Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo
MALTENG, TRIBUNAMBON.COM - Groundbreaking atau peletakan batu pertama Proyek Strategis Nasional (PSN) kelapa dan pala di wilayah Liang Awaya, Kabupaten Maluku Tengah resmi berlangsung, Rabu (29/4/2026).
Hadir pada acara Groundbreaking tersebut Gubernur Maluku dan jajaran, Bupati Maluku Tengah dan jajaran, Direktur Utama PTPN I dan jajaran, serta para Forkopimda Provinsi Maluku dan Forkopimda Maluku Tengah.
Dalam sambutannya, Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas menyatakan bahwa serapan kelapa per hari ditargetkan mencapai 300 ribu butir.
Sementara komoditi pala serapannya ditargetkan mencapai 2.300 ton per tahun.
"Khusus komoditi kelapa, tentu sesuai amanat pemerintah bahwa akan dibangun lima pabrik kelapa yang tersebar, dan dimulai di Maluku dengan kapasitas 300 ribu butir per hari. Pala kapasitas 2.300 ton per tahun," ujar Teddy.
Baca juga: Prakiraan Cuaca di Maluku Rabu 29 April 2026: Sebagian Wilayah Hujan Ringan dan Berawan
Baca juga: Dermaga Feri Airnanang Tak Terawat, Dishub SBT Sebut Terkendala Kewenangan dan Anggaran
Dikatakan, hilirisasi perkebunan yang dilakukan saat ini ialah perwujudan Asta Cita ke-5 presiden yaitu melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah.
"Tentu program hilirisasi serentak seluruh Indonesia diresmikan langsung oleh Presiden melalui sarana daring," ujar Teddy.
Teddy menyampaikan, program hilirisasi fase II adalah program yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah komoditi kelapa dan pala di Indonesia.
Dengan potensi yang cukup besar, maka masyarakat diberikan peluang untuk menyuplai bahan baku baik kelapa ataupun pala.
"Karena kita tahu penghasil kelapa terbesar di dunia ada di Indonesia dan Philipina, dan di Indonesia salah satunya di Maluku. 3 negara penghasil pala terbesar salah satunya ada di Indonesia yaitu di Banda," tukasnya.
Dengan target serapan kelapa 300 ribu kelapa per hari dan ribuan ton pala per tahun, maka ekuivalennya sama dengan 6.500 hektar, dan akan ditingkatkan sesuai bahan baku yang ada.
"Selama ini masyarakat menjual mentah, dan termahal Rp 10 ribu. Namun dengan kehadiran pabrik pengolahan ini masyarakat bisa meningkatkan pendapatan mereka dan kesejahteraan," tandas Teddy. (*)