Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Josef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor NTT
Rabu, 29 April 2026
Perayaan Wajib St. Katarina dr Siena
Kis 12:24 - 13:5a; Mzm 67:2-3.5.6.8; Yoh 12:44-50
Warna Liturgi Putih
"Kita Cuma Corong di Tangan Tuhan"
Pernahkah kita berpikir tentang diri kita sebagai corong di tangan Tuhan? Sebuah alat yang tidak memiliki kuasa, tetapi hanya menyampaikan suara yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Yohanes 12:44-50 mengingatkan kita tentang peran Yesus sebagai terang yang datang ke
dunia, tetapi juga mengajarkan kita bahwa kita, sebagai pengikut-Nya, hanya bisa menjadi pengeras suara atau corong, untuk menyampaikan kebenaran-Nya kepada dunia.
Pertama, Menjadi Corong Tuhan: Yesus berkata dengan jelas, “Aku adalah terang bagi dunia” (ayat 46). Namun, sebelum kita terlalu jauh, mari kita ingat bahwa Yesus bukan hanya datang untuk menjadi terang, tetapi juga untuk mengajak kita menjadi bagian dari rencana-Nya.
Sebagai pengikut-Nya, kita dipanggil untuk menjadi saksi, bukan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan kuasa yang diberikan Tuhan melalui hidup kita. Sebagai corong, kita tidak dapat menciptakan suara sendiri.
Suara yang keluar dari corong hanyalah suara yang ditentukan oleh sumbernya. Begitu juga dengan hidup kita. Kita tidak punya kuasa untuk mengubah dunia dengan cara kita sendiri, tetapi kita dapat menjadi saluran yang membawa suara Tuhan.
Apa yang kita sampaikan, baik melalui perkataan maupun tindakan harus berasal dari Tuhan, bukan dari diri kita.
Kedua, Mengapa Kita Hanya Corong? Yesus mengungkapkan dengan tegas dalam ayat 49: “Aku tidak berkata-kata dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang memberi perintah kepada-Ku.” Artinya, Yesus pun hanya berbicara berdasarkan perintah dari Bapa-Nya.
Jika Yesus saja yang adalah Tuhan, tidak berbicara sembarangan, apalagi kita? Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan. Jangan sampai perkataan kita bukan dari Tuhan, tetapi hanya dari keinginan dan ambisi pribadi.
Ketika kita berbicara atau bertindak, apakah itu mencerminkan kehendak Tuhan atau hanya pikiran kita semata? Sebagai corong, kita harus memastikan bahwa suara yang keluar adalah suara yang berasal dari Tuhan, sesuai dengan firman-Nya.
Ketiga, Terang yang Menuntun Kehidupan: Yesus tidak hanya datang untuk memberi pengajaran, tetapi untuk menyelamatkan.
Firman-Nya adalah terang yang menuntun kita keluar dari kegelapan. Yesus mengingatkan kita dalam ayat 46, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan tinggal dalam kegelapan.”
Kita tidak hanya dipanggil untuk menerima terang, tetapi untuk menjadi terang bagi orang lain. Namun, ingatlah bahwa terang itu bukan berasal dari kita, tetapi dari Tuhan yang
bekerja di dalam kita.
Kita sebagai corong Tuhan hanya bisa memancarkan terang yang diterima dari-Nya. Kita tidak dapat menciptakan terang itu sendiri. Terang itu adalah kebenaran yang hidup
dalam Yesus Kristus, dan kita hanya menjadi saluran yang menyampaikan terang itu kepada dunia yang gelap.
Keempat, Menjadi Saksi yang Setia: Bagaimana kita bisa menjadi corong yang efektif bagi Tuhan? Dengan hidup yang tunduk dan setia pada firman-Nya.
Kita harus memastikan bahwa hidup kita mencerminkan kasih, kebenaran, dan pengampunan yang Yesus ajarkan. Ketika kita berbicara, mari pastikan bahwa kata-kata kita penuh dengan kasih dan kebenaran.
Ketika kita bertindak, mari pastikan bahwa tindakan kita mencerminkan kehendak Tuhan, bukan ambisi pribadi. Sebagai manusia, kita seringkali merasa ingin menjadi pusat perhatian, ingin dikenal, dan ingin dihargai.
Namun, Yohanes 12:44-50 mengingatkan kita bahwa kita bukanlah pusat dari cerita ini. Kita adalah corong di tangan Tuhan, alat yang dipakai untuk menyampaikan pesan-Nya kepada dunia. Semua yang kita lakukan harus mengarah pada satu tujuan: untuk memuliakan
Tuhan, bukan diri kita sendiri.
Doa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah memilih kami untuk menjadi corong-Mu di dunia ini. Ajarkan kami untuk menjadi alat yang setia, menyampaikan kasih dan kebenaran-Mu kepada orang lain. Jangan biarkan kami berbicara atau bertindak dengan kekuatan kami sendiri, tetapi biarkanlah kami selalu dipimpin oleh firman-Mu. Jadikan hidup kami sebagai terang bagi dunia, yang memancarkan kasih dan kebenaran-Mu... Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Rabu Pekan IV Paskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (Pastor John Lewar SVD)