BANJARMASINPOST.CO.ID - Perang di Timur Tengah menjadi isu geopolitik yang berpengaruh besar terhadap perkembangan investasi di pasar modal tanah air.
Diakui Kepala Perwakilan Cabang Bursa Efek Indonesia (BEI) kalsel Yuniar, tekanan besar (geopolitik) ini berdampak luas terhadap investor, seperti halnya penarikan dana oleh investor asing yang memberikan tekanan terhadap pasar saham.
"Namun ada harapan bagi investor lokal. Kita cermati dan cari peluang. Dalam kondisi apapun, penurunan (harga saham) ini membuka kesempatan untuk memiliki saham under value atau di bawah harga wajar," kata Yuniar, Rabu (29/4/2026).
Maksudnya, saham-saham bagus yang turun harga itu jika kita beli maka saat terjadi pemulihan maka akan ada peningkatan keuntungan yang signifikan.
"Geopolitik menjadi perhatian semua negara. Harapan kita kondisi ini tidak berlarut-larut. Tapi kita juga ada semangat, kita dorong investor membeli saham-saham bagus yang berpotensi menguntungkan (saat kondisi pulih)," jelas Yuniar.
Disampaikan Kintan Sari, selaku Galery Management Korea Investment & Securitas Indonesia di Kalsel, sentimen negatif terjadi karena pelemahan rupiah terhadap Dolar AS berpotensi menggerus margin laba emiten farmasi yang bergantung pada impor bahan baku dari China dan Amerika Serikat.
Baca juga: Angin Kencang Terjang Desa Bumi Harapan Tanahlaut, Atap Rumah Warga Berterbangan
"Sektor health merupakan sektor defensif dan menarik bagi investor jangka panjang karena permintaan layanan medis yang stabil," katanya.
Adapun perkembangan sektor teknologi, terjadi sentimen cukup dalam karena aliran modal keluar akibat investor panik sebagai dampak ketegangan geopolitik.
"Perang juga membuat gangguan rantai pasok komponen teknologi global yang menaikan biaya produksi, sehingga terjadi penurunan laba bersih emiten teknologi yang memicu penurunan harga saham mereka," kelas Kintan.
Suku bunga tinggi umumnya merugikan sektor teknologi yang seringkali mengandalkan modal pertumbuhan. Meski demikian sektor teknologi kemungkinan menjadi salah satu yang pertama pulih (rebound) paling tinggi ketika pasar mulai merespon positif upaya gencatan senjata atau meredanya tensi.
Saat ini, kata Kintan, yang bisa dilakukan adalah wait and see, karena pelemahan rupiah jua memberi dampak besar, dan semoga ada perkembangan membaik.
"Tujuan investasi saham adalah jangka panjang dan saham yang kita beli juga sudah dicek fundamentalnya kuat. Jadi tak perlu perlu panik. Berbeda dengan tujuan jangka pendek, harus sering perhatikan pasar dan lebih baik jual dulu, baru kemudian masuk pasar lagi saat ada perbaikan kondisi," tandasnya. (banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)