TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencapai titik kritis setelah operasi laut terbaru yang mengejutkan dunia.
Militer AS dilaporkan melakukan penggeledahan terhadap kapal yang diduga memiliki keterkaitan dengan Iran di jalur strategis internasional.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya memperketat blokade maritim yang selama ini diberlakukan Washington terhadap Teheran.
Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya aktivitas militer di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global.
Dalam beberapa pekan terakhir, AS bahkan telah mencegat dan mengalihkan sejumlah kapal tanker Iran dari berbagai perairan Asia.
Situasi semakin memanas setelah sebelumnya AS juga menyita kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade, memicu ancaman balasan dari Teheran.
Sebagai respons, Iran meningkatkan aktivitas militernya, termasuk penahanan kapal asing dan klaim serangan terhadap target di laut.
Aksi saling balas ini menandai eskalasi konflik terbuka yang berpotensi meluas menjadi konfrontasi militer lebih besar.
Ketegangan yang terus meningkat ini pun memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan dan pasokan energi dunia.
Baca juga: Pernyataan Terbaru Donald Trump, Sebut Iran Sedang Runtuh, AS Didesak Segera Buka Selat Hormuz
Seperti diketahui, Marinir Amerika Serikat menaiki sebuah kapal dagang di Laut Arab pada Selasa (28/4/2026) yang diduga mencoba melanggar blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Setelah melakukan pemeriksaan, AS melepaskan kapal itu kembali.
"Kapal M/V Blue Star III dibebaskan oleh pasukan AS setelah melakukan pencarian dan memastikan bahwa pelayaran kapal tersebut tidak akan mencakup singgah di pelabuhan Iran," kata Komando Pusat AS dalam sebuah unggahan di X, dikutip dari AFP, Rabu (29/4/2026).
"Pasukan AS terus beroperasi dan menegakkan blokade di seluruh Timur Tengah. Sejauh ini, 39 kapal telah dialihkan untuk memastikan kepatuhan," tambah komando militer tersebut.
Unggahan tersebut menyertakan klip video yang menunjukkan sebuah helikopter melayang di atas kapal.
Marinir kemudian turun menggunakan tali ke kontainer pengiriman yang ditumpuk di deknya.
Pasukan Teheran secara efektif menutup jalur air vital Selat Hormuz, setelah dimulainya serangan udara AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
AS mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah perundingan perdamaian di Pakistan gagal mencapai terobosan.
Awal bulan ini, Kepala Pentagon Pete Hegseth mengatakan bahwa blokade akan berlangsung selama diperlukan.
Sementara, Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine menyebut blokade tersebut berlaku untuk semua kapal, tanpa memandang kewarganegaraan, yang menuju atau berangkat dari pelabuhan Iran.
Saat ini, Iran dan Amerika Serikat berusaha mencari kesepakatan bersama untuk menyelesaikan perang di tengah masa gencatan senjata.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi pun bertolak ke Rusia di tengah ketidakpastian negosiasi dengan AS yang belum membuahkan hasil konkret.
Setibanya di St Petersburg pada Senin (27/4/2026), Araghchi menyatakan, negosiasi sebelumnya gagal mencapai tujuan meskipun sempat menunjukkan kemajuan.
Ia menuding tuntutan AS yang berlebihan sebagai penyebab utama kebuntuan tersebut.
Muncul spekulasi bahwa pertemuan di Rusia dapat membantu menghidupkan kembali upaya damai Iran.
Selain itu, isu blokade Selat Hormuz yang vital bagi ekspor energi global juga menjadi perhatian utama.
Ali Vaez dari International Crisis Group menilai peran Rusia tidak otomatis menjadi solusi.
“Putin sebelumnya telah menawarkan bantuan, tetapi tidak berhasil karena berbagai alasan. Yang dibutuhkan bukanlah kiat menghadapi Trump, melainkan fleksibilitas dari kedua belah pihak,” katanya, seperti dikutip Newsweek.
Vaez juga menekankan, Rusia bisa memainkan peran penting dalam penyelesaian isu Selat Hormuz yang memerlukan pengakuan internasional.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)