TRIBUNJAKARTA.COM, CIPAYUNG - Sri Lestari (58) harus merelakan kepergian putrinya, Harum Anjasari (27) yang tewas dalam kecelakaan kereta KRL dengan KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek.
Harum meninggal dunia saat dalam perjalanan pulang menaiki KRL dari tempat kerjanya di kawasan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat ke rumahnya di Tambun, Bekasi.
Tak mudah bagi Sri mengikhlaskan putrinya karena semasa hidup Harum merupakan sosok anak pekerja keras dan berbakti kepada kedua orangtua, namun Sri tetap berupaya tegar.
Saat proses pemakaman di TPU Cipayung, Jakarta Timur Sri selama beberapa saat tampak mendekap erat, dan mencium bingkai foto Harum yang ditempatkan di dekat nisan.
"Dari umur 19 tahun memang sudah bekerja. Hebat, saya salut sama dia. Dia memang niatnya mau membahagiakan mamah sama ayahnya," kata Sri di Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026).
Meski berat mengikhlaskan, tapi Sri tetap berupaya menenangkan kedua anak laki-laki Harum berusia sekitar 10 tahun dan 3 tahun yang hadir saat pemakaman di TPU Cipayung.
Sementara suami Harum, Radit tampak berulang kali menyeka air matanya karena tak kuasa menahan tangis sejak peti jenazah mendiang istrinya dikebumikan ke liang lahad.
Di mata keluarga, Harum merupakan pribadi yang baik sehingga mereka tidak menyangka Harum termasuk dalam daftar 16 korban jiwa kecelakaan KRL dengan KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek.
"Saya dapat kabar duka jam 22.00 WIB dari suaminya, Harum. Suaminya bilang kalau Harum ada di kereta, di gerbong kereta yang sedang kecelakaan. Langsung kami menyebar, mencari Harum," ujar Sri.