Sekolah Rakyat Nyalakan Asa Aisyah, Putri Penjual Nasi Goreng yang Bercita-cita Jadi Dokter
Content Writer April 29, 2026 03:23 PM

TRIBUNNEWS.COM - Bersekolah pernah terasa seperti kemewahan bagi Aisyah Nur Aini sebelum bergabung dengan sekolah rakyat. Siswi kelas X di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta, Jawa Tengah, itu memang dikenal sebagai anak dari keluarga pekerja keras.

Ayah Aisyah mencari nafkah sebagai tukang loak. Sementara sang ibu, Uti Rahayu, berjualan nasi goreng, mi, dan nasi bandeng di depan rumah. Ketika dagangan sepi, Uti tak berhenti berkeliling mengumpulkan kardus bekas untuk dijual kembali.

Rumah mereka sederhana, terletak di daerah Bororejo Jagalan, Surakarta. Kondisi dindingnya masih berupa batu bata yang belum diplester.

Namun, dari ruang yang sempit itu, tumbuh sesuatu yang besar. Kesempatan masuk sekolah rakyat mengubah ritme hidup Aisyah secara perlahan.

Untuk pertama kalinya, Aisyah bisa belajar tanpa dibayangi kecemasan soal biaya. Ini lantaran seragam, sepatu, makan tiga kali sehari, dan laptop sudah tersedia di sekolah tersebut.

Baca juga: Cek Sekolah Rakyat Permanen Lampung, Gus Ipul: Ditargetkan Siap Beroperasi di Juni

Hal-hal yang bagi sebagian orang biasa, bagi Aisyah merupakan titik balik kehidupannya. Fasilitas yang memadai itu menumbuhkan tekadnya untuk meraih cita-cita.

“Karena di sini fasilitasnya baik dan bisa memenuhi kebutuhan saya, saya ingin mencapai cita-cita saya,” ujar Aisyah dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunnews.com, Rabu (29/4/2026).

Seiring waktu, kepercayaan diri Aisyah mulai tumbuh. Ia berhasil meraih juara 2 bulu tangkis tunggal putri dalam class meeting, sesuai dengan hobinya bermain badminton.

Selain itu, Aisyah juga meraih juara 2 wiru jarik pada peringatan Hari Kartini. Capaian tersebut mungkin bukan prestasi besar di mata dunia, tetapi penting bagi seorang anak yang sedang membangun kepercayaan diri dari nol.

Aisyah yang bercita-cita menjadi dokter juga dikenal sebagai anak yang aktif dan terbuka. Ia mudah bergaul, aktif di Palang Merah Remaja (PMR). Bahkan, dipercaya menjadi delegasi Forum Remaja Palang Merah Indonesia (FORPIS).

Baca juga: Sekolah Rakyat Jangkau Anak Jalanan, Anggota DPR Atalia Praratya Tekankan Aspek Perlindungan Anak

Di kelas, Aisyah menyukai pembelajaran praktik, berani berpendapat, dan mampu bekerja sama dengan teman-temannya. Perubahan tersebut tidak luput dari pandangan sang ibu.

Uti melihat perubahan itu bukan hanya pada prestasi, tetapi juga pada cara Aisyah memandang masa depan. Saat diminta menyampaikan harapan, suaranya tertahan dan kata-katanya terpotong.

Hal tersebut bukan karena Uti tak tahu harus berkata apa, melainkan karena terlalu banyak yang ingin disampaikan. Harapan akan masa depan putrinya begitu besar hingga sulit dirangkai dalam kata.

“Saya berharap, anak saya bisa sukses, bisa membanggakan orang tua,” ucap sang ibu, terbata-bata menahan tangis.

Ia lalu menarik napas, mencoba tegar, dan menyampaikan terima kasih kepada presiden atas kesempatan yang kini dimiliki anaknya.

Baca juga: Program Prioritas Nasional, Wamensos Agus Jabo Dorong Percepatan Sekolah Rakyat di Balikpapan

“Terima kasih Pak Presiden. Anak saya bisa sekolah. Saya sangat senang, bangga, bersyukur,” ungkapnya.

Kini, Aisyah belajar lebih serius dan berlatih lebih disiplin. Ia menyadari bahwa fasilitas hanya membuka pintu, sementara yang menentukan adalah seberapa keras ia melangkah masuk.

“Setelah saya sekolah di sini, saya ingin menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan orang tua,” kata Aisyah.

Kalimat tersebut bukan sekadar harapan, melainkan sebuah janji. Janji yang lahir dari dapur kecil yang panasnya tak pernah benar-benar hilang, dari tangan ibu yang terus bekerja bahkan saat lelah, serta dari kardus-kardus bekas yang dikumpulkan satu per satu untuk menutup kekurangan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.