SURYA.CO.ID SURABAYA - Rombongan jemaah haji Kloter 2 Embarkasi Surabaya mengalami kecelakaan di Jabal Maghnit, Arab Saudi.
Bus yang membawa rombongan jemaah haji asal Kabupaten Probolinggo itu ringsek bagian depan.
Saat dikonfirmasi, Kepal PPIH Embarkasi Surabaya Asadul Anam menjelaskan bahwa rombongan yang terlibat kecelakaan tersebut hendak ziarah ke percetakan dan perpustakaan Al-Qur'an.
Anam juga menyampaikan bahwa ada lima jemaah Embarkasi Surabaya menjadi korban insiden kecelakaan bus jemaah haji tersebut.
"Tapi semua luka ringan. Alhamdulillah tidak ada korban serius," kata Anam.
Baca juga: Kabar Duka Haji 2026, Jemaah Pasuruan Wafat di Tanah Suci Karena Gangguan Napas
Hanya sopir luka berat. Dua dari lima korban kecelakaan itu sempat dibawa ke Rumah Sakit Arab Saudi.
Namun kondisinya juga sudah baik. Meski begitu mereka harus menunggu dokumen laporan medis resmi baru bisa bergabung kembali dengan kelompoknya.
Tiga penumpang terluka akibat terkena serpihan kaca bus. Karena luka ringan hanya ditangani di klinik haji di sana. Sedangkan dua orang lainnya dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Tiga jemaah yang terkena serpihan kaca itu adalah Abdul Hamid, Suharto, dan Tingyo Yudiko. Ketiganya sudah ditangani.
Dua orang lainnya yang dalam pantauan medis lebih lanjut adalah Siti Sugihartini dan Siti Aisyah. Keduanya dibawa ke rumah sakit untuk memastikan tidak ada luka dalam.
Baca juga: Ibadah Haji 2026, Dua CJH asal Malang dan Pasuruan Tunda Berangkat Karena Sakit
"Namun hasilnya memang aman. Hanya saja karena pemeriksaannya dilakukan di rumah sakit resmi, maka dibutuhkan dokumen laporan sebelum mereka kembali,” katanya.
City Tour Rombongan yang kecelakaan itu saat jemaah haji asal Probolinggo menggelat kegiatan ziarah atau city tour melintasi kawasan Jabal Magnet, barat laut Kota Madinah, Arab Saudi.
Anam menyebut bahwa kegiatan ziarah sperti itu diselenggarakan secara terpisah oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) asal Probolinggo.
Semua jemaah yang terluka saat ini kondisinyasudah membaik. Beberapa orang yang terluka sebagian sudah diperbolehkan kembali ke tempat pemondokan.
Penyelenggara kegiatan maupun jemaah diminta menyesuaikan waktu ziarah dengan ibadah karena waktu di Madinah sangat terbatas karena terikat dengan jadwal ibadah salat, sehingga kegiatan perjalanan tidak perlu dilakukan terlalu jauh.
“Atas insiden tersebut, setiap penyelenggara kegiatan ziarah harus lebih berhati-hati dan waspada. Ke Tanah Suci untuk beribadah. Arbain di Madinah lebih penting. Jadi tidak perlu melakukan perjalanan yang terlalu jauh," tandas Anam.
Anam mengaku lokasi Jabal Magnet sendiri sudah berada di luar kawasan tanah haram. Untuk itu jarak ini salah satu pertimbangan untuk mengevaluasi rute perjalanan yang dipilih oleh KBIH penyelenggara.