Sukses Juara FLSSN Kalsel, Begini Kisah di Balik Dua Penari Tunarungu SLBN 2 Banjarmasin
Ratino Taufik April 29, 2026 04:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Dua penari perempuan bergantian menekuk tubuh, mengangkat kaki, lalu bertumpu pada kedua tangan di atas karpet merah yang membentang di lapangan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 2 Banjarmasin, Rabu (29/4/2026).

Dari posisi rendah, mereka kembali berdiri, membuka tangan lebar, kemudian beralih ke rangkaian gerak berikutnya.

Di kiri dan kanan lintasan, siswa berseragam hijau duduk berderet di kursi plastik biru. Sejumlah guru dan orang tua ikut menyaksikan, sebagian juga merekam menggunakan telepon genggan.

Di ujung lapangan, panggung kecil dengan latar spanduk “GEMPITA 7.0” menjadi penanda peringatan HUT ke-7 sekolah yang berlokasi di Jalan Dharma Praja Banjarmasin tersebut.

Musik mengalun dari pengeras suara. Namun, bagi para penari yang merupakan siswa tunarungu, irama itu bukan menjadi penanda utama.

Beberapa kali, pandangan mereka mengarah ke sisi lapanhan, mengikuti aba-aba pelatih untuk menjaga urutan gerakan tetap sesuai.

Tarian yang dibawakan berjudul “Belenggang Pijaiya”. Rangkaian geraknya disusun mengikuti alur cerita yang dekat dengan keseharian siswa di SLB.

Guru pendamping ekstrakurikuler tari, Indah Permata Sari mengatakan, ide tarian ini berangkat dari pengalaman siswa yang kerap mengalami kesulitan saat diminta belajar mengaji.

“Tarian ini menceritakan anak-anak yang awalnya kesulitan belajar mengaji. Melalui kebiasaan, akhirnya mereka bisa mengikuti sampai menjadi bagian dari kehidupan mereka,” ujarnya.

Baca juga: SDN Binjai Punggal Balangan Disegel, Buntut Kesepakatan Tidak Terealisasi 

Dalam alur tari, bagian awal menggambarkan situasi ketika anak-anak belum terbiasa. Hal itu ditunjukkan melalui gerakan yang lebih terputus dan berpindah cepat.

Pada bagian tengah, pola gerak mulai berulang, mencerminkan proses kebiasaan.

Sementara di bagian akhir, gerakan menjadi lebih teratur sebagai penanda bahwa kebiasaan tersebut telah dijalani.

Menurut Indah, pendekatan itu sengaja dipilih agar pesan dapat disampaikan melalui gerakan yang sederhana dan mudah diingat oleh penari.

“Kami garap sekitar satu bulan. Murni dari sini, untuk lomba sekaligus untuk peningkatan karakter anak melalui nilai ketuhanan,” katanya.

Penampilan ini bukan hanya bagian dari peringatan ulang tahun sekolah.

Tarian yang sama sebelumnya telah mengantarkan tim ini meraih juara pertama tingkat Provinsi Kalimantan Selatan dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLSSN).

Proses menuju capaian tersebut tidak lepas dari metode latihan yang disesuaikan dengan kondisi siswa. Tanpa kemampuan mendengar, penari mengandalkan instruksi visual serta daya ingat untuk memahami urutan gerakan.

“Mereka melihat aba-aba pelatih. Jadi mengingat urutan, setelah itu apa, lalu apa. Itu yang dilatih terus,” ujar Indah.

Dia menambahkan, sebagian siswa hanya dapat merasakan getaran musik, meski tidak cukup jelas untuk menjaid acuan tempo. Oleh sebab itu, pengulangan menjadi bagian penting dalam latihan.

“Kadang mereka bingung bagian mana, jadi mengandalkan kognitif,” katanya.

Ke depan, tim tari ini dijadwalkan melanjutkan penampilan ke tingkat nasional yang rencananya digelar secara daring pada pertengahan Juli tahun ini.

Indah mengatakan, koreografi akan diperbaiki berdasarkan masuk juri sebelumnya.

“Untuk nasional nanti kemungkinan dalam bentuk video. Akan kami garap ulang dan diperbaiki lagi,” ujar Indah.

Pertunjukkan tari tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk menampilkan capaian yang telah diraih. Kepala SLBN 2 Banjarmasin, Sofyan Feriadi menyebut, siswa yang tampil memang telah melalui proses pembinaan.

“Yang tampil tadi, khususnya menari, itu sudah pernah juara di tingkat provinsi. Kebetulan FLS2N, mereka juara satu,” ujarnya.

Menurut Sofyan, pembinaan dilakukan secara rutin oleh sekolah dengan melibatkan pelatih dari luar.

“Latihan dilakukan seminggu sekali, dan kita juga mengundang pelatih profesional,” katanya.

Ia menambahkan, penampilan dalam peringatan HUT ini sengaja menghadirkan karya siswa sebagai baguan dari proses pembelajaran yang ditunjukkan ke publik.

“Hari ini kita juga menampilkan berbagai karya siswa, termasuk bazar. Ini sebagai wadah berekspresi dan hasil dari proses pembelajaran. Mereka juga diajarkan berwirausaha,” ujarnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.