Alat Operasional Pelabuhan Tanjung Priok Mulai Dialihkan ke Tenaga Listrik Imbas Kenaikan Harga BBM
Jaisy Rahman Tohir April 29, 2026 08:54 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax Turbo dan Dexlite mulai berdampak pada operasional di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Untuk menekan biaya operasional, pengelola pelabuhan mulai melakukan langkah efisiensi dengan mengganti sejumlah alat operasional berbahan bakar solar menjadi alat bertenaga listrik.

Pantauan di lokasi pada Rabu (29/4/2026) siang, aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok terlihat tetap berjalan normal meski terjadi kenaikan harga BBM non-subsidi dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, di balik aktivitas tersebut, pengelola pelabuhan mulai menyiapkan strategi jangka panjang untuk menjaga efisiensi operasional.

Salah satunya melalui program elektrifikasi alat berat dan alat pendukung operasional.

Langkah ini diterapkan terutama pada alat operasional non-peti kemas, seperti forklift, truk pengangkut, serta alat bongkar muat lainnya yang sebelumnya menggunakan bahan bakar solar.

Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP), Dwi Rahmad Toto Sugiarto mengatakan, kenaikan harga BBM memang dirasakan dalam operasional pelabuhan, namun dampaknya masih dapat dikendalikan.

"Jadi memang kalau di operasional pasti terasa, tapi kita sedang mengkaji dampak secara korporat secara keseluruhan," ujar Dwi di lokasi.

Selain sebagai solusi atas kenaikan harga BBM, peralihan ke alat berbasis listrik juga bertujuan untuk mengurangi emisi karbon di kawasan pelabuhan.

Program ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan konsep pelabuhan ramah lingkungan atau Green Port.

Dwi menjelaskan saat ini sebagian alat berat di pelabuhan sudah mulai menggunakan tenaga listrik.

Dari total sembilan unit crane yang dimiliki, tujuh di antaranya telah selesai menjalani proses elektrifikasi.

"Ya, kita akan mengarah ke elektrifikasi. Itu bagian dari program Green Port Pelindo secara keseluruhan ya, seperti itu, untuk mengurangi emisi dan lain-lain," katanya.

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada kenaikan tarif layanan pelabuhan meski terjadi kenaikan harga BBM non-subsidi.

"Belum. Belum ada. Sampai saat ini belum ada kenaikan tarif kita," ujarnya.

Proses penggantian alat berbahan bakar minyak ke tenaga listrik dilakukan secara bertahap.

Pengelola menargetkan seluruh alat operasional non-peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok dapat beralih menggunakan tenaga listrik dalam beberapa tahun ke depan.

Langkah tersebut diharapkan mampu menekan biaya operasional sekaligus mendukung program pemerintah dalam menciptakan pelabuhan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Capaian Triwulan Pertama 2026

Di kesempatan yang sama, Toto mengungkapkan bahwa PTP Nonpetikemas terus memperkuat perannya sebagai operator terminal multipurpose dalam mendukung kelancaran arus logistik nasional.

Pada Triwulan I 2026, total throughput nonpetikemas tercatat sebesar 12,84 juta ton, dengan komposisi didominasi curah kering sebesar 46 persen, diikuti curah cair 25 persen, general cargo 24 persen, dan bag cargo 5 persen.

Segmen curah cair mencatat pertumbuhan paling signifikan dengan realisasi 3,09 juta ton, atau naik 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, curah kering sebagai tulang punggung operasional mencatat realisasi 5,76 juta ton, sedangkan general cargo mencapai 2,92 juta ton dan bag cargo sebesar 656 ribu ton.

PTP Nonpetikemas optimistis berbagai inovasi dan transformasi yang dilakukan dapat memperkuat perannya sebagai mitra logistik nasional serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.