Balita Tewas Digigit Kawanan Anjing, Tangisannya Tak Terdengar karena Hujan Deras, Ini Kronologinya
Murhan April 29, 2026 03:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seorang bocah berusia empat tahun bernama Ni Made Sukma Diatmika mengalami nasib tragis.

Dia tewas digigit tiga ekor anjing liar di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. 

Balita malang tersebut meninggal dunia diduga akibat serangan kawanan anjing liar pada Senin (27/4/2026).

Korban yang merupakan warga Banjar Ulun Danu tersebut mengalami luka robek serius di bagian leher dan wajah. 

Luka tersebut menyebabkan perdarahan masif hingga nyawanya tidak tertolong meski sempat dilarikan ke rumah sakit.

Kronologi Kejadian di Jalur Pendakian Gunung Batur

Peristiwa memilukan ini terjadi di depan warung milik ibu korban yang berada di jalur pendakian Gunung Batur. Lokasi tersebut dikenal sebagai kawasan yang cukup sepi dari aktivitas warga.

Baca juga: Mesin Kapal Mati, Empat Pemancing Terombang-ambing di Perairan Kenyamukan

Plt Kepala Dinas Kesehatan Bangli, I Dewa Gede Oka Darsana, menjelaskan bahwa insiden bermula sekitar pukul 16.30 Wita. 

Saat itu, korban baru saja selesai dimandikan oleh ibunya dan langsung pergi bermain ke depan warung.

"Pasien sehabis dimandikan oleh ibunya main di depan warung, dan ditinggal mandi oleh ibunya sekitar 10 menit. Sehabis mandi, ibunya sudah melihat anaknya terkapar di depan warung yang saat itu sudah ada anjing di sampingnya," ujar Oka Darsana saat dikonfirmasi, Selasa (28/4/2026).

Diduga kuat, saat serangan terjadi korban sempat berteriak meminta pertolongan.

Namun, suara tangisan tersebut tidak terdengar oleh sang ibu maupun warga sekitar karena kondisi cuaca di lokasi sedang dilanda hujan sangat deras.

Dugaan Serangan Tiga Ekor Anjing Liar

Informasi mengenai jumlah anjing yang menyerang disampaikan oleh kerabat korban, I Nyoman Muliawan. 

Berdasarkan keterangan saksi yang melihat, korban diduga dikerubungi oleh sekitar tiga ekor anjing liar.

“Katanya ada yang melihat ada sekitar 3 ekor yang mengerubuti korban. Salah satu bulunya dilihat warna putih,” ungkap Muliawan dengan nada sedih.

Anak bungsu dari lima bersaudara ini ditemukan dalam kondisi kritis sebelum akhirnya segera dilarikan ke Puskesmas Kintamani V dan dirujuk ke RSUD Bangli.

Pernyataan Medis RSUD Bangli

Kondisi kesehatan korban terus menurun selama perjalanan menuju rumah sakit. 

Tim medis di IGD RSUD Bangli sempat berupaya melakukan tindakan resusitasi jantung, namun kondisi korban sudah terlalu lemah.

“Tiba di IGD RSUD Bangli pukul 18.05 Wita, kondisi pasien sangat lemah, tidak sadar, nadi sangat lemah, dan mengalami henti jantung,” kata Oka Darsana menjelaskan kondisi medis pasien.

Pihak medis akhirnya menyatakan pasien meninggal dunia pada pukul 18.20 Wita. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya luka robek luas akibat gigitan hewan di area leher dan wajah yang memicu perdarahan masif. Jenazah korban kini telah dimakamkan di Setra Desa Songan pada Senin malam pukul 22.00 Wita.

Respons Pemerintah: Eliminasi dan Vaksinasi Massal

Menanggapi keresahan warga terkait teror anjing liar, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP2) Bangli bersama Dinas Kesehatan langsung turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan.

Hingga Selasa (28/4/2026), petugas telah melakukan eliminasi terbatas terhadap sembilan ekor anjing liar di sekitar rumah duka atas permintaan masyarakat. Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma, menyebutkan langkah ini diambil untuk menjaga keamanan warga.

“Tidak ada indikasi rabies. Eliminasi dilakukan atas permintaan masyarakat untuk mengurangi risiko penularan rabies dan gangguan keamanan,” tegas Wayan Sarma.

Update Kasus Gigitan Anjing di Buleleng

Selain di Bangli, penanganan kasus gigitan anjing juga tengah gencar dilakukan di Kelurahan Banyuning, Kabupaten Buleleng. Pasca adanya 19 orang korban gigitan, petugas telah menyuntikkan vaksin anti-rabies (VAR) terhadap 147 hewan penular rabies (HPR) yang terdiri dari anjing dan kucing secara door to door.

Kasi Pemerintahan Kelurahan Banyuning, Putu Novi Mahendra, menyatakan bahwa vaksinasi difokuskan pada area pasar dan pemukiman padat untuk menekan risiko penularan virus rabies di masyarakat.

Pemerintah setempat mengimbau kepada seluruh orang tua agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama saat berada di area yang banyak terdapat populasi anjing liar.

Cara Menyelamatkan Diri dari Serangan Anjing Liar

Rabies (penyakit anjing gila) belakangan ini menjadi masalah darurat bagi masyarakat Indonesia.

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), terdapat 31.113 kasus gigitan hewan rabies, 23.211 kasus gigitan yang sudah mendapatkan vaksin antirabies, dan 11 kasus kematian hingga April 2023.

Gigitan anjing menjadi penyebab mayoritas penularan virus rabies kepada manusia.

Orang yang tergigit anjing rabies harus segera mencuci luka dengan sabun/detergen dan air mengalir selama 15 menit, serta memberikan antiseptik atau sejenisnya.

Selanjutnya, harus segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR).

Saat bertemu dengan anjing liar, lakukan hal berikut untuk menyelamatkan diri dan mencegah tergigit:

1. Jangan lari

Menurut organisasi Four Paws, jangan pernah lari dari anjing peliharaan maupun anjing liar saat bertemu di jalan. Melarikan diri justru memicu insting berburu anjing.

Lebih baik, berjalan mundur untuk menjauhinya. Jika sedang berkendara, berhentilah dan tunggu sampai anjing itu pergi.

2. Jangan mendekat rombongan anjing

Anjing adalah hewan yang cenderung tinggal berkelompok dan saling melindungi. Jika melihat sekelompok anjing, jangan mendekat.

Bersikaplah tenang dan lebih perlahan. Jangan melakukan gerakan tiba-tiba, berteriak atau lari, serta jaga lengan dekat dengan tubuh.

3. Bersikap lembut

Orang yang bertindak dominan dengan cara menatap balik anjing, berteriak, melambaikan tangan, atau langsung menantangnya justru akan mengancam hewan berbulu ini.

Daripada memicu kemarahan anjing,  menghindari kontak mata, berdiri menyamping, berjongkok, dan membiarkan mereka mengendus sekitar akan lebih baik.

4. Minta bantuan sekitar

Jika benar-benar merasa terancam dan tidak bisa mengelak, mintalah bantuan orang atau penduduk sekitar.

Anjing akan merespons orang yang sering berada di sekitar dan dikenalnya dengan lebih baik.

5. Pura-pura ambil batu

Jongkok dan berpura-pura mengambil batu akan membuat anjing takut dan melarikan diri.

Namun, jangan pernah benar-benar melempar apa pun ke anjing.

6. Pakai penghalang

Jika ada tas punggung, jaket, pohon, kursi, atau tempat sampah di sekitar tempat bertemu anjing, letakkan di depan tubuh antara diri Anda sendiri dan anjing.

Ini akan bertindak sebagai penghalang dan mencegah anjing terlalu dekat.

7. Gunakan suara keras

Jika anjing terus mendekati meskipun sudah mundur dan tidak mengancamnya, bersuaralah yang keras untuk menakutinya.

Anjing akan terkejut mendengar suara tegas dan keras sehingga pergi.

8. Bertahan diri

News18 menambahkan, gunakan benda apa pun untuk melindungi diri, termasuk menggunakan tongkat atau payung untuk menangkis anjing.

Jangan menggunakan tenaga yang berlebihan karena hal ini dapat membuat anjing semakin gelisah.

9. Jangan dekat dengan anjing makan

Menurut Mirchi , jika melihat anjing yang sedang makan, hindari mendekatinya. Ini mungkin berisiko karena anjing sangat posesif terhadap makanan.

Berikan anjing tempat yang luas dan tunggu sampai selesai makan sebelum mendekatinya.

10. Kenakan pelindung

Pakaian pelindung bermanfaat membantu melindungi kulit dari gigitan anjing bahkan serangga.

Lakukan untuk menggunakan sarung tangan dan masker wajah jika Anda berada di area yang terdapat rabies.

Jika tinggal di daerah yang banyak kasus rabies, mintalah vaksin rabies ke puskesmas atau dokter.

(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.