SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Pemerintah Gampong Tanjong, Kemukiman Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, menggelar prosesi peusijuek (tepung tawar) sekaligus pelepasan 10 Jamaah Calon Haji (CJH) di Masjid Assajidin, Kompleks Dolog, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan ini merupakan tradisi adat Aceh yang sarat nilai religius, sebagai bentuk doa, restu, dan harapan keselamatan bagi warga yang akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Prosesi yang digelar berlangsung khidmat dan dihadiri Aparatur Gampong, tokoh masyarakat, keluarga jamaah, serta warga setempat.
Momentum tersebut juga sebagai ajang silaturahmi dan doa bersama agar para JCH dapat menjalankan ibadah dengan lancar sehingga kembali ke tanah air memperoleh predikat mabrur.
Baca juga: VIDEO - 247 Jamaah Haji Aceh Timur Dipeusijuk di Masjid Agung Darussalihin
Peusijuek yang dirangkai dengan tausiah agama dipimpin oleh Imum Syik Masjid Assajidin, Prof. Dr. Drs. Tgk. H. Muchsin Nya’ Umar, S. Hi, MA dalam prosesi tersebut, beliau memanjatkan doa keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi para jamaah.
Tradisi tepung tawar kemudian dilaksanakan oleh Geuchik Gampong Tanjong, Akmalul Hakim, S.Pd.I., bersama tokoh masyarakat sebagai simbol penghormatan dan harapan keberkahan serta kebaikan.
Dalam sambutannya, Keuchik Akmal menitipkan beberapa pesan kepada para JCH Ikhlaskan niat, tinggalkan segala urusan duniawi dibatas gerbang Gampong Tanjong, serahkan semua kepada Allah, jaga serta rawat kebersamaan.
Selain itu, Keuchik juga berpesan agar jamaah selalu sabar dan menjaga kesehatan, karena ibadah haji merupakan ibadah fisik sehingga seluruh JCH Gampong Tanjong bisa menjalankan seluruh rangkaian pelaksanaan rukun ibadah haji dengan sempurna.
Ia mengingatkan bahwa para jamaah membawa nama Gampong Tanjong, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh hingga nama negara.
"Ikuti arahan petugas, baik dari ketua kloter, ketua rombongan hingga ketua regu tunjukkan jati diri sikap etika dan Akhlak yang baik selama menjalankan ibadah haji mulai dari keberangkatan hingga kembali ketanah air keoangkuan keluarga dengan predikat mabrur,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat telah saling memaafkan atas segala salah dan khilaf.
Selain itu, pihaknya berharap para jamaah juga turut ikut mendoakan warga Gampong Tanjong agar senantiasa diberikan keselamatan, kemakmuran dan ketentraman Gampong Tanjong agar selalu dalam lindungan ridha Allah swt.
Baca juga: Darwati Minta Kasus Kekerasan Bayi di Banda Aceh Harus jadi Perhatian Serius
Sementara itu, salah seorang JCH, Hasan Basri, mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan berhaji yang dinilainya sebagai panggilan Allah SWT.
Ia mengaku telah menunggu sejak 2012 dengan masa tunggu sekitar 14 tahun.
“Ini adalah panggilan Allah. Kami yakin dengan doa masyarakat, ibadah ini dapat kami jalankan dengan baik,” katanya.
Dalam tausiahnya, Prof. Tgk. H. Muchsin Nya’ Umar menekankan bahwa ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang menuntut keikhlasan dan kesabaran.
Jamaah diingatkan untuk meluruskan niat, menjaga adab, serta memahami makna setiap rangkaian ibadah seperti ihram, tawaf, dan tahallul sebagai bentuk penyucian diri.
Sebanyak 10 CJH asal Gampong Tanjong akan bergabung dengan 535 jamaah haji dari Aceh Besar dan Banda Aceh dalam satu kelompok terbang (kloter).
Baca juga: Jamaah Haji Aceh Diimbau Jaga Kesehatan dan Matangkan Manasik
Mereka dijadwalkan masuk Asrama Haji sebelum diberangkatkan ke Makkah.
Mengutip panitia penyelenggara haji Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, Drs. Nanang Syaifuddin, M.M., total rombongan mencapai 561 orang, terdiri dari 535 jamaah dan sekitar 15 petugas haji.
Sepuluh CJH asal Tanjong termasuk dalam bagian dari 535 jamaah asal Aceh Besar.
Baca juga: Puasa Arafah, Jangan Lewatkan, Ini Lima Keutamaan Salah Satunya Menghapus Dosa 2 Tahun
“Kloter pertama akan masuk asrama pada 5 Mei 2026 pukul 07.00 WIB, dan kloter berikutnya menyusul sesuai jadwal,” jelasnya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama serta prosesi saling bermaafan antara jamaah dan masyarakat.
Tradisi ini tidak hanya menjadi seremoni pelepasan, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai silarurrahmi, religius dan kearifan lokal dalam mempererat solidaritas sosial masyarakat Aceh.(*)