu bisa mematikan mobil,” katanya.
Jusri menjelaskan pada kendaraan listrik, kemungkinan berhenti di lintasan lebih dipengaruhi kondisi jalan di rel yang tidak rata.
“Lintasan kereta api umumnya bergelombang, tidak rata, tidak mulus. Salah satu roda itu bisa tidak bertraksi dengan permukaan jalan,” ucapnya.
Jusri menyebut, mobil listrik dilengkapi sistem traction control yang akan aktif saat roda kehilangan cengkeraman.
“Di mobil listrik ada traction control. Saat itu masuk ke safe mode, jadi mobil bukan mati, tapi berhenti sesaat ketimbang terjadi slip,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut biasanya terjadi saat kendaraan melaju pelan tanpa momentum ketika melintasi rel.
“Dia bukan mati, dia berhenti. Bisa saja berhenti karena pergerakan pelan, tidak ada momentum, mobil masuk ke safe mode,” ujarnya.
Dikatakan Jusri dalam banyak kasus, kendaraan yang benar-benar mogok di lintasan justru lebih sering terjadi pada mobil manual.
“Pada intinya kalau ada kasus seperti ini biasanya terjadi pada mobil manual. Mobil matic boleh dibilang enggak ada. Kalau EV karena traction control, dia masuk safe mode,” katanya.
Di sisi lain, Jusri menyoroti maraknya kecelakaan lalu lintas, termasuk yang melibatkan kendaraan umum.
Baca juga: DAFTAR NAMA 50 Korban Luka Tragedi Kereta di Stasiun Bekasi Timur, Ada yang Dirujuk ke RS Siloam
Ia menegaskan faktor utamanya adalah kesalahan manusia atau human error.
“Banyak sekali kecelakaan dan rata-rata semuanya masalahnya ada di human error. Artinya masalah di pengemudinya, bukan ke mobilnya,” ucapnya.
Menurut dia, perilaku pengguna jalan di Indonesia masih menjadi persoalan serius, terutama di perlintasan kereta api.
Banyak pengendara nekat menerobos meski sudah ada tanda kereta akan melintas.
“Banyak orang sudah mendekati palang pintu, tapi tetap menerobos, khususnya pemotor. Tapi bukan motor saja, mobil, angkutan umum juga,” katanya.
Jusri menyebut perilaku tersebut menjadi indikator lemahnya kesadaran keselamatan.
“Mereka tidak takut, tidak khawatir sama sekali saat berada di lintasan kereta api,” ujarnya.
Padahal, kata Jusri, tanda-tanda kereta akan melintas bisa dikenali, baik dari suara maupun kondisi kendaraan di sekitar.
“Kalau sudah ada kendaraan berhenti dan ada lintasan kereta api di depan, sebaiknya kita berhenti juga, tidak mencoba adu nyali,” katanya.
Jusri menilai rendahnya kesadaran ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari minimnya edukasi, lingkungan yang permisif terhadap pelanggaran, hingga lemahnya penegakan hukum.
“Orang melihat orang lain melanggar dan ikut-ikutan. Itu jadi pembelajaran,” ujarnya.
Baca juga: Melaju 120 Km/Jam, KA Argo Bromo Anggrek Tak Kuat Rem Mendadak dalam Tragedi Bekasi
Selain itu, lanjut dia, faktor pribadi seperti kelelahan, stres, dan tekanan waktu juga memengaruhi perilaku berkendara.
“Keletihan akan mengurangi kemampuan kognitif. Bisa juga karena stres atau dikejar waktu,” katanya.
Jusri menyebut masih adanya perlintasan kereta api yang belum dilengkapi palang pintu dan penjaga.
“Harusnya ada palang pintu dan petugas. Itu konsekuensi pengelola kereta api,” ucapnya.
Dia mencontohkan bila kendaraan listrik mati di jalan perlintasan rel kereta, bisa disebabkam dengan kondisi jalanan yang tidak rata.
“Itu menunjukkan elevasi jalan yang enggak rata, bisa menyebabkan mobil hilang momentum atau hilang traksi,” katanya.
Menurut Jusri, persoalan keselamatan di perlintasan kereta api harus dibenahi dan didorong oleh unsur pentahelix.
“Kesadaran masyarakat rendah, sementara mungkin ada lintasan yang tidak ada palang pintu dan penjaga. Jadi ada dua ruang perbaikan pada berbagai pihak,” katanya. (*)