BANGKAPOS.COM, BANGKA - Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, masih menyimpan jejak masa lalu yang bertahan dalam diam.
Tiga rumah adat berusia ratusan tahun tetap berdiri kokoh dan dihuni, menjadi saksi bisu ketangguhan material serta kearifan konstruksi masyarakat terdahulu.
Ketiga rumah itu dibangun dalam periode yang berdekatan.
Baca juga: Jejak Sejarah di Desa Ranggung, Rumah Ada Berbahan Kayu Berusia Ratusan Tahun Masih Berdiri Kokoh
Meski memiliki bentuk berbeda, semuanya menggunakan kayu nyatoh sebagai bahan utama serta menerapkan teknik sambungan tradisional pelideh, metode kunci antar papan tanpa paku yang membuat struktur rapat dan kuat.
Lokasinya pun tidak berjauhan. Tiga rumah itu hingga saat ini masih ditempati masing-masing ahli waris dari keluarga yang berbeda-beda.
Ada Amrullah, Rosmili, dan Li. Di antara ketiganya, rumah yang ditempati Amrullah bisa dikatakan yang paling terawat keasliannya.
Baca juga: Minim Penetapan Cagar Budaya, Rumah Adat Bangka Belitung Banyak yang Hancur dan Berubah Bentuk
Amrullah juga yang paling tua dibanding dua pemilik rumah lainnya.
Satu hal yang pasti, ketiga rumah itu memiliki tampilan serupa yaitu dindin papan memanjang dan atap limas berbahan genteng tanah liat.
Sedikit perbedaannya, rumah Rosmili tidak memiliki teras depan dan ukurannya relatif lebih pendek.
Beberapa penyesuaian dilakukan tanpa mengubah bentuk utama. Di sisi kanan bangunan, misalnya, telah ditambahkan garasi berbahan baja ringan yang menyatu dengan struktur lama.
“Untuk rumah ini tidak memiliki teras karena masing-masing pemilik punya selera berbeda, menyesuaikan kebutuhan dan fungsi,” ujar tokoh adat setempat, Zainuddin, Jumat (27/4/2026).
Rumah lainnya terletak sekitar dua menit perjalanan dari lokasi tersebut. Hunian milik Li ini memiliki ciri yang sedikit berbeda.
Bagian depan dilengkapi teras memanjang, sementara beberapa tiang penopang telah diganti dengan beton, khususnya di bagian depan hingga tengah bangunan.
Meski begitu, bagian belakang masih mempertahankan konstruksi kayu dengan sistem pasak tradisional.
Sejumlah bagian bangunan mulai menunjukkan tanda usia—atap genteng yang retak dan papan dinding yang perlahan lapuk.
“Rumah ini sudah direnovasi di bagian belakang, tapi bangunan utama tetap tegak dan dindingnya masih utuh,” jelas Zainuddin.
Menurutnya, perbedaan bentuk pada ketiga rumah tersebut mencerminkan kebutuhan serta selera pemilik masing-masing.
Ada yang memiliki teras luas, ada yang lebih sederhana, bahkan tinggi bangunan dan jumlah kamar pun tidak seragam.
“Model rumah berbedabeda. Tergantung kebutuhan pemilik. Tapi secara bahan dan teknik, semuanya hampir sama,” katanya.
Zainuddin menegaskan, keberadaan tiga rumah ini menjadi bukti kemampuan masyarakat masa lalu dalam membangun hunian yang tidak hanya fungsional, tetapi juga tahan terhadap waktu.
“Di Ranggung ini ada tiga rumah yang hampir sama. Dibangun di waktu yang tidak jauh berbeda dan semuanya pakai kayu nyatoh,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan cerita turun-temurun tentang ukuran kayu yang digunakan pada masa itu. Konon, satu rumah bahkan bisa dibangun dari satu batang pohon berukuran besar.
“Orang tua dulu bilang, satu rumah cukup dari satu batang kayu. Bayangkan besarnya seperti apa,” ungkapnya.
Kayu nyatoh dikenal memiliki ketahanan tinggi terhadap cuaca dan serangan rayap, sehingga mampu bertahan hingga ratusan tahun.
Namun kini, material dengan ukuran dan kualitas serupa semakin sulit ditemukan.
“Sekarang kayu sebesar itu hampir tidak ada. Kalaupun ada, sangat mahal,” kata Zainuddin.
Di tengah perubahan zaman, ketiga rumah ini tetap berdiri sebagai warisan yang tidak ternilai.
Meski sebagian telah mengalami renovasi, nilai historis dan teknik pembangunannya masih terasa kuat.
Zainuddin berharap, rumah-rumah tersebut tetap dijaga sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
“Ini bukan sekadar rumah, tapi bukti keahlian orang dulu. Harapannya tetap dilestarikan,” ujarnya.
Senada disampaikan Amrullah, penghuni rumah tertua di antara ketiganya.
Ia berharap bangunan peninggalan keluarganya tetap dipertahankan tanpa banyak perubahan.
“Kalau masih bagus, biarkan seperti ini. Ini warisan orang tua,” tutupnya. (Bangkapos.com/ Erlangga)