TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Alunan gending pengiring seni barongan mengalun di seberang Pabrik Gula (PG) Rendeng, Rabu (29/4/2026).
Gending yang ditabuh oleh kelompok seni barongan ini mengawali rangkaian kirab pengantin tebu sebagai penanda awal musim giling tebu di PG Rendeng Kudus.
Di belakang barongan berbaris para lelaki yang mengenakan baju batik. Barisan paling dengan terdapat sepasang lelaki dan perempuan yang mengenakan baju adat Kudus. Keduanya mengenakan baju biru dongker dengan bawahan batik.
Hanya saja yang lelaki mengenakan penutup kepala berupa blangkon sedangkan yang perempuan mengenakan penutup kepala berupa caping kalo.
Persis di belakang pasangan ini terdapat dua pria yang masing-masing membawa tebu yang telah dihias menggunakan janur.
Dua tebu itulah yang kemudian disebut sebagai pengantin tebu. Di belakangnya disusul rangkaian belasan pria berbaju batik yang masing-masing membawa tebu sebagai pengiring pengantin.
Iring-iringan kirab pengantin tebu ini menyita perhatian warga. Mereka yang melintas di jalan raya depan PG Rendeng pun sontak terhenti.
Baca juga: Bukan Demo, Buruh di Kudus Akan Gelar Aksi Bersih-bersih di Balai Jagong Kudus
Beberapa di antaranya mengabadikan momentum tersebut dengan menggunakan gawai mereka.
Satu di antaranya yaitu Faza. Perempuan 23 tahun asal Jepara tersebut terhenti perjalanannya saat melihat rangkaian kirab pengantin tebu.
“Ini pengalaman pertama saya melihat tradisi kirab tebu ini. Saya baru tahu kalau memulai musim giling ternyata ada tradisi pengantin tebu,” kata Faza.
Pelan namun pasti, iring-iringan rombongan pengantin tebu itu pun akhirnya mulai memasuki pelataran PG Rendeng.
Layaknya resepsi pernikahan adat Jawa, rombongan pengantin tebu ini disambut dengan gending kebo giro yang suaranya memenuhi pelataran PG Rendeng.
Dua pengantin tebu itu pun terhenti di halaman PG Rendeng. Manajemen PG Rendeng telah mencegat mereka. Oleh rombongan pembawa tebu pengantin berikut tebu pengiring, tebu tersebut diserahkan kepada manajemen PG Rendeng.
Kali pertama yang diserahkan yaitu tebu pengantin laki-laki. Tebu ini bernama Raden Bagus Langgeng Laksono Wijoyo Bin Sandi Aji Gunawan.
Tebu ini diambil dari kebun rakyat yang ada di Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.
Disusul penyerahan tebu pengantin perempuan yang diberi nama Roro Sri Rahayu Semseming Manis Binti Sugianto yang diambil dari kebun tebu milik PG Rendeng di Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.
“Tebu ini diambil dari kebun kami (PG Rendeng) dengan kebun rakyat. Ini menjadi simbol menyatukan tebu kami dengan tebu rakyat,” kata General Manager PG Rendeng Erwin Fitrihatmoko.
Selepas prosesi penyerahan pengantin tebu kepada manajemen PG Rendeng, tebu-tebu itu pun akhirnya dimasukkan ke dalam mesin giling yang bergerak pelan.
Disusul oleh tebu-tebu pengiring yang juga dimasukkan ke dalam mesin giling oleh para pejabat daerah maupun pejabat PG Rendeng. dengan dimasukkannya pasangan pengantin tebu dan tebu pengiring pengantin ke dalam mesin giling menjadi penanda bahwa musim giling PG Rendeng telah dimulai.
“Pengantin tebu ini merupakan kearifan lokal yang digelar setiap tahun sebagai simbol musim giling di PG Rendeng akan segera dimulai,” kata Erwin.
Penggilingan tebu secara masif oleh pabrik gula yang berada di bawah BUMN tersebut rencananya akan dimulai pertengah bulan Mei 2026 sampai pada lima bulan ke depan. Target mereka bisa menggiling sebanyak 400 ribu ton tebu dengan rendemen sekitar 7 persen.
“Jadi estimasi hasil gulanya nanti sekitar 28 ribu ton sepanjang musim giling tahun ini,” kata Erwin.
Erwin mengatakan, target giling tahun ini lebih besar dibanding dengan tahun sebelumnya. Sebab pada tahun lalu PG Rendeng menggiling tebu sebanyak 328 ribu ton. Tebu-tebu yang digiling di PG Rendeng untuk diolah menjadi gula merupakan tebu dari Kabupaten Kudus, Jepara, Pati, Rembang, dan Blora.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Didik Tri Prasetyo mengatakan, pihaknya berharap dalam musim giling tahun ini rendemen tebu di PG Rendeng bisa maksimal.
Dengan begitu, gula hasil produksinya juga bagus. Sebab, diakuinya pasokan gula di Kabupaten Kudus salah satunya dipasok oleh PG Rendeng. (Goz)